Waspada
Waspada » Ternak Ulat Maggot Dan Lalat Mati, Boim Dapat Rp6 juta Rupiah Per Bulan
Features

Ternak Ulat Maggot Dan Lalat Mati, Boim Dapat Rp6 juta Rupiah Per Bulan

PONDOK budidaya ulat maggot di Jl. Abdul Sani Muthalib Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan yang mampu menghasilkan Rp6 juta perbulan. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
PONDOK budidaya ulat maggot di Jl. Abdul Sani Muthalib Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan yang mampu menghasilkan Rp6 juta perbulan. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): BOIM ,42, bersama istri dan anaknya terlihat sibuk beternak ulat maggot di pondok belakang rumahnya Jl. Abdul Sani Muthalib Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.

Di dalam pondok kecil berukuran 2X3 meter yang tertutup kelambu, terdapat ratusan ekor lalat berkembang biak di dalam kelambu tersebut.

Lalat-lalat tersebut berasal dari spesies lalat Black Soldier Fly (BSF) atau sering disebut juga dengan lalat tentara hitam. Beda dengan lalat umumnya, lalat tentara hitam bentuk tubuhnya panjang dan besar.
Setelah bertelur lalat itu akan mati.

Dari telur-telur lalat itulah akhirnya menjadi ulat maggot setelah melalui berbagai proses.

Bagi masyarakat umum pasti akan terkesan jijik bila mendengar kata ulat, apalagi ulat belatung. Tapi tidak bagi Boim.

Bahkan, ulat belatung yang kemudian menjadi ulat maggot tersebut bahkan bisa memberikan penghasilan Rp6 juta bagi Boim dan keluarganya.

Boim menyebutkan, ulat yang acap disebut belatung itu selalu hidup ditumpukan pada bahan yang membusuk.
“Tapi, tidak semua ulat hidup di tempat yang membusuk. Salah satunya ulat maggot, binatang lunak menyerupai cacing ini ternyata dapat dipelihara tanpa harus hidup di bahan yang membusuk,” ujar Boim kepada wartawan, Jumat (4/6).

Merawat Lalat

Boim menuturkan,  memelihara lalat yang ditangkarkan di sebuah pondok berbalut kelambu. Lalat-lalat itu berkembang biak di dalam kelambu dengan diberikan kayu untuk tempat bertelur.

“Setiap hari, saya  bersama istri dan anaknya merawat lalat dengan menyiram air ke arah kelambu.

Biasanya, lalat-lalat ini berkembang selama dua minggu. Setelah itu, lalat itu bertelur di kayu yang sudah disiapkan di dalam kelambu. Telur yang bersarang di kayu kemudian dikikis untuk dipindahkan ke dalam ember,” tutur Boim.

Dijelaskan Boim, seluruh telur yang ditampung dalam ember, dicampur dengan buah yang sudah busuk, dengan sendirinya telur lalat itu akan menetas menjadi ulat maggot. Setelah berubah menjadi ulat maggot, kemudian dipisahkan ulat itu ke tempat khusus seperti kolam ikan. Di tempat khusus itu, ulat berkembang menjadi dewasa.

“Ulat yang dewasa bisa sekali panen 20 kg, biasanya panen dua hari sekali. Ulat dewasa digunakan untuk makanan unggas seperti burung. Dalam kandungan ulat maggot ini banyak proteinnya, makanya sudah ada yang memesan setiap hari untuk dijual,” beber Boim.

Diakui Boim, dari budidaya ulat maggot tersebut, dirinya  menjual ulat maggot seharga Rp7000 per kg. Selain itu, lalat yang mati setelah bertelur juga  dijual Rp50.000 untuk 1 kg.

“Jangankan ulat maggot, lalat yang sudah matipun bisa dijual. Harga lalat mati dijual Rp50.000 untuk 1 kg,” sebut Boim, ayah dari tiga anak ini.

Menurut Boim, lalat mati digunakan untuk makanan ayam dan burung sedangkan ulat maggot digunakan untuk makanan burung, ayam dan pelet ikan.

“Setiap bulannya saya mampu memperoleh keuntungan mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta,” sebut Boim seraya menambahkan, di saat pandemi Covid-19, dirinya bisa memberikan lapangan kerja kepada tetangganya yang selalu membantu saat memanen ulat maggot yang akan dijual kepada pemesannya.(m27)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2