Hadiri Sidang Umum PBB, Presiden Iran Diawasi Secara Ketat

Hadiri Sidang Umum PBB, Presiden Iran Diawasi Secara Ketat
Presiden Iran Hassan Rouhani mendarat di New York, Amerika Serikat (AS), Senin (23/9) waktu setempat. IRNA

     NEW YORK, AS (Waspada): Presiden Iran Hassan Rouhani mendarat di New York, Amerika Serikat (AS), Senin (23/9) waktu setempat untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB (UNGA). Namun, ia berada dalam pengawasan yang sangat ketat.

     Kedatangan Rouhani beserta delegasi Iran itu mendapat pembatasan perjalanan yang ketat. Perlakuan yang sama juga diberlakukan terhadap staf dalam misi Iran di PBB pada Juli lalu, demikian disampaikan pejabat AS kepada AFP. Di bawah pengawasan pembatasan yang ketat, Rouhani tidak akan dapat bepergian jauh dari markas PBB yang berlokasi di East River, di sisi timur pulau Manhattan.

     Setelah mendarat di AS, Rouhani beserta rombongan delegasi Iran dilaporkan harus melakukan perjalanan dari Bandara JFK menuju markas PBB melalui terowongan yang menghubungkan wilayah-wilayah di Queens dan Manhattan.

     Pembatasan yang diberlakukan terhadap delegasi Iran melarang rombongan itu melewati jembatan-jembatan di New York. Rouhani diizinkan untuk mengunjungi kediaman duta besar Iran di Fifth Avenue, namun izin yang sama tidak diberlakukan terhadap anggota delegasi Iran lainnya.

     Kendati demikian, pemerintah AS tetap memberinya izin khusus untuk menginap di hotel. Presiden Rouhani dijadwalkan untuk berbicara di hadapan Majelis Umum PBB dan menggelar konferensi pers pada Rabu (25/9).

     Kunjungannya ini terjadi saat ketegangan yang kian meningkat antara Washington dan Teheran, di tengah spekulasi panas tentang apakah dia akan bertemu dengan Presiden Donald Trump. AS sebelumnya mempersulit pemberian visa kepada para delegasi Iran, yang memicu kecaman dari beberapa negara dan memaksa PBB campur tangan. Sebagai tuan rumah, AS wajib mengeluarkan visa kepada para diplomat yang bertugas di markas PBB.

     Diberitakan sebelumnya, Rouhani disebut membawa misi menggalang dukungan dari masyarakat internasional untuk melawan AS, saat menghadiri agenda sidang umum PBB. "Sangat penting bagi kami untuk hadir dalam Sidang Umum PBB, dan membicarakan berbagai isu," tegas Rouhani di Bandara Mehrabad, Senin.

     Iran dan AS berselisih sejak Mei tahun lalu, ketika Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan mulai menerapkan kembali sanksi ekonomi tekanan maksimum. Iran menanggapi dengan mengurangi komitmennya di bawah perjanjian itu.

Eropa salahkan Iran

     Sementara itu, Inggris, Perancis, dan German ikut menyalahkan Iran atas serangan kilang minyak Arab Saudi yang terjadi pada 14 September lalu. Hal ini disampaikan melalui pernyataan ketiga negara Eropa Barat itu yang menyebut, “Iran bertanggung jawab atas serangan ini”, menysul kesimpulan AS yang menuduh Iran terkait hal yang sama.

     Namun demikian, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif tetap melontarkan tuduhan kepada pemberontak Houthi di Yaman. “Jika benar Iran yang berada di balik serangan itu, maka tidak ada lagi yang tersisa dari kilang minyak itu,” katanya.

     Dalam sidang umum kali ini, para ahli dari negara-negara internasional akan menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu atas permintaan Arab Saudi. Mereka berusaha meredam ketegangan di Timur Tengah dan mendesak Iran menghentikan provokasi yang dapat meningkatkan ketegangan. (afp/ap/reuters/And)