Waspada
Waspada » Punggahan Distancing Tanpa Tangis Anak
Features Headlines Sumut

Punggahan Distancing Tanpa Tangis Anak

PUNGGAHAN Distancing Jemaah Mesjid Nurul Yaqin PT BSP Tbk Kisaran, tanpa tangis anak dan senda gurau orang dewasa. Waspada/Nurkarim Nehe
PUNGGAHAN Distancing Jemaah Mesjid Nurul Yaqin PT BSP Tbk Kisaran, tanpa tangis anak dan senda gurau orang dewasa. Waspada/Nurkarim Nehe

SEJAK sore anak heboh berkumpul, lalu mendatangi rumah ke rumah teman yang belum berkumpul.

Orangtua mereka memberitahu bahwa nanti malam Punggahan di mesjid.

Sebelum waktu magrib anak anak sudah pada mandi.

Ada yang menemani emak masak di dapur, ada pula yang sesekali melongok ke dapur bahkan menatap atas tungku di mana emaknya memasak.

“Sudah siap mak?” Tanya seorang anak.

“Sedikit lagi, sabar lah kau, hayo siap siap dengan ayah sholat magrib ke mesjid,” jawab si emak.

Diam di dapur menemani emak memasak makanan Punggahan adalah proses alami edukatif.

“Jangan pas punggahan kau semangat kali nak. Puasa Ramadhan nya harus lebih semangat lagi,” ujar seorang ibu kepada anaknya berusia sekitar tujuh tahun.

“Iyalah mak. Teringatnya kenapa kita harus puasa di bulan Ramadhan mak? ”

“Ya oleh karena itulah ada Punggahan malam ini. Tradisi kita menyambut datangnya bulan Ramadhan untuk puasa, tarawih dan tadarus. Berkumpul sekampung habis sholat isya nanti, saling bermaafan setelah makan bersama,” terang emaknya dengan sabar dan serius.

Tak hanya anak anak yang heboh sejak sore padahal makanan Punggahan dibutuhkan setelah sholat isya, tetapi kalangan remaja dan orang tua saling mengingatkan nanti malam Punggahan.

“Masak lauk apa kalian?” Begitu contoh salah satu pertanyaan dalam obrolan sore sebelum malam Punggahan.

Usai sholat isya berjemaah, pengurus mesjid pun menyampaikan pengumuman soal Ramadhan lalu dilanjutkan dengan makan bersama.

Semua makanan yang dibawa jemaah disatukan di atas daun pisang yang terbentang lebar, rapi, lalu dengan teratur jemaah antri mengambil santapan.

Di antara keteraturan yang meriah ini kadang terdengar suara tangis anak anak yang kehilangan lauknya.

Dia ingat emaknya memasak ayam semur tapi di hadapannya sekarang nasi dengan lauk sambal telur.

Bagi anak anak kondisi ini sangat mengecewakan namun bagi remaja dan orangtua penting melatih kesabaran dan keikhlasan sebab Ramadhan adalah perang merebut sabar dan ikhlas.

Kini, tak ada lagi suara tangis anak anak saat Punggahan karena mereka melahap apa yang dimasak dan dibawa orangtuanya dari rumah.

Demikianlah Kamis malam (8/4) jemaah mesjid Nurul Yaqin kantor besar PT BSP Tbk Sumut 1 melaksanakan tradisi menyambut bulan Ramadhan atau disebut Punggahan.

Rangkaian acara dimulai sholat magrib bersama diikuti pejabat perusahaan, Manejer HRD Sumantri, pejabat Finance Bahrum Nawar Tarigan, Dani Hasibuan, pejabat verifikasi H Husin, pengurus BKM dan para keluarga karyawan.

“Berbeda cara dan suasana sebelum Covid-19, kali ini Punggahan kita pastikan distancing atau memenuhi standar Prokes,” jelas Ketua BKM Nurul Yaqin Wahyu Andrian dalam pengantar acara usai sholat magrib dan isya berjemaah.

“Alhamdulillah masih dipertemukan dengan Ramadhan 1442H. Mari saling memaafkan agar khusu’ menjalankan ibadah Ramadhan,” ujar Sumantri mengingatkan bahwa mesjid Nurul Yaqin PT.BSP Tbk hanya menerima jemaah Ramadhan secara internal kantor Kisaran saja, kalangan BSP dari luar lokasi kantor Kisaran tidak diperkenankan, beribadah di lokasi masing masing dan disiplin mematuhi Prokes.

Mubaligh Suyanto dalam tausiahnya menekankan bahwa Ramadhan juga merupakan bulan Tarbiyah atau pendidikan, mendidik kesabaran, ikhlas, mengekang atau mengendalikan hawa nafsu.

Bulan berkah ini harus diisi dengan amal ibadah, khususnya kewajiban berpuasa tanpa pamrih atau tidak ada tawar menawar.

“Mari terus menerus bersyukur di tengah kesibukan usaha kita,” tukas Mubaligh Suyanto Kordinator Guru Agama Islam se PT BSP Tbk Sumut I Kisaran.

Jemaah antusias mengikuti acara punggahan duduk menyebar sesuai Prokes Covid-19, termasuk menonjol saat makan bersama.

“Kalau tradisi kan masing masing jemaah bawa makanan lalu disatukan terus berbagi, karena Prokes Covid-19 jemaah menyantap makanan yang dibawa masing masing. Kita doakan tahun depan Punggahan Distancing ini bisa kembali ke tradisi sesungguhnya,” ujar Kepling VIII Kisaran Timur Khairuddin yang wilayahnya berada dalam kawasan kantor pusat PT BSP Tbk Sumut 1.

Jika tidak bisa mengembalikan cara dan suasana Punggahan pada aslinya, setidaknya model Punggahan sebelum menyebarnya pandemi Covid-19, semoga. Nurkarim Nehe

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2