Waspada
Waspada » Nia, Penyair Termuda Asal Aceh Masuk Dalam Kurasi Buku Bunga Rampai Indonesia
Aceh Features Headlines

Nia, Penyair Termuda Asal Aceh Masuk Dalam Kurasi Buku Bunga Rampai Indonesia

SANIA Savira Aboebakar, penyair termuda di Indonesia yang mampu menyatatkan dirinya di sekitaran penyair ternama di tanah air lewat karya "Damai yang kurindukan". Waspada/Ist
SANIA Savira Aboebakar, penyair termuda di Indonesia yang mampu menyatatkan dirinya di sekitaran penyair ternama di tanah air lewat karya "Damai yang kurindukan". Waspada/Ist

Sungai Woyla keruh pekat

Ikan melompat dikira tuba

Sunyi di kolong senyap di rambut

Hari malam buka suara

Wahai sayang itik di kalal

Bulunya tumbuh aneka warna

Tinggallah engkau bilikku sayang

Tempat peraduanku siang dan malam

(bait syair Pocut Baren)

PENGGALAN puisi atau syair dari salah satu karya pahlawan Nasional wanita dari Aceh ini seolah mengejewantahkan bait puisi dari seorang wanita muda yang terlibat dalam buku puisi memperingati hari perdamaian Aceh-Republik Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 15 Agustus sejak 2006 silam.

Tak heran, nama penyair muda ini dari seratusan penyair yang ada di Tanah Air, khususnya dari Aceh mampu menyatatkan dirinya bersama puluhan penyair lainnya oleh kurasi masuk dalam buku Bunga Rampai Indonesia berjudul ‘Seperti Belanda’.

Damai Yang Kurindukan

Ketika gendang permusuhan telah ditabu

Sirna sudah rasa haru, mengubah semua menjadi biru

Adakah kata yang dapat mengembalikan makna persahabatan?

Adakah tindakan yang dapat menyembuhkan luka di antara kita?

Atau masih bisakah kita berbagi kehangatan layaknya rasa kemanusiaan?

Hapuskan

Sudahi

Cukuplah sampai di sini irama gemuruh di dada kita. Tak ingin lagi ku mendengar suara yang membuat mataku menangis darah, telingaku memerah dan berdenging, dan bahkan meremukkan hati rapuh menjadi serpih

Dapatkah kita berdamai?

Damai yang sama-sama kita rindukan?

Ku tau, bukan hanya diriku yang sudah lelah Kau pun sama

Ku tau, bukan hanya aku yang terluka

Kau pun sama

Maka sekali ini saja, mari kita kembali bergandengan
menyatu

menegakkan jalan yang semestinya kita lalui

Tujuan kita adalah sama:

Damai…

Sanya Savira Aboebakar

Inilah penggalan kata pada bait puisi dari penyair muda yang kini sedang menempuh awal pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Syiahkuala (Unsyiah).

“Dia mengalir seperti air. Memaknai arti apa yang terjadi di sekeliling kita hingga mampu menjadi goresan kata pada bait puisi saya,” demikian ucapnya kepada Waspada via selular Jumat (14/8).

Soal perasaannya saat namanya ditabalkan sebagai penyair muda dari sederetan nama puluhan penyair yang sudah ternama di Tanah Air diantaranya Sutarji, Arafat Nur, Fikar W, dan lainnya, gadis muda belia yang selalu menjaga hijabnya ini tetap merendah.

“Kebetulan mungkin saya yang termuda,” ujarnya singkat.

Padahal dia sudah menghasilkan empat buku berisi tentang puisi.

Perlu diketahui darah seni yang mengalir di tubuhnya adalah dari sang ibundanya, yakni dr Arika Husnayati Aboebakar SpOG (K) yang juga masuk dalam pilihan kurasi di buku kumpulan puisi peringatan 15 tahun perdamaian di Aceh.

“Favorit saya adalah mama. Beliau merupakan wanita hebat dalam segala hal, ” ujarnya nampak tersirat dia tidak ingin melebihi ibunya.

Pilo Poly inisiator kegiatan peluncuran buku antologi yang mengambil tema dari salah satu puisi penyair kawakan asal Gayo, Aceh Tengah, Fikar W Eda saat dihubungi Waspada, Jumat (14/8) membenarkan pihaknya menyatat penyair termuda adalah Sania Savira Aboebakar dan ada dua lainnya.

Pilo yang berbicara singkat via selular itu menyebut pengumuman acara yang digelar sebagai refleksi 15 tahun perdamaian Aceh itu sebagai wujud rasa syukur dan silaturahmi guna memperkuat rasa kebersamaan para penyair untuk menyampaikan perkembangan Aceh terkini lewat karya sastranya.

Inisiator bunga rampai puisi Indonesia Pilo Poly menjelaskan, buku puisi ini akan dibagi gratis ke warga melalui pdf.

Selanjutnya, buku tersebut akan dicetak terbatas pula sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada penyair.

“Setelah itu, buku tersebut nantinya akan dikirimkan ke alamat penyair dan juga ke perpustakaan dan sekolah (jika memungkinkan) di Aceh,” jelas dia.

Sebagai inisiator, dirinya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu suksesnya pengumpulan karya.

Tak lupa, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada intelektual nasional, Fachry Ali karena sudah memberikan prolog dalam buku ini.

“Insya Allah pengumuman hasil ratusan karya para penyair ini yang masuk dalam kurasi tepat 15 Agustus malam di Jakarta sedangkan peluncuran buku ini 20 Agustus mendatang. Nia kelahiran Medan, 11 Maret 2001 tercatat sebagai penyair termuda yang masuk dalam pilihan kurasi,” ujarnya menambahkan bahwa hasil karya Nia yang masuk berjudul ‘Damai yang kurindukan’.

Singkatnya, Sania Savira Aboebakar yang akrab disapa Nia merupakan seribu satu putri berdarah asli Aceh ini, yang secara tak langsung meneruskan ruh Pocut Baren lewat karya sastranya.

Bedanya Pocut Baren mampu memanggul senjata sembari bersyair sedangankan Nia selain berprestasi di pendidikan juga mampu mengisi waktu luangnya dengan melihat perkembangan tanah leluhurnya.

Semoga yang lain terinspirasi.

Insya Allah

Rizaldi Anwar

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2