Waspada
Waspada » Perjanjian Helsinki Ubah Ancaman Jadi Pelukan Bagi Hakim Immanuel
Features Headlines Medan

Perjanjian Helsinki Ubah Ancaman Jadi Pelukan Bagi Hakim Immanuel

HAKIM PN Medan, Immanuel Tarigan. Waspada/Rama Andriawan
HAKIM PN Medan, Immanuel Tarigan. Waspada/Rama Andriawan

“HATI-hati. Nanti, ke luar saya dari penjara, saya hancurkan pengadilan ini!”. Sebait kalimat ancaman itu masih jelas terngiang di ingatan Hakim Immanuel Tarigan saat menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada salah satu anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Hakim Immanuel Tarigan (foto) saat itu bertugas di Aceh Tenggara rentang waktu 2003 hingga 2007. Immanuel tak gentar sewaktu membacakan vonis itu. Baginya, keadilan harus tetap ditegakkan.

“Kita atas nama Tuhan saja lah ya,” kenang Immanuel, alumni Fakultas Hukum UISU tahun 1993 ini.

Meski ancaman itu membayangi dirinya selepas menjatuhkan vonis. Immanuel tetap seperti biasa menjalankan tugasnya sebagai seorang hakim. Hari demi hari, bulan berganti bulan konflik antara Pemerintah RI dan GAM masih bergejolak.

Banyak anggota GAM diadili dan di penjara di Nusakambangan. Termasuk anggota GAM yang ia vonis 10 tahun penjara itu.

“Saya lupa siapa namanya. Tapi begitulah dia. Dia gak terima vonis itu. Dia bilang hati-hati nanti kalau sudah ke luar dari penjara,” ujar hakim, yang juga salah satu Humas di PN Medan ini.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2005, tersiar kabar Pemerintah RI dan GAM terus berupaya untuk melakukan perundingan. Tepat 15 Agustus 2005, perjanjian damai pun dicetuskan di Helsinki, Finlandia. Pemerintah RI dan GAM sepakat mengakhiri konflik.

Cabut Tuntutan

Sejumlah kesepakatan diteken, yang intinya GAM mencabut tuntutan untuk memisahkan diri dari Indonesia. Sedangkan Pemerintah Indonesia memberi kebebasan kepada GAM untuk membentuk partai politik dalam rangka menjamin kehidupan berdemokrasi mereka. Indonesia juga sepakat untuk membebaskan tahanan GAM.

Benar saja, tak lama, kabar perdamaian itu tersiar, Immanuel juga mendapat kabar bahwa anggota GAM yang ia vonis 10 tahun penjara ikut dibebaskan dari Nusakambangan.

“Tahanan yang dari Nusakambangan yang mengancam kita itu, dikeluarkan baru dua tahun menjalani hukuman. Tidak jadi 10 tahun, saya waktu itu masih di Aceh, dia datang ke kantor,” ujar ayah tiga anak ini.

Ketika itu, Immanuel sedang bersidang. Anggota GAM yang pernah ia vonis tiba-tiba datang dan berdiri di depan pintu ruang sidang.

“Saya waktu itu lagi sidang, muncul dia di depan pintu pakai jaket Lea, celana Lea, kacamata hitam,” sebutnya.

Ia pun terkejut. Begitu palu diketok, ia dan hakim lain berdiri dan hendak meninggalkan ruang sidang dari pintu samping.

Namun, karena di depan pintu sudah berdiri anggota GAM yang pernah divonisnya. Dengan keberanian hati, Immanuel berjalan menghampirinya.

“Gimana, bang,” sapa Immanuel.

“Pak hakim masih ingat saya?,” anggota GAM itu sambil membuka kacamata hitamnya di depan Immanuel.

“Oh ingat, si ini kan? 10 tahun kan? Udah bisa ke luar ya, karena perdamaian?,” tanya Immanuel.

“Terus, ingat abang apa yang kuucapkan dulu?”

“Ingat. Mau kau hancurkan kami semua kan” jawab Immanuel.

“Tapi bang, tidak. Abanglah penyelamatku,” anggota GAM tersebut tiba-tiba memeluk hakim Immanuel, dan seakan lupa dengan ancamannya.

“Demi Tuhan aku dipeluknya,” kenang Immanuel. Ia lalu bertanya, mengapa dirinya disebut anggota GAM tersebut sebagai penyelamat, padahal sudah memvonisnya 10 tahun penjara.

“Kalau dulu abang hukum mati kami? Kan udah ditembak kami. Damai pun tak ada lagi artinya. Mulai sekarang bang, kalau ada yang ganggu abang di Aceh Tenggara, bilang saya,” ucap anggota GAM itu.

Peristiwa itu, kata Immanuel, seperti duka bagi dirinya walau akhirnya berujung kedamaian.

Ia tak memungkiri, selama menjadi seorang hakim sudah cukup sering mendapat ancaman. Namun, niatnya untuk menegakkan keadilan tak pernah surut. Rama Andriawan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2