Pada Peringatan Maulid, Lapas Lhokseumawe Melestarikan Tradisi, Namun Tetap Jaga Prokes - Waspada

Pada Peringatan Maulid, Lapas Lhokseumawe Melestarikan Tradisi, Namun Tetap Jaga Prokes

  • Bagikan
PARA Napi melakukan dikee anggok, pada peringatan Maulid di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Sabtu (23/10). Mereka memakai masker untuk menghindari terjadinya penyebaran Covid-19. Waspada/Zainal Abidin
PARA Napi melakukan dikee anggok, pada peringatan Maulid di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Sabtu (23/10). Mereka memakai masker untuk menghindari terjadinya penyebaran Covid-19. Waspada/Zainal Abidin

DIKEE Anggok merupakan tradisi pada setiap peringatan moulod (maulid) di Aceh. Para nara pidana (Napi) ikut melakukan dikee, pada peringatan Maulid di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Sabtu (23/10). Mereka melestarikan tradisi dikee, namun tetap menjaga Protokol Kesehatan (Prokes), saat peringatan maulid di tengah pandemi Covid-19.

Dengan diiringi syair Islami, para napi menggerakan kepala serentak. Sekitar 40 warga binaan ini melakukan dikee anggok (zikir sambil menggerakan kepala). Namun mereka tetap memakai masker, untuk menjaga tidak terjadi penyebaran Covid-19. “Sebelumnya, mereka berlatih, juga dengan prokes yang ketat,” jelas Kalapas Kelas IIA Lhokseumawe H Nawawi.

Peringatan maulid berlangsung di halaman Lapas Lhokseumawe. Pada kesempatan tersebut, Kalapas mengajak seluruh warga binaan dan pegawai Lapas untuk mengintrospeksi diri pada momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Saya meminta kepada semuanya agar dapat berbenah diri sekaligus menata kembali keimanan dan ketakwaan untuk meneladani Rasulullah,” sebut dia.

Kalapas menyebutkan, pada maulid kali ini, pihaknya juga menampilkan beberapa kreasi zikir dari warga binaan yang selama ini sudah disiapkan. “Dengan adanya beberapa kreasi zikir maupun kemampuan dalam menghafal Al-Quran, maka masyarakat akan tahu program apa yang didapatkan oleh warga binaan di dalam Lapas,” kata Nawawi.

Saat ini warga binaan yang sudah menghafal Qur’an di Lapas Lhokseumawe mencapai 30 orang. Bahkan ada yang sudah menyelesaikan masa pidananya, saat ini sudah menjadi ustad di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Asisten II Sekdako Lhokseumawe, Teungku Anwar, Ketua Pengajian Tastafi Lhokseumawe dan sejumlah tokoh agama dari Kota Lhokseumawe.

Para warga binaan juga mendapat siraman rohani dari penceramah, Tgk HM Yusuf A Wahab (Tu Sop). Dalam kesempatan itu, Tu Sop mengajak warga binaan Lapas memanfaatkan momentum peringatan Maulid.

Dikee Anggok

Dikee Anggok berasal dari bahasa Aceh. Artinya, berzikir sambil mengangguk kepala. Gerakan tersebut selaras dengan irama syair. Isi syair menyampaikan pelajaran agama. Selain itu, syair dikee juga diisi dengan kisah kelahiran Rasulullah SAW.

Ulfatun Hasanah, mahasiswa Program Studi Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, dalam tesisnya menyebutkan tradisi moulod dengan kesenian meudikee, sangat ditunggu masyarakat. Sebab banyak hal yang mereka dapatkan melalui tradisi ini.

Dikee yang berisi syair tentang ajaran Islam, dan gerak, menjadi wujud dari keikhlasan mereka untuk semua aspek dalam kehidupan. Hal ini terlihat dari kesiapan dalam melaksanakan moulod, dengan seluruh masyarakat baik tua maupun muda, laki-laki dan perempuan, bersama bergotong-royong dengan peran dan tugas. Kesemuanya menunjukkan watak, sifat masyarakat Aceh sesuai ajaran Islam yang mengedepankan silaturahmi dalam kehidupan. Zainal Abidin

  • Bagikan