Waspada
Waspada » Sudah 40 Tahun, Warung Kopi Di Sudut Gang Itu  Pelanggan Setia WASPADA…
Features

Sudah 40 Tahun, Warung Kopi Di Sudut Gang Itu  Pelanggan Setia WASPADA…

ROSDIANA membaca Waspada di warung kopinya yang sudah 40 tahun berlangganan Waspada hingga sekarang. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
ROSDIANA membaca Waspada di warung kopinya yang sudah 40 tahun berlangganan Waspada hingga sekarang. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

WARUNG Kopi Pak Ruslan terletak di pinggir Jl Selebes Gang Al Falah Kelurahan Belawan II Kecamatan Medan Belawan, persis di depan sekolah Al Washliyah atau berjarak 50 meter dari Masjid Jamik.

Sejak awal membuka usahanya di sudut gang itu, 40 tahun yang silam, Pak Ruslan menjadikan Surat Kabar Harian Waspada sebagai bacaan dirinya, keluarganya dan para pelanggan yang setiap hari datang dan minum kopi di warungnya.

Ya, sejak warung kopi tersebut dibuka hingga kini, Koran Waspada, setiap pagi diantar ke warung tersebut untuk ‘sarapan pagi’ buat para pelanggan yang haus akan informasi terkini, akurat dan terpercaya.

Agaknya, warung sebagai sumber informasi ditambah kehadiran Koran Waspada sebagai media edukasi yang sarat dengan informasi terkini membuat pelanggan setia merasakan ada sesuatu yang kurang lengkap bila tak membaca Koran Waspada.

Sejak Pak Ruslan meninggal dunia 15 tahun silam, warung kopi tersebut kini dikelola oleh putrinya Rosdiana, 53,  dan Waspada tetap sebagai koran bacaan setia para pengunjung warkopnya.

Rosdiana menuturkan, berlanggan koran Waspada sejak harga koran masih Rp110 tanpa pernah digantikan dengan koran lainnya.

“Sejak 40 tahun silam hingga kini, setiap pagi loper koran sudah meletakkan Waspada di atas meja. Begitu koran datang, pelanggan langsung sarapan koran, kemudian baru pesan kopi atau teh manis panas,” ujar Rosdiana kepada Waspada, Sabtu (9/1) di warung kopi warisan almarhum ayahnya itu.

Tak Terlupakan

Rosdiana mengaku ada kenangan yang tak terlupakan dari para pelanggan dan pembaca setia Waspada yakni tatkala loper koran tidak datang mengantarkan korannya, maka para pelanggan akan membeli sendiri koran Waspada di agen koran dan meletakkannya di warung agar pelanggan lainnya tetap bisa membaca Waspada.

“Biasanya, pelanggan yang datang, tidak langsung memesan kopi atau teh manis panas namun membaca Waspada terlebih dahulu kemudian barulah memesan minuman,” tutur Rosdiana yang sudah hapal dengan kebiasaan para pembaca Waspada yang datang ke warungnya.

Rosdiana mengaku, ayahnya menjadi pembaca setia Koran Waspada dan menurun ke dirinya.

“Sejak SMP hingga kini saya tetap membaca Waspada. Kalau tak baca Waspada sepertinya ada yang kurang lengkap,” aku Rosdiana, yang saat itu didampingi pembaca setia dan pelanggan tetap warkopnya Masri Tanjung dan Zainal.

Rosdiana mengaku, bahasa dan kalimat yang disajikan Waspada ringan, mudah dicerna dan berita-beritanya tetap update.

“Bahasa yang disajikan ringan dan mudah dicerna,” aku Ros yang suka membaca Rubrik Opini dan artikel yang berbau ekonomi dan politik. Selain itu, Rubrik Pariwisata dan Travel adalah bacaan favoritnya.

Namun, aku Ros, sejak beberapa tahun belakangan ini, dirinya merasa kehilangan satu rubrik, yakni Kolom Dedy Syahputra.

“Dulu saya suka baca tulisan Dedy Syahputra, namun entah apa sebabnya, kolom tersebut tak terlihat lagi di Koran Waspada,” tutur Ros yang merupakan alumni D-III Akutansi YPK Jl. Pandan Medan.

Sementara itu, pembaca setia Waspada di Warkop Pak Ruslan bernama Masri Tanjung mengaku dirinya sebelum membaca Waspada di warkop tersebut, sudah membaca koran yang hari ini berusia 74 tahun sejak kelas V Sekolah Dasar atau 35 tahun yang silam.

“Sejak tahun 1972 saya sudah membaca Waspada. Belinya eceran. Waktu itu harga ecerannya 35 rupiah (Rp35). Sampai sekarang saya tetap membaca Waspada namun tidak membelinya lagi karena sekarang baca korannya di warung Pak Ruslan,” tutur Masri sembari tersenyum.

Tak Hilang Ditelan Zaman

Masri mengakui sejak awal membaca Waspada hingga sekarang beritanya selalu ‘menggigit’ dan format tampilannya tak hilang ditelan zaman sehingga tak bisa ditinggalkan pembacanya.

Masri mengingatkan dirinya saat membaca berita-berita konflik Timur Tengah, Perang Teluk dan pertikaian di Jalur Gaza serta perang Iran Irak merupakan sesuatu yang tak terlupakan.

“Setiap hari ada berita tentang pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat dan Presiden Irak Saddam Hussein dan saya membacanya. Bahkan anak sulung saya berinama Yasser Arafat dan si bungsu Saddam Hussein. Semuanya gara-gara saya baca Waspada,” sebut Masri.

Dalam rangka HUT ke 74 Waspada, Masri berharap agar Rubrik Tempo Doeloe bisa diaktifkan kembali sebagai edukasi sejarah bagi generasi muda.

“Rubrik Tempo Doeloe kalau bisa diaktifkan kembali. Begitu juga Rubrik Budaya harus tetap dipertahankan sebagai wahana edukasi bagi generasi muda,” harap Masri. Andi Aria Tirtayasa

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2