Metode Tsaqifa Membuat Ramlan Rajin Baca Al Quran

  • Bagikan
RAMLAN Saragih saat membaca ayat suci Al Quran pada pembukaan pelatihan training for trainer guru mengaji Metode Tsaqifa Angkatan VII yang digelar Yayasan Marhamah Khairah Ummah di Gedung Perpustakaan Sumut Jl. Brigjen Katamso Medan, Sabtu (13/11). Waspada/Andi Aria Tirtayasa
RAMLAN Saragih saat membaca ayat suci Al Quran pada pembukaan pelatihan training for trainer guru mengaji Metode Tsaqifa Angkatan VII yang digelar Yayasan Marhamah Khairah Ummah di Gedung Perpustakaan Sumut Jl. Brigjen Katamso Medan, Sabtu (13/11). Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): SEJAK lahir di desa minoritas muslim 57 tahun silam, tepatnya di Desa Suka Julu Jumpa Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Tanah Karo, Ramlan Saragih tidak pernah mendapat bimbingan tentang agama Islam dan syariatnya. Maklum saja, sejak usia 8 tahun, Ramlan Saragih telah ditinggal ‘pergi’ oleh kedua orangtuanya.

Jangankan bisa membaca Al Quran, pengetahuan ilmu agama Islam pun sangat jauh dari kehidupannya sehari-hari.
Masa muda Ramlan dihabiskan dengan kerja keras. Awalnya sebagai supir mobil boks yang membuatnya selalu keluar kota dan lupa mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Gemerlap dunia malam dan minuman keras selalu dekat dengan dirinya. Selalu mabuk-mabukan. Bahkan, bila tidak menenggak minuman keras, tubuhnya seperti lemas atau kurang bergairah. Tuak, minuman tradisional etnis Toba, setiap malam menjadi langganannya.

Setelah meninggalkan profesi supir, Ramlan menghidupi ekonomi keluarganya dengan berladang di desanya. Usai berladang, petani tradisional ini menenggak tuak untuk menghabisi waktu luangnya. Tiada hari tanpa menenggak tuak.

Tapi, siapa sangka, tiba-tiba saja, jenis minuman yang bisa memabukkan dirinya itu bisa ditinggalkannya seiring dengan rajinnya bapak dari 3 anak ini belajar membaca Al Quran dengan menggunakan metode Tsaqifa. Selama 5 bulan belajar membaca Al Quran, Ramlan bisa membaca Al Quran berkat metode Tsaqifa.

“Alhamdullilah, sejak 5 bulan lalu saya bisa membaca Al Quran meksipun sedikit terlihat terbatah-batah. Al Quran membuat hidup saya berubah sekaligus menuntun hidup saya,” aku Ramlan Saragih didampingi Sinar Surya Barus, guru mengaji yang membimbingnya dengan metode Tsaqifa kepada Waspada, Sabtu (13/11) usai melantunkan ayat suci Al Quran pada pembukan Pelatihan Guru Mengaji Angkatan VII Dengan Metode Tsaqifa yang digelar oleh Yayasan Marhammah Khairah Ummah (YMKU) di Gedung Perpustakaan Sumut Jl. Brigjen Katamso Medan.

Diakui Ramlan, awalnya dirinya selalu melewati Masjid Al Mutaqin bila hendak pergi menuju pakter (warung) tuak yang ada di desanya.

“Lama-lama, saya merasa malu sendiri pada diri ini. Kenapa saya tidak shalat dan tidak mengaji, padahal saya seorang muslim,” tutur Ramlan.

Sontak saja, diiringi sedikit rasa malu-malu, Ramlan mendatangi Sinar Surya Barus, seorang guru mengaji dan baca Al Quran di desa minoritas muslim tersebut.

Meski masih melekat aroma Tuak yang keluar dari mulutnya, Ramlan memohon kepada Sinar Surya Barus untuk dibimbing belajar mengaji dan membaca Al Quran, sementara Sinar Surya Barus terharu mendengar keinginan tulus dan ikhlas dari sang peminum tuak tersebut.

Mulai saat itulah, usai Shalat Maghrib berjamaah, Ramlan mendapat bimbingan belajar membaca Al Quran dengan metode Tsaqifa di Masjid Al Mutaqin. Beda dengan metode Iqra, Tsaqifa merupakan metode baru belajar Al Quran untuk orang-orang dewasa atau lansia.

“Awalnya agak sulit juga namun kegigihannya untuk bisa baca Quran sangat tinggi sehingga kesulitan itu berubah menjadi ketagihan untuk membaca kitab suci,” ujar Sinar Surya Barus yang merupakan angkatan pertama dari pelatihan mengaji dan membaca Al Quran dengan metode Tsaqifa.

Belajar Mengaji

Menurut Sinar Barus, pada awal mengaji memang masih terasa aroma tuak yang keluar dari murid mengajinya itu, karena usai minum tuak di warung, Ramlan langsung pergi belajar mengaji.

“Akhirnya saya bilang sama Ramlan, kalau pergi ke warung tuak sebaiknya usai belajar baca Quran,” tutur Sinar Barus.
Agaknya, apa yang disarankan Barus bukan membuat Ramlan tersinggung melainkan sejak saat itupula dirinya tak mau lagi datang ke pakter dan tak mau lagi minum tuak.

Hampir 5 bulan belajar dengan menggunakan metode Tsaqifa, Ramlan pun tak buta baca Al Quran lagi. Kini, dirinya sudah mampu membaca qalam Allah itu.

Sejak dirinya mampu membaca Al Quran, perilaku Ramlan berubah drastis. Tidak lagi haus minuman Tuak namun haus akan bacaan ayat suci Al Quran. Siang bekerja di ladang, malam hari terus memperdalam membaca Al Quran.

“Sekarang ini, saya merasa gelisah dan seperti ada sakit di dada ini bila tidak membaca Al Quran. Al Quran memang benar-benar merubah perilaku hidup saya,” tutur Ramlan.

Kegigihan Ramlan Saragih untuk memperlancar dan memperdalam membaca Al Quran membuat hati Bunda Hajjah Ronny selaku Ketua Umum Yayasan Marhamah Khairah Ummah (YKMU) terharu memberikan bingkisan kitab suci Al Quran dan murotal (bacaan) Al Quran kepada Ramlan. (andi aria tirtayasa)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *