Waspada
Waspada » Toge Taing Tumpat, Kuliner Panyabungan Yang Melegenda
Features Kuliner Sumut

Toge Taing Tumpat, Kuliner Panyabungan Yang Melegenda

Toge Taing Tumpat, kuliner khas tradisional Panyabungan, Madina siap saji. Waspada/Ali Anhar Harahap
Toge Taing Tumpat, kuliner khas tradisional Panyabungan, Madina siap saji. Waspada/Ali Anhar Harahap

Makanan khas tradisional merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan dan setiap daerah memiliki kuliner tersendiri yang telah melegenda. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk menikmatinya.

Cita rasa yang terdapat dalam kuliner khas tradisional tersebut menjadi ciri tersendiri yang sulit dilupakan seperti Toge Taing Tumpat di Pasar Panyabungan, Kabupatan Mandailing Natal, Sumut yang telah populer dan melegenda.

Toge Taing Tumpat yang hanya dijual di Pasar Panyabungan tidak pernah sepi dari pembeli sejak tahun 1980-an hingga saat ini. Bahkan telah menjadi salah satu kuliner favorit di wilayah Tapanuli Bagian Selatan dan sekitarnya.

Pada saat bulan puasa (Ramadhan) kuliner ini banyak ditemukan di berbagai pusat pasar yang ada di wilayah Tapanuli Bagian Selatan maupun daerah lainnya dengan nama Toge Panyabungan. Namun cita rasanya berbeda dengan Toge Taing Tumpat yang ada di Pasar Panyabungan.

Cita rasa yang dipertahankan mereka sejak dulu sampai sekarang, membuat Toge Taing Tumpat tetap menjadi yang terbaik meskipun sekarang sudah banyak yang menjual toge panyabungan. Dengan kata lain, Toge Taing Tumpat tiada duanya.

Terkenal Sejak Tahun 1980-an

Roilah alias Butet, 52, warga Desa Kayu Jati, Kecamatan Panyabungan Kota, Mandailing Natal ketika dijumpai penulis di Pasar Panyabungan, Sabtu (30/8) mengatakan, usaha Toge Taing Tumpat merupakan usaha turun-temurun yang digeluti keluarganya.

Kuliner yang terbuat dari tapai pulut merah, lupis, candil, santan dan gula merah cair sudah ada sejak tahun 1940-an. Peracik pertama toge panyabungan ini adalah almarhumah Sapiatun yang merupakan ibu kandung Roliah.

Setelah Sapiatun meninggal dunia, usaha yang dirintis sejak puluhan tahun yang lalu itu dilanjutkan putrinya yang bernama Pate’ah (Taing Tumpat) pada tahun 80-an. Dengan mempertahankan cita rasa sebagaimana yang diajarkan almarhumah ibunya, Pate’ah tetap semangat menjual toge di Pasar Panyabungan.

Di sinilah awal dari terkenalnya Toge Panyabungan setelah Pate’ah atau yang biasa disebut kak Taing Tumpat memperkenalkan Toge Panyabungan ini di pasaran dengan nama ‘Toge Taing Tumpat’ agar lebih mudah dikenali pembeli.

Ternyata pemberian nama Toge Panyabungan menjadi Toge Taing Tumpat membawa berkah dan menjadi ciri tersendiri terhadap kuliner hasil olahan mereka secara tradisional. Taing Tumpat sapaan akrab dari Pateah memiliki arti gadis berbadan besar

Sering Ikuti Pameran Dan Even Nasional

Setelah Pate’ah meninggal dunia pada tahun 2009, usaha keluarga ini pun dilanjutkan Roilah yang merupakan adik almarhumah Pate’ah hingga saat ini. ”Kuliner tradisional ini sudah sering dipamerkan pada cara UMKM di tingkat nasional,” tuturnya.

Seperti dalam acara pameran makanan khas tradisional daerah di Bandung dan di Padang, Sumatera Barat. “Dalam acara itu turut hadir para Duta Besar dari berbagai Negara dan telah mencicipi toge khas Panyabungan ini,” ungkapnya.

Selain sering dipamerkan pada berbagai even, mereka juga sering diundang dalam berbagai acara pesta maupun hajatan untuk menyediakan makanan khas tersebut, terutama di wilayah Panyabungan dan sekitarnya.

Disinggung tentang cara pembuatannya, Roilah mengatakan, bahannya terdiri pulut merah, pulut putih, tepung beras, tepung putih, gula aren, gula putih, dan santan. ”Kemudian diolah menjadi tapai, ketan, lupis, candil gula merah cair,” jelasnya.

Kita berharap makanan ciri khas tradisional ini terus bertahan dan tetap menjaga ciri khasnya di tengah berkembangnya kuliner seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi. Waspada.Mohot Lubis/Ali Anhar Harahap

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2