Waspada
Waspada » Pande Besi Sipange Bertahan Di Tengah Arus Zaman
Features Headlines Medan

Pande Besi Sipange Bertahan Di Tengah Arus Zaman

PANDE besi atau pengrajin besi yang tetap bertahan di tengah arus perkembangan zaman. Salah satunya di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapsel. Waspada/Ahmad Cerem Meha
PANDE besi atau pengrajin besi yang tetap bertahan di tengah arus perkembangan zaman. Salah satunya di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapsel. Waspada/Ahmad Cerem Meha

SILAUNYA cahaya arang dari Pande bosi (Pande besi) tak seperti silaunya rezeki pande besi saat Pandemi Covid-19 yang hampir setahun mulai Februari 2020 hingga Februari 2021 ini.

Banyak pande besi atau pengrajin besi yang tetap bertahan di tengah arus perkembangan zaman.

Salah satunya di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapsel, Sumatera Utara.

Sentra pande besi masih menghasilkan alat pertanian tradisional dan alat rumah tangga seperti cangkul, arit, parang, pisau, dan kampak.

Ditemui Waspada, Minggu (21/2), Arhanuddin Pulungan, 36, ditemani Istrinya Hotma Boru Harahap, 32, ibu dua anak itu mengaku mulai membangun usahanya sekira tahun 2014.

Arhanuddin merupakan generasi kedua yang menekuni pande besi sebagai gantungan hidup keluarganya.

Selain Arhanuddin, di Sipange ada belasan pande besi lain memproduksi alat pertanian.

Setiap hari kecuali Jumat, Arhanuddin dan ketiga karyawannya membakar dan menempa besi, dari pukul 09:00 hingga 18:00.

Dalam waktu ±9 jam mereka dapat menghasilkan 15 buah cangkul dan beberapa arit, pisau maupun parang.

Sedangkan untuk alat pertanian lainnya biasanya diproduksi jika ada pesanan.

Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari besi murni baru, baja, atau besi bekas per mobil.

“Bentuk bahan terkadang masih besi per mobil atau sudah potongan seperti ini (ukuran cangkul),” ujarnya sambil menempa besi.

Namun di saat pandemi covid 19 ini, ibu dua anak itu, Hotma Boru Harahap mengaku buka dasar (barang tidak laku) satu hari pun sulit.

“Rezeki di masa covid 19 ini, terkadang buka dasar pun payah, sebelum Covid-19 rata-rata penjualan kami Rp500 ribu per hari,”ungkap Hotma.

Kata Hotma, harga satu parang panjang Rp45 ribu, cangkul Rp30 ribu yang mini, dodos Rp65 ribu.

“Silaunya cahaya arang dan merahnya bara api tak secercah cahaya itu pendapat kami saat ini,” keluhnya. Ahmad Cerem Meha

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2