‘Perang’ Panjang Gajah – Manusia Di Aceh

  • Bagikan

ALMARHUM Abdurrahman tercatat warga Kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Pihak keluarga sebelumnya tidak menyangka jika pria berusia 57 ini menghembuskan nafas terakhir setelah menjadi korban amarah gajah Sumatera saat melakukan penggiringan satwa liar itu di desanya, Sabtu (3/7) lalu sekira pukul 11:00.
Meskipun sempat kritis diinjak gajah liar dan dirawat petugas medis di RSU Datu Beru Takengon, tetapi nyawanya tak tertolong. Kondisi saat itu tergolong parah, bahkan kaki kanan dan tulang rusuk bagian belakang patah dan luka serius di bagian kepala.

Belum 24 jam dirawat, Abdurrahman akhirnya meninggal dunia, Minggu (4/7) sekira pukul 02:30.
Bukan hanya manusia yang menjadi korban keganasan gajah di Aceh Tengah, melainkan sebaliknya, satwa liar berbadan jumbo itu kerap ditemukan menjadi bangkai di sejumlah kabupaten di Aceh, baik karena kesetrum kawat listrik, mati di racun, dan sebagian juga mati terperangkap alat jerat para pemburu.
Gangguan gajah Sumatera juga terjadi di sejumlah kabupaten di Aceh, seperti Aceh Barat, Pidie, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Jaya, dan Bener Meriah. Untuk meminimalisir gangguan, pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menempatkan gajah jinak yang sudah dilatih di Kamp Conservation Respons Unit (CRU).

