Nenek Sarina Memilih Jalani Sisa Hidup Di Pondok Lansia - Waspada

Nenek Sarina Memilih Jalani Sisa Hidup Di Pondok Lansia

  • Bagikan
Nenek Sarina saat menganyam tas sandang dari daun pandan di Pondok Lanjut Usia Ma'arif Muslimin P. Sidimpuan. Nenek Sarina memilih jalani sisa hidup di Pondok Lansia. Waspada/Ali Anhar Harahap
Nenek Sarina saat menganyam tas sandang dari daun pandan di Pondok Lanjut Usia Ma'arif Muslimin P. Sidimpuan. Nenek Sarina memilih jalani sisa hidup di Pondok Lansia. Waspada/Ali Anhar Harahap

Ingin menjalani sisa hidup dengan tenang di masa hari tua merupakan salah satu alasan bagi sebagian orang untuk memilih lebih baik tinggal di pondok Lansia atau panti jompo dari pada tinggal bersama anak maupun saudaranya.

Selain ingin menjalani hidup dengan tenang, para Lansia yang memutuskan untuk tinggal panti jompo juga tidak ingin jadi beban bagi anak maupun sanak saudaranya sebagaiman yang dijalani nenek Sarina Siregar, 59, di Pondok Lanjut Usia Ma’arif Muslimin, Kota P. Sidimpuan.

Nenek Sarina Siregar yang merupakan warga Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, saat dijumpai penulis, Kamis (27/8) mengatakan sudah 6 tahun tinggal di Pondok Lansia yang hanya berjarak sekira 2 kilometer dari pusat kota P. Sidimpuan.

Tinggal dalam gubuk sederhana berukuran 2×2 meter, Nenek Sarina merasa jauh lebih tenang dari pada sebelum tinggal di pondok tersebut sebab selain bisa beribadah dengan tenang, ibu dari lima anak ini memiliki prinsip tidak mau menyusahkan anaknya maupun saudaranya.

Pada awal tinggal di Lembaga Kesejahteraan Sosial Pondok Lanjut Usia Ma’arif Muslimin P. Sidimpuan, Nenek Sarinah masih sering dikunjungi anak dan saudaranya, namun dalam beberapa tahun terakhir ini tidak pernah lagi datang untuk melihatnya.

Meskipun sudah lama tidak dijenguk anak dan saudaranya, nenek Sarina mengaku tidak mempermasalahkannya mengingat ekonomi anaknya juga pas-pasan. “Semuanya sudah berkeluarga dan berdomisili di luar kota, bahkan ada yang di Semarang,” ungkapnya.

Isi Waktu

Sebagai bagian dari jamaah Pondok Lanjut Usia Ma’arif Muslimin, nenek Sarina yang tetap tegar menjalani kehidupan disela-sela menjalankan ibadah juga mengisi waktu dengan menyulam kain serta menganyam tikar dan tas sandang dari daun pandan.

Pekerjaan mengayam tikar dan tas dari daun pandan yang dipelajarinya di pondok tersebut serta menyulam yang sudah dikerjakannya sejak muda hanya menghasilkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perhari. Hasil dari pekerjaan itulah yang menjadi biaya hidupnya.

Namun, terkadang nenek tersebut tidak mendapatkan hasil jika jatuh sakit atau tiba-tiba merasa tidak enak badan. “Maklumlah, di usia senja seperti ini, badan tidak kuat lagi dan sering sakit,” tuturnya.

Meski hidup sebatang kara, atas bantuan pengurus Pondok Lansia Ma’arif Muslimin dia tetap bersemangat untuk menjalani hidup dengan berserah diri kepada Allah SWT.

Ketua Yayasan Pondok Lanjut Usia Ma’arif Muslimin, P. Sidimpuan, Tohiruddin Daulay berharap, anak-anak dari nenek Sarina maupun keluarganya agar datang menjenguk, mengingat kondisi nenek Sarina sudah mulai rentan sakit-sakitan.(a39/cah)

  • Bagikan