Menanti Kedatangan Nova Ke Simeulue; Perjuangkan Harga Cengkeh - Waspada
banner 325x300

Menanti Kedatangan Nova Ke Simeulue; Perjuangkan Harga Cengkeh

  • Bagikan
BENTANGAN Jemuran Cengkeh di halaman rumah seorang Petani Cengkeh di Simeulue Timur, Senin (1/2). Waspada/Rahmad
BENTANGAN Jemuran Cengkeh di halaman rumah seorang Petani Cengkeh di Simeulue Timur, Senin (1/2). Waspada/Rahmad

JADI,” jawab Syahrian anggota DPRK Simeulue saat ditanya Waspada tadi malam seputar rencana kunjungan kerja Nova Iriansyah, Gubernur Aceh yang juga Ketua Partai Demokrat Provinsi Aceh ke Simeulue, Selasa (2/2).

Sepintas memang kunjungan kerja (kunker) seorang pejabat lebih tinggi ke suatu daerah yang di bawa wilayah kekuasaannya sesuatu yang lumrah, namun amatan Waspada di Simeulue dua hari terakhir ini ada sedikit respon yang berbeda.

Banyak warga antusias dan berharap kedatangan Nova.

Pasalnya, Nova Iriansyah ke Simeulue kali ini datang bukan untuk tebar pesona atau menabur janji melainkan membawa sesuatu yang bermakna “oleh-oleh” dari program pasangan Irwandi-Nova yang tertuang dalam RPJM Pemerintah Aceh 2017-2022.

Adapun nilai “hadiah” untuk rakyat Simeulue ini nilainya fantastis, bahkan tergolong besar untuk kebutuhan umum di pulau itu.

“Ya, Kapal Ferry Baru,” ujarnya.

Jenis kapal roro 1,300 GT yang diberi nama KMP Aceh Hebat I dibuat di Galangan PT Multi Ocean Shipyard (PT MOS).

Mampu menampung 250 orang penumpang, serta 188 tempat tidur dan dapat mengangkut 33 kendaraan berbagai ukuran bisa melaju dengan kecepatan maksimal 12 knot.

Tak lain tujuan tentunya untuk menambah armada penyeberangan laut ke pulau pengasil cengkeh dan Lobster itu yang selama ini hanya dilayari Kapal Ferry KMP Teluk Sinabang dan KMP Kuala Batee II dari Pemerintah Pusat melalui PT ASDP dan Tol Laut Program Jokowi, Sabuk Nusantara 110 dan satu lainnya di bawah PT Pelayaran Pelangi Tuanggal Ika.

Menurut catatan Waspada khusus Ferry KMP, Kuala Bate II selain kapasitas sangat terbatas, kecil kondisinya pun sebagian sudah mulai usang termakan usia bahkan tak jarang kita dengar rusak tiba-tiba.

Acap off berlayar sebelum massa docking.

Dampaknya penyeberangan ke Simeulue sering terganggu, macet.

Bila badai karena kecil dan kondisi kapal yang sudah tua kerap menunda pelayaran bahkan hingga berminggu-minggu.

Sementara rakyat Simeulue yang untuk kebutuhan pangan dan sandang hampir 90 persen masih ketergantungan ke daratan Sumatera termasuk sayur mayur ketika menghadapi masa buruk itu hanya bisa mengurut dada.

Bila sudah begitu otomatis harga bahan pokok di Simeulue, naik deras.

Bahkan untuk cabai, bawang merah, bawang putih, sayuran lainya bisa melonjak hingga 100 bahkan 200 persen dari harga pasar di Sumatera.

Selain itu yang sangat merasa bila pelayaran terunda yakni bagi masyarakat dan abang abang sopir yang sedang melakukan perjalanan dari dan ke Daratan Sumatera ke Simeulue mau tidak mau harus mencari tambahan untuk biaya antrian di pelabuhan penyeberangan.

Alasan ini-lah rangkuman pendapat dari warga Simeulue yang ditanya Waspada mengenai “gegap gempitanya” reaksi warga Simeulue menyambut Kunjungan Nova Iriansyah ke Simeulue kali ini.

