Waspada
Waspada » Memintas Jarak Dan Waktu, Mendongkrak Branding Danau Toba
Features

Memintas Jarak Dan Waktu, Mendongkrak Branding Danau Toba

Jalan Tol Medan Tanjung Morawa, Medan Tebing. Waspada/Partono Budy
Jalan Tol Medan Tanjung Morawa, Medan Tebing. Waspada/Partono Budy

MEDAN (Waspada): SUMATERA UTARA diguyur berkah dari kehadiran jaringan jalan trans-Sumatera yang direncanakan menghubungkan kota-kota di pulau Sumatra, dari Lampung hingga Aceh. Dengan 24 ruas jalan yang berbeda, jalan sepanjang 2.704 km akan beroperasi penuh pada 2024.

Bagi Sumatera Utara, ketersambungan satu jalan dengan lainnya selain menghidupkan roda perekonomian antarkota, dan kabupaten, juga akan semakin membangkitkan geliat sektor pariwisata, terutama obyek wisata kebanggaan provinsi ini, yakni Danau Toba.

Harapan itu kian menjelma setelah PT Hutama Karya (Persero) selaku pengelola Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), mengoperasikan Ruas Tol Medan-Binjai seksi 1 (Tanjung Mulia-Marelan-Helvetia) Segmen Tanjung Mulia-Marelan sepanjang 4,2 kilometer pada Kamis 11 Maret 2021 lalu.

Sebelumnya, Jalan Tol Medan-Binjai Seksi 1 Segmen Marelan-Helvetia sepanjang 2,75 kilometer telah lebih dulu dioperasikan sejak 6 Mei 2019, sesuai Keputusan Menteri PUPR Nomor 428/KPTS/M/2019 tentang Penetapan Pengoperasian Jalan Tol Medan-Binjai Segmen Marelan-Helvetia.

Keberhasilan PT Hutama dalam mewujudkan jalan tol juga mengukir sejarah bagi provinsi Sumut yang berpenduduk 14,8 juta jiwa ini.

Untuk pertama kali dalam sejarah, dua konektifitas akan tersambung pada jalur kereta api, jalan tol, dan bandara Kualanamu, di Deli Serdang — yang kemudian ke bandara Silangit, di Siborong-borong, Tapanuli Utara.

Bandara ini yang sudah diperluas landas pacunya menjadi 2650 x 45 meter, setelah sebelumnya hanya 2.400 m x 30 m sudah dapat didarati pesawat besar pada 23 Maret 2016.

Konektifitas ini menjadi dambaan Pemerintah Provinsi Sumut yang akan mengembangkan obyek wisata sebagai destinasi unggulan. Lebih-lebih Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf), Sandiaga Salahuddin Uno telah mempersiapkan Danau Toba sebagai obyek wisata superprioritas.

Hal ini jadi bukti bahwa pemerintah hadir untuk membangun sektor Parekraf di Danau Toba tidak hanya infrastruktur, namun SDM juga akan dikembangkan. Mengingat danau yang luasnya 1.145 kilometer persegi dan terluas se-Asia Tenggara dan meliputi beberapa kabupaten, yakni Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Dairi.

Dengan hadirnya jalan tol yang dibangun PT Hutama Karya, membuktikan akan memintas jarak dan waktu untuk mengejar pembangunan di sektor pariwisata dan dipastikan menjadi hal yang diperhitungkan oleh para turis domestik dan mancanegara.

Kekuatan seluruh komponen yang ada menjadi syarat mutlak agar Danau Toba dapat bersaing di tingkat dunia.

Sebab, tidak bisa ditampik lagi bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor dengan tingkat kecepatan pertumbuhan yang sangat dinamis dalam perekonomian global, terutama di negara-negara maju.

Bahkan pariwisata telah menjadi leading sector di banyak negara dan berhasil dalam mendatangkan investasi asing, sehingga mampu menjadi generator dalam memicu dinamika pembangunan suatu negara.

