Waspada
Waspada » “Saya Khawatir, Suatu Saat Rumah Ini Ambruk…”
Features

“Saya Khawatir, Suatu Saat Rumah Ini Ambruk…”

RUMAH tua berdinding papan berukuran 7 x 7 meter Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan itu usianya sudah lebih dari 70 tahun. Pemiliknya khawatir suatu saat rumah itu ambruk. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
RUMAH tua berdinding papan berukuran 7 x 7 meter Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan itu usianya sudah lebih dari 70 tahun. Pemiliknya khawatir suatu saat rumah itu ambruk. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): RUMAH tua berdinding papan berukuran 7 x 7 meter yang berada di Jl Pulau Seram Lingkungan VII Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan itu usianya sudah lebih dari 70 tahun.

Kondisinya kini sangat memprihatinkan karena sudah miring dan nyaris ambruk. Dinding kayunya sudah keropos dan acap berlantai lumpur tatkala banjir akibat hujan deras dan banjir air pasang laut (rob).

Di rumah warisan orangtuanya itulah, Burhan Tarigan,58, atau lebih dikenal dengan panggilan akrabnya Sippo menghuni rumah yang sebenarnya tak layak huni itu bersama istri dan tiga anaknya yang masih bersekolah. Seorang lagi anaknya sudah berkeluarga.

Meski kondisi rumahnya memprihatinkan sampai sekarang Sippo masih bertahan di rumah yang belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Sippo mengaku hanya pasrah saja dengan kondisi yang dialaminya.

“Dulunya rumah ini berbentuk panggung. Rumah panggung yang sederhana. Seiring dengan kondisi tanah yang berlumpur sehingga fondasi rumah perlahan-lahan turun hingga seperti sekarang ini,” tutur Sippo, Rabu (27/1) kepada wartawan usai menerima bantuan sembako dari organisasi nelayan dan Dit Polairud Poldasu.

Tak Bisa Cari Nafkah

Sippo sendiri mengaku tak mampu untuk memperbaiki rumahnya, apalagi dirinya sudah tua, menderita cacat fisik pada kakinya, sehingga tak bisa lagi mencari nafkah di laut sebagai nelayan tradisional.

“Tidak ada lagi teman-teman yang mengajak saya melaut karena melihat kondisi fisik saya sekarang ini,” tutur Sippo.

Diakui Sippo, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saat ini hanya mengandalkan dari penghasilan istrinya Zubaidah,48, yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang ikan asing dan berpenghasilan rata-rata Rp30 ribu per hari.

Sippo mengaku dirinya merasa khawatir dengan kondisi rumah warisan tersebut.

Pasalnya, rumah peninggalan orang tuanya itu sewaktu-waktu bisa saja ambruk karena bangunannya sudah miring.

“Saya khawatir, suatu saat rumah ini ambruk,” ujarnya dengan nada cemas.

Sippo mengaku tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumahnya, karena dia sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi sebagai nelayan karena tidak ada teman nelayannya mau mengajaknya lagi untuk mencari ikan ke laut.

“Saya khawatir rumah ini ambruk dan kami tidak punya tempat tinggal lagi. Saya sangat berharap pemerintah dan para dermawan bisa membantu saya, karena rumah kami sudah hampir tumbang dan berharap juga agar pemerintah mau membantu kami untuk modal usaha dikarenakan saya tidak bisa bekerja sedangkan tiga anak saya masih tetap  bersekolah,” harapnya.

Sippo juga bersyukur karena ada organisasi nelayan yang akan melaksanakan kegiatan bedah rumahnya.
“Semoga rencana bedah rumah itu segera terwujud,” pungkasnya berharap. (m27)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2