Tujuh CRU di Aceh terletak di Aceh Utara (Cot Girek), Aceh Timur (Serbajadi), Pidie (Mila), Aceh Jaya (Sampoiniet), Aceh Barat (Woyla Timur), Aceh Selatan (Trumon), dan Bener Meriah (Pintu Rime Gayo). “Penempatan gajah jinak di sejumlah CRU bukan hanya untuk merespon kasus gangguan gajah liar di lahan perkebunan warga, melainkan sebagai edukasi pengunjung,” ujar Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, S.Hut.
Disebutkan, kematian gajah liar dalam lima tahun terakhir bervariasi, mulai tahun 2017-2021. Dirincikan, tahun 2017 sebanyak 13 individu, tahun 2018 sebanyak 11 individu, tahun 2019 sebanyak 2 individu, tahun 2020 sebanyak 12 individu, dan tahun 2021 sebanyak 7 individu. “Dibandingkan tahun lalu, kematian gajah tahun ini lebih rendah,” kata dia.
Gajah Sumatera atau elephas maximus sumatranus merupakan salah satu jenis satwa liar dilindungi di Indonesia. Regulasinya adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri LHK RI Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi.
“Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar,” terang Agus Arianto.
Oleh karenanya, BKSDA Aceh terus menghimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa dan tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati.
“Kita harap masyarakat tidak memasang jerat ataupun meletakkan racun yang dapat menyebabkan kematian terhadap satwa liar dilindungi, karena jika terbukti sengaja meracuni atau menjerat satwa dilindungi akan dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” urai Agus Arianto.
Di samping itu, beberapa aktivitas tersebut juga dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya gajah Sumatera dengan manusia yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga jatuhnya korban jiwa. “Balai KSDA Aceh berharap masyarakat tidak mengganggu keberlangsungan hidup satwa liar di habitatnya,” ujar Agus Arianto.
Perang panjang antara gajah Sumatera dengan manusia terjadi hampir di separuh wilayah Aceh. Bukan hanya berdampak terhadap kerusakan rumah dan lenyapnya berbagai jenis tanaman di kebun dan ladang, namun nyawa manusia juga ikut melayang.
Dari tahun ke tahun, sulit dilakukan penertiban satwa gajah, apalagi harus digiring untuk kembali ke habitatnya. Hal itu karena banyak titik kawasan terjadi alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan pertanian. Bahkan sebagian gajah belakangan mulai bersarang di lahan perkebunan milik perkebunan swasta, seperti di Aceh Timur.
Bahkan tidak sedikit bangkai gajah ditemukan dalam area hak guna usaha (HGU), sebagaimana satu individu gajah jantan usia 8-10 tahun dengan kondisi kepala dipenggal ditemukan di perkebunan PT Bumi Flora, persisnya di Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Minggu (11/7) lalu.
Setelah dilakukan nekropsi, petugas Balai KSDA Aceh menduga sebelum mati gajah tersebut menelan dua bungkus racun. Diduga kuat, gajah tersebut mati akibat perburuan. Lalu polisi melakukan penyelidikan dan alhasil, petugas menangkap lima tersangka mulai dari pelaku yang meracuni gajah, pembeli gading dan pedagang serta pengrajin di luar Aceh.
Penegakan hukum serius, sehingga tak lama dilakukan penyelidikan akhirnya kasus kejahatan satwa itu dilimpahkan ke Kajari Aceh Timur. Selang sepekan, kasus pembunuhan gajah itu diserahkan ke PN Idi, untuk sidangkan. Dalam persidangan, tim jaksa penuntut umum (JPU) menuntut kelima tersangka masing-masing 4,5 tahun penjara.
Namun dalam sidang putusan, majelis hakim memutuskan 3,5 tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan kurungan untuk dua terdakwa. Sementara tiga terdakwa lainnya divonis 3 tahun penjara dan denda Rp100 juta serta subsider enam bulan kurungan untuk tiga terdakwa.
“Putusan mejelis hakim dalam kasus pembunuhan gajah sumatera ini lebih ringan dari tuntutan jaksa sebelumnya, karena kita menuntut 4,5 tahun. Sedangkan putusan hakim 3,5 tahun. Jadi saat ini kita (JPU—red) masih masih pikir-pikir,” kata Kajari Aceh Timur Semeru SH MH, melalui Kasi Intelijen, Wendy Yuhfrizal, SH.
Sisi lain, para pihak dan pemangku kepentingan terus berupaya meminimalisir konflik gajah sumatera di Aceh, seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur bersama Forum Konservasi Leuser (FKL), baik berupa pembangunan barier gajah di Aceh Timur sepanjang 48,9 kilometer dan membangun Camp CRU di sejumlah titik.