Selain itu kabarnya Nova Iriansyah akan segera merealisasikan penuntasan jalan lingkar Simeulue dari APBD Aceh senilai Rp200 miliar lebih plus irigasi Rp150 miliar melalui program kontrak tahun jamak (Multiyears) tahun 2021-2022.

Tender dan pemenang kontrak proyek itu kabarnya sudah diumumkan.

“Semua pemberian Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk rakyat Simeulue hari ini, sesuatu yang harus diaperesiasi dan tak boleh dilupakan seluruh lapisan masyarakat di Simeulue,” ujar Sumadi Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Simeulue yang merupakan timses pemenang Nova Iriansyah, saat Pilkada 2017 kepada Waspada siang tadi.

Dongkrak Harga Cengkeu

Lalu agar perjuangan Nova Iriansyah benar benar tak bisa dihapus dari sanubari masyarakat Simeulue kiranya kata Abdurrahman, 56 petani cengkeh asal Kuala Makmur dapat memperjuangkan harga cengkeh mereka yang saat ini sedang terpuruk.

Heri, 32 tahun penduduk desa yang sama yang baru usai pulang memetik cengkehnya menyatakan dia pernah mendengar cerita medio tahun lalu, Gubernur Nova Iriansyah kala itu masih Plt pernah berhasil melobi Presiden Jokowi untuk menyarankan BUMN membeli kopi Gayo dengan menggelontorkan dana Rp1 triliun.

“Kalau pak Gubernur sukses membantu petani kopi di Aceh bagian Tengah pihaknya juga sangat yakin bila gubernur mau dan sungguh bisa melejit kan harga cengkeh yang saat ini sangat murah, naik kembali,” sebut Heri.

Penelusuran Waspada di google memang pasaran harga cengkeh di Simeulue dibanding dengan tempat lain di Sumatera, Sulawesi dan Jawa sungguh jauh berbeda.

Harga jual cengkeh oleh petani Simeulue ke pengepul per Senin (1/2) siang ini, senilai Rp52,000.

Harga ini dibandingkan dengan harga barang memang sangat lah tidak sepadan.

Sebagai referensi penulis di masa Orba cengkeh jatuh harga ke titik nadir.

Kondisi ini pernah membuat petani cengkeh Simeulue bangkrut, fakta miris di atas waktu itu diindetikkan dengan kehadiran dan tudingan monopoli oleh BPPC (Badan Penyangga dan Pembelian).

Lah, lantas muncul pertanyaan hari zaman itu sudah berubah, pasca reformasi harga cengkeh di Simeulue pernah melampaui Rp120,000 perkilogramnya bahkan masa pemerintahan Bupati Simeulue Riswan NS 2012-2021 yang membuat MoU dengan perusahaan rokok harga cengkeh di Simeulue pernah juga tinggi.

Harapan untuk adanya orang atau pihak yang mau dan mampu mendongkrak harga cengkeh untuk membantu mendongkrak ekonomi Petani di Simeulue.

“Adalah asa paripurna,” tambah Inon.

“Semoga saja Gubernur Nova Iriansyah menjadi orang yang mampu menembus tirai pembatas antara Petani Cengkeh dan Perusahaan pengguna komoditas Cengkeh yang ada di dalam negeri dan mancanegara,” timpal seorang ibu tua yang tak ingin namanya ditulis.

Ibu ini yang berharap bisa ke Baitullah dari hasil cengkeh sedikit mengenang awal awal cengkeh di Simeulue komoditi itu bahkan disebut emas hitam.

Betapa tidak dua kilo cengkeh kering bisa beli satu kodi atau dua puluh lembar seng.

300 Kg cengkeh bisa naik haji.

Kini katanya cengkeh satu kg kering dijual hanya bisa beli 1 Kg paku seng atau dua kilogram paku biasa.

“Sementara harga rokok kretek dan produk lain yang menggunakan cengkeh juga naik terus, Aneh memang,” ucap ibu ini dengan menganalisa.

Lantas dia berfirasat ada yang mempermainkan harga cengkeh di Simeulue untuk itu perlu orang besar dan baik hati membantu mereka penuh harap. Rahmad

  • Bagikan