Modal Penting Untuk Bersaing

Salahsatu pengemasan promosi perlu membentangkan ciri khas yang berbeda dengan destinasi lain dan keunggulan terintegrasi (termasuk kecepatan waktu kunjung dan kembali) yang terdapat di Danau Toba.

Dengan ciri khas tersebut, maka pemintasan jarak dan waktu menjadi modal yang penting untuk bersaing, terutama dalam pembentukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diikrarkan tahun 2015 lalu. MEA merupakan sebuah kesepakatan antar 10 negara ASEAN untuk membuka aliran barang, jasa, investasi antar negara, tidak terkecuali pariwisata.

Dilihat dari pembangunan yang sedang dilaksanakan dan akan dilaksanakan dalam mendukung Danau Toba, kita melihat keinginan turis untuk lebih cepat, efisien dan puas tampaknya sudah mulai terpenuhi secara keseluruhan.

Dibanding sebelumnya, dengan adanya Jalan Lingkar Danau Toba, maka perjalanan dapat ditempuh dari Medan ke jalur biasa (Medan-Tebing-Simalungun) dalam dan lingkar (Silangit-Muara, di Tapanuli Utara) menuju lokasi wisata.

Artinya, turis dapat menggunakan jalur tersebut sekaligus dibanding jalan biasa yang menempuh perjalanan lebih 6 jam dari Medan sebelum jalan tol lingkar Danau Toba dibangun. Dengan jalan lingkar ini, diperkirakan jarak tempuh hanya sekitar 2-3 jam jika dimulai dari jalan tol Medan Tanjung Morawa.

Adapun rute jalan yang baru dibangun melalui ruas Tol Medan-Binjai seksi 1 (Tanjung Mulia-Marelan-Helvetia) Segmen Tanjung Mulia-Marelan sepanjang 4,2 kilometer pada Kamis 11 Maret 2021 lalu sebaliknya semakin mempercepat jarak tempuh dar Binjai-Medan-Kualanamu, atau Binjai-Medan-Tebing ke Simalungun dan jalan lingkar Silangit-Muara, di Tapanuli Utara untuk menuju ke obyek wisata di Danau Toba, yang satu sisi berada di Prapat, Kabupaten SImalungun itu.

Artinya jalan yang dilalui akan semakin singkat dengan kehadiran jalan tol Medan Tebing yang dapat ditempuh dalam waktu 1 jam, dan ditambah satu jam jika berangkat dari Binjai Medan dan Tebing.

Adapun dari jalur udara, ada sejumlah pilihan yang dapat mempersingkat jarak dan waktu. Di antaranya rute rute penerbangan Jakarta (Bandara International Soekarno Hatta) – Siborong Borong (Bandara Silangit), setiap Selasa, Jumat, dan Minggu.

Dari Silangit ke Danau Toba diperkirakan hanya menempuh jarak 1 jam. Adanya penerbangan langsung dari Jakarta ke kawasan Toba yang merupakan jantung Tano Batak ini, diharapkan mampu mendongkrak branding Danau Toba sebagai ujung tombak dari 10 destinasi wisata, selain Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Kelayang.

Jika seorang turis memanfaatkan jalur darat dan udara sekaligus – dimulai dari Medan ke Kualanamu menggunakan KA Medan-Kualanamu untuk tujuan Danau Toba, maka tidak sampai 2 jam (Medan – Kualanau sekitar 35 menit – Kualanamu Bandara Silangit – sekitar 45 menit dan Silangit (jalur darat) ke Prapat sekitar 1 jam, sudah bisa merasakan semilirnya angin di danau kebanggaan Sumut itu.

Rentang efisiensi waktu ini tak jauh berbeda jika turis bertolak dari Jakarta menuju Bandar Silangit sekitar 1 jam 30 menit, Silangit ke Danau Toba 1 jam, waktu tiba di lokasi tujuan juga tak lebih dari 3 jam.

Artinya, perhitungan waktu masih tergolong cepat dari jalan udara. Dari jalur darat keseluruhannya, maka perjalanan dari Medan-Tanjungmorawa ke Prapat melalui jalur Lingkar Dalam Danau Toba nantinya diperkirakan juga tidak lebih dari 3 jam.

Asumsinya, dengan kecepatan rata-rata 60 km dengan jarak 176 km untuk kendaraan bus pariwisata. (rentang waktu Medan – T Morawa 30, dan Tanjung Morawa ke Pulau Samosir (jalur lingkar Danau Toba) sekitar 2,5 jam. Apalagi telah selesainya, jalan tol Medan-Tebing-Siantar selesai, maka rentang waktunya lebih cepat lagi.

Dari sudut pandang pemintasan jarak dan waktu, maka sarana dan prasarana yang menunjang persaingan bisnis tadi mutlak diperlukan. Indonesia, khususnya Sumatera Utara sangat berkepentingan mendorong sektor wisata menjadi leading sector, karena negeri ini memang terkenal kaya dengan keindahan alam dan keanekaragaman budaya yang berpotensi besar untuk dijadikan objek wisata.

Di sisi lain, neraca jasa di Indonesia belakangan memang selalu defisit, dan membutuhkan sektor jasa yang berpotensi besar untuk dijadikan pemasukan. Pariwisata adalah jawaban terbaik bagi negara kita yang sedang punya banyak proyek pembangunan.

Mengingat wilayah Danau Toba menjadi salah satu destinasi wisata prioritas, maka langkah-langkah harus disatupadukan dengan kekuatan perangkat kepentingan (stake holder).

Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Danau Toba beberapa waktu lalu tampaknya tidak main-main untuk mengembangkan Danau Toba.

Dengan tema rapat bersatu untuk Danau Toba, Jokowi mengingatkan, tidak akan ada lagi pertemuan dengan beliau. “Ini final, tidak ada lagi rapat, tinggal pelaksanaan. Dan kalau tidak bersatu, tidak sepakat, ya, pemerintah pusat akan kesulitan,” ujar Presiden.

Branding Wisata Kelas Dunia

Melihat dari keunikan Danau Toba sebagai wisata sejarah, potensi sumber daya manusia yang ada, sarana dan prasarana yang sedang dan akan dikerjakan, plus pemintasan jarak dan waktu kunjung, maka tidak disangsikan lagi bahwa langkah menuju Sumut unggul dengan obyek wisata, termasuk Danau Toba akan menjadi branding wisata kelas dunia, yang banyak memiliki keterpaduan yang melengkapinya.

Disebut branding karena Danau Toba sudah dikenal dunia akan sejarah terbentuknya danau dan letusan jutaan tahun lalu. Selanjutnya, ada integralitas, konektifias dan aksesibilitas, yang mencakup perjalanan satu paket udara dan darat; darat-udara, dan udara-darat yang tidak terpisahkan. Semuanya terkoneksi tanpa ada jeda waktu lama.

Itu dapat dilihat dari perjalanan kereta api Medan Kualanamu (darat), Kualanamu-Silangit (udara) dan Silangit Danau Toba (darat). Jarak dari ketiga matra ini disempurnakan dengan aneka pilihan aksesibilitas berupa jalan darat (jalan lingkar) menuju lokasi wisata Danau Toba – yang sama-sama memiki retang waktu cukup cepat.

Untuk mewujudkan semua impian masyarakat Sumut ini, maka dengan sarana yang sudah ada (darat dan udara), harus ditopang dengan kesungguhan pemangku kepentingan (stake holder). Danau Toba adalah milik Indonesia secara keseluruhan.

Itu berarti harus ada komitmen untuk bersatu padu. Semoga! (Partono Budy, wartawan Waspada.id dan artikel ini diikutsertakan dalam lomba karya tulis PT Hutama Karya Jalan Tol Trans-Sumatera 2021)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2