Tarino Yang Tidak Pernah Mengeluh Terima Upah Menggali Kuburan

  • Bagikan
TARINO saat merapikan tanah kuburan usai pemakaman berlangsung. Waspada/Anum Saskia
TARINO saat merapikan tanah kuburan usai pemakaman berlangsung. Waspada/Anum Saskia

MEDAN (Waspada): MENCANGKUL tanah liat untuk membuat lubang kuburan adalah pekerjaan Tarino setiap ada warga yang wafat dan akan dimakamkan.

Terlihat sesekali ia mengatur nafas sambil meletakkan tanah galian lubang ke bagian atas, lelaki yang sudah 26 tahun menekuni pekerjaan sebagai penggali kubur itu, tampak tenang dan tetap serius melakoni tugasnya di Pekuburan Jl STM Ujung Kelurahan Suka Maju Medan Johor.

Bersama penggali kubur lain yakni Zulkarnain dan Amir Hasan Harahap,mereka berupaya menggali makam secara hati-hati. Terlebih untuk makam yang sudah ada mait didalamnya dan akan dimasukan mait yang baru.

“Harus hati-hati, jangan sampai salah ukur jarak antara yang lama dengan yang baru. Utamanya meletakkan tanah di atas kuburan lain, tidak boleh sembarangan membuang tanahnya,”kata Tarino Rabu(10/11).

Meski terlihat lelah, apalagi menggali tanah untuk pemakaman mencapai 3 jam, namun Tarino terlihat penuh semangat saat bekerja. Sesekali ia meminta temanya intuk membantu membersihkan cangkul yang penuh tanah liat. Kemudian mencangkul lagi,hingga tanah yang digali untuk pemakanan selesai.

“Beginilah yang kami kerjakan jika ada warga akan dimakamkan. Pernah harus membuat lubang malam hari karena jenazah harus segera dimakamkan. Sudahlah malam, hujan turun, harus menguras airnya. Namanya pekerjaan ya harus dilaksanakan,”ucap Tarino.

Menekuni pekerjaan ini selama 26 tahun, ternyata penghasilanya tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Buktinya, hingga kini dia mengaku hidup bersama keluarganya di rumah kontrakan.

“Ya, rezekinya masih begitu. Kalau ada yang akan dimakamkan, kami menggali tanah pekuburan dengan upah tidak sampai 200 ribu perorang. Itupun tidak setiap hari. Begitupun tidak boleh mengeluh memang itu rezeki disiapkan Allah untuk kita,”sebutnya.

Lalu, bagaimana keuangan untuk membayar rumah kontrak setiap tahun?

Tarino diam. Dialirkannya air ke mata cangkul sambil membersihkan sisa-sisa tanah liat sehingga cangkul itu bersih.

Dia mengakui, sulitnya mencari uang untuk bisa membayar rumah kontrakan 6 juta pertahun.

“Sehari-hari, saya membawa becak.Kalau lewat di simpang arah STM Ujung ini, saya selalu mangkal disitu. Rezeki selalu ada walau tidak banyak. Pandai-pandailah membeli kebutuhan hidup,agar ada yang disimpan untuk membayar rumah kontraka’,”ucapnya.

Dia tidak menepis adanya bantuan dana dari Pemko Medan untuk para penggali kubur setiap tahun. Jumlahnya memang tidak banyak, 1.8 juta saja, tapi menurutnya itupun sudah menjadi penyemangat para penggali kubur seperti dirinya.

Lalu, apa yang dia dapatkan dari pekerjaan sebagai penggali kubur?

Lambat dia menjawab. Sesekali melihat ke area pemakanan yang sangat padat. Bahkan saat ini makam sudah ada dua atau tiga mait didalamnya, karena lahan sudah semakin padat.

“Ya, kalau ditanya apa yang didapat. Saya merasakan bahwa pekerjaan ini menyadarkan saya bahwa hidup akan berakhir dengan kematian. Kalau kita lihat tahun lahir dan wafat yang diterakan pada nisan, ada yang berumur panjang ada juga singkat adapula baru lahir. Itu artinya setiap saat kita harus sadar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Maka persiapkan bekal menuju kematian. Tanpa bekal kita akan sengsara. Pekerjaan ini juga menjadikan saya ikhlas, sehingga berapapun diterima dari menggali kubur, saya tetap tenang. Semoga pekerjaan ini menjadi amal ibadah juga buat saya. Hidup ini harus selalu kita isi dengan beramal dari apa yang kita bisa. Selain itu, saya tetap ingin menjadi muslim yang ikhlas dan bisa menerima keadaan sebagai penggali kubur dan pembawa becak bermotor tapi tetap ingin berguna untuk orang lain,”pungkasnya. @Anum Saskia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *