Melihat Huta Ginjang, Duta Desa Wisata Di Tapanuli Selatan

Melihat Huta Ginjang, Duta Desa Wisata Di Tapanuli Selatan

  • Bagikan
DESA Huta Ginjang yang dikelilingi tumbuhan rimbun akan menjadi destinasi wisata agro di Tapsel. Waspada/Sukri Falah
DESA Huta Ginjang yang dikelilingi tumbuhan rimbun akan menjadi destinasi wisata agro di Tapsel. Waspada/Sukri Falah

JARUM jam menunjukkan pukul 13:35 WIB dan matahari besinar cerah di langit biru. Namun di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan, suasananya tetap berhawa sejuk.

Masuk dari simpang di pinggir jalan penghubung Desa Huraba dengan Sibiobio. Melintasi pemukiman warga yang asri dan bersih, hingga berhenti di puncak bukit yang lokasinya sedikit melewati kantor desa.
 
Duduk di warung kopi, menikmati panorama indah di depan mata. Gunung Lubuk Raya menjulang tinggi, diitari Bukit Barisan dan lembah luas yang terhampar sawah, kebun serta pemukiman warga.
 
“Lokasi ini disebut Panatapan, karena dari sini bisa menatap keindahan alam sejauh mata memandang. Sebagian orang menyebut kampung ini Payabayon. Objek wisata agro itu ada di bawah, dekat kantor desa,” jelas beberapa warga yang duduk santai di warung kopi.
 

BUPATI Tapsel Dolly Pasaribu meletakkan batu pertama pembangunan saung Desa Agrowisata Huta Ginjang. Waspada/Sukri Falah
BUPATI Tapsel Dolly Pasaribu meletakkan batu pertama pembangunan saung Desa Agrowisata Huta Ginjang. Waspada/Sukri Falah

Warga Desa Huta Ginjang ramah dan lembut tutur sapanya. Sikap ini mungkin sudah tertanam sejak lama, atau mungkin juga setelah desa mereka ditetapkan Pemkab Tapsel sebagai Desa Binaan Agrowisata.
 
Keramahan itu dipadu suasana sejuk desa. Menurut warga, mereka jarang merasakan panas terik matahari yang menyengat. Itu karena lokasinya berada di ketinggian antara Gunung Lubuk Raya dan Sibual-buali, plus alamnya yang ditumbuhi tanaman rimbun.
 
Kawasan pemukiman penduduk di Desa Huta Ginjang cukup bersih. Sulit menemukan sampah di jalan utama desa ataupun di gang yang menghubungkan rumah-rumah penduduk yang tertata rapi.
 
Hal ini semenjak segala jenis sampah yang bernilai ekonomis seperti kertas, botol, seng, plastik dan sisa olahan kopi dibeli oleh kelompok kaum ibu pengelola Bank Sampah Sumber Rezeky yang sudah sebulan lebih beroperasional di desa itu.
 
Agrowisata
 
Sekitar pukul 15:00, seorang pria mengeluarkan kereta gandeng dari kantor desa. Dia adalah Muhammad Yusuf Siregar, Sekretaris Desa Huta Ginjang. Di halaman kantor, ada dua pria memandunya mengeluarkan kereta, Arifin Siregar dan Aminuddin Ritonga.
 
“Pak Iman Siregar Kepala Desa kami sedang ada urusan keluarga di Sidimpuan. Yang tadi itu rombongan Camat Angkola Timur, lagi monitoring Posko Covid-19,” jelasnya sembari mempersilahkan masuