Waspada
Waspada » 25 Orang Meninggal Dunia 309 Positif, Pemerintah Siapkan Skrining Massal
Headlines

25 Orang Meninggal Dunia 309 Positif, Pemerintah Siapkan Skrining Massal

JAKARTA (Waspada): Rencana untuk mengadakan skrining massal telah dipersiapkan pemerintah. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan screening secara massal sehingga membantu dalam penanganan potensi penyebaran Covid-19.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, kasus baru Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terus bertambah. Sampai Kamis (19/3) pukul 12.00 WIB, sudah ada penambahan 82 kasus baru menjadi 309 orang. Jumlah yang meninggalpun bertambah dari 19 orang menjadi 25 orang.

“Penambahan kasus tertinggi terjadi di wilayah DKI Jakarta dengan 52 kasus baru, sedangkan jumlah pasien sembuh 15 orang dan meninggal dunia 25 orang,” kata Yurianto dalam keterangan pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (19/3).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 akan memberlakukan pemeriksaan massal untuk lebih memahami penyebaran virus ini. Pihaknya, lanjut Yuriantoi masih mempersiapkan pelaksanaan dengan rapid test dalam waktu dekat.

Yurianto menyampaikan bahwa skrining massal dengan metode imunoglobulin atau pengukuran antibodi di dalam sampel darah ini juga dilakukan oleh banyak negara terdampak virus Corona.

Apabila dinyatakan positif, individu yang telah melakukan skrining melalui pendekatan ini akan diuji ulang dengan metode tes polymerase chain reaction (PCR) yang jauh lebih akurat.

Sehubungan dengan individu yang teridentifikasi positif, Yurianto menyampaikan bahwa tidak semua harus dirujuk ke rumah sakit rujukan. Namun, kondisi individu tersebut akan didiagnosa lebih lanjut apakah memiliki gejala ringan atau moderat.

“Apabila terdiagnosa gejala ringan, pasien dapat melakukan isolasi diri secara mandiri,” jelas Yurianto.

Ia juga menambahkan bahwa pasien yang melakukan isolasi diri akan mendapatkan perhatian dari puskesmas atau petugas kesehatan setempat. Di samping itu, mereka dapat melakukan self-monitoring dan berkonsultasi secara virtual seperti menggunakan aplikasi Halodoc. Pasien yang kemudian menunjukkan gejala sedang hingga berat akan dipindahkan ke rumah sakit rujukan.

Pada kesempatan itu, Yurianto menekankan kembali beberapa langkah yang harus diperhatikan secara serius oleh semua pihak terhadap upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Pertama yaitu social distancing atau mengambil jarak antar individu.

“Harus diimplementasikan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun di kehidupan rumah tangga,” jelas Yurianto.

Kedua, pola hidup bersih dan sehat atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Kita dapat melakukannya seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, setiap diperlukan. Selanjutnya rapid test secara massal.

“Pencarian yang mengidap penyakit ini dilakukan sehingga tidak menjadi sumber penularan di masyarakat,” Yurianto.

Sementara itu, perang terhadap Covid-19 mendapat dukungan penuh dari kalangan perguruan tinggi. Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI, misalnya, telah ditunjuk jadi Laboratorium Pemeriksa COVID-19. Bersama UI ada juga Universitas Airlangga.

UKK Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (LMK FKUI) ditunjuk menjadi Laboratorium Pemeriksa COVID-19 bersama dengan 11 laboratorium lainnya se-Indonesia. Penunjukan 12 Laboratorium Pemeriksa ini tertuang dalam Surat Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/182/2020 tentang Jejaring Laboratorium Pemeriksaan COVID-19. Keputusan ini ditandatangani oleh Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pada Senin, 16 Maret 2020.

Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan FKUI siap membantu pemerintah dalam menghadapi kasus Covid-19 ini. Salah satunya melalui kesiapan Laboratorium Mikrobiologi Klinik yang sudah terstandardisasi WHO dan mempunyai fasilitas pemeriksaan virus yaitu Biosafety Level 2 (BSL2) dan BSL3. LMK yang berada dalam naungan Departemen Mikrobiologi Klinik FKUI-RSCM ini merupakan Unit Kerja Khusus (UKK) yang menjadi salah satu lab regional untuk influenza like illnes.

“Kami hampir setiap minggu melakukan pemeriksaaan influenza A dan B, H3N1 pada sampel swab throat dan nasofaring. Selain itu memiliki pengalaman pemeriksaan secara profesional saat menghadapi kasus pandemic H1N1, H5N1, dan HIV,” ujarnya, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (19/3).

Jejaring Laboratorium Pemeriksa dibutuhkan untuk menjamin kesinambungan pemeriksaan screening spesimen COVID-19.

Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam mengatakan, peran pendidikan tinggi, khususnya Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi memang sangat diperlukan guna menjalankan pemeriksaan massal. (dianw)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2