Begitu juga dengan pemerintah bersama para mitra juga memasang kawat kejut di sejumlah titik yang berbatasan dengan pemukiman penduduk. Tujuannya agar satwa berbadan jumbo itu tidak masuk ke pemukiman, namun di lapangan petugas menemukan kerusakan kawat kejut, bahkan sebagian hilang, sehingga konflik gajah dengan manusia tidak bisa dielakkan, seperti yang terjadi kawasan Pinto Rime, Kabupaten Bener Meriah, Selasa (30/11) lalu.
Selain itu, lahan perkebunan yang berdampingan dengan kawasan hutan agar menanami tanaman yang tidak disukai gajah, seperti tanaman lemon. “Tanaman lemon salah satu tanaman yang tidak disukai gajah, karena batang dan cabannya berduri. Jika dilakukan secara menyeluruh, maka tentu pemberdayaan ekonomi masyarakat semakin cepat bangkit,” ujar Nurul Hidayat Lubis, Field Manager Forum Konservasi Leuser (FKL) Regional I Langsa.
Puluhan individu gajah mati di Aceh, termasuk kematian gajah Sumatera yang mengenaskan dengan kondisi kepala dipenggal di area PT Bumi Flora, Aceh Timur. Kondisi tersebut menjadi pukulan terhadap dunia konservasi, sehingga semua pihak harus terlibat dalam penyelesaian konflik satwa liar itu, sehingga konflik bisa segera diakhiri.
Sebagai mitra pemerintah, pihaknya akan terus membantu dalam menyelamatkan satwa kunci, seperti gajah sumatera, harimau sumatera, orang utan dan badak Sumatera. Begitu juga dengan kawasan hutan dinilai perlu dikembalikan ke fungsinya, sehingga habitat satwa kunci tersebut tidak terganggu. “Ayo kita bergandengan tangan mengakhiri konflik satwa dengan manusia di daerah ini,” ajak Nurul Hidayat Lubis.
Bupati Aceh Timur H Hasballah HM Thaib SH atau Rocky, dalam setiap kesempatan terus mengajak masyarakat pihak-pihak terkait menjaga kelestarian hutan dan satwa di dalamnya. Sebagai bentuk komitmennya, pemerintah bersama lembaga peduli lingkungan membangun barrier gajah dan penyesuaian jenis tanaman sebagai barrier hayati.
“Apapun bentuk kejahatan terhadap satwa dilindungi harus diusut pihak kepolisian. Bahkan kita memberikan apresiasi yang tinggi, karena beberapa kasus kematian gajah mampu dituntaskan, baik kematian gajah jinak di CRU Serbajadi dan kematian gajah dengan kepala terpenggal di HGU PT Bumi Flora,” kata Rocky.
Sementara itu, Dosen Volunteer FKH USK Banda Aceh, Christopher Reinhard Stremme, DVM, dalam Kuliah Tamu Reproduksi Pada Gajah, Sabtu (18/12) mengajak seluruh pihak untuk menjaga satwa gajah, karena perkembangannya lambat. “Masa hamil gajah itu antara 20-21 bulan,” katanya.
Di sisi lain, tidak semua gajah betina bisa hamil secara normal, karena terkadang gajah betina juga mengalami permasalahan di bagian sistem reproduksinya. Selain itu, tidak semua gajah betina mampu melahirkan menyelamatkan bayinya saat melahirkan, karena biasanya bayi gajah lahir kaki duluan.
“Gajah itu melahirkan kaki belakang duluan, karena lebih aman. Tapi jika lahir kepala duluan, maka potensi kematian bayi gajah lebih tinggi. Namun untuk gajah yang lahir usia kandungannya dibawah 20 bulan sangat jarang yang selamat, kecuali kasus di Taman Safari Kadana, bayi gajah yang lahir 17 bulan akhirnya selamat sampai tumbuh dewasa,” jelas Chris, dalam Kuliah Tamu virtual itu.
Terlepas dari upaya strategis yang terus dilakukan para pihak terkait, konflik gajah Sumatera di sejumlah titik di Aceh, belum berakhir. Bahkan sejak tahun 2007 – 2021 konflik satwa dilindungi masih terjadi. Sepintas, masyarakat menganggap gajah bertahun-tahun telah mengganggu manusia, baik rumah masyarakat maupun tanamannya di ladang.
Namun di sisi lain, habitat gajah yang menyempit akibat perambahan dan penebangan liar. Bahkan tidak sedikit kawasan hutan yang berubah fungsi menjadi lahan perkebunan dan pertanian. Nah, solusinya adalah penertiban kawasan yang harus melibatkan para pihak dan pengembalian kawasan hutan sebagai habitat satwa dilindungi untuk menjaga keseimbangan alam. Semoga.

M Ishak

GAJAH MATI: Dua individu gajah sumatera mati akibat kesetrum arus listrik di Desa Seumanah Jaya, Ranto Peureulak, Aceh Timur, tahun 2017. Waspada/M. Ishak/C.

PATROLI: Pawang menunggangi gajah jinak melakukan patroli untuk mencegah konflik gajah dengan manusia di Desa Bunin, Serbajadi, Aceh Timur, tahun 2016. Waspada/M. Ishak/C.

PENGGIRINGAN: Gajah liar yang masuk ke perkebunan warga digiring ke habitatnya di Desa Seumanah Jaya, Ranto Peureulak, Aceh Timur, tahun 2015. Waspada/M. Ishak/C.

GAJAH JANTAN: Gajah jantan mati dengan kepala terpenggal dalam HGU PT Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Juli 2021. Waspada/M. Ishak/C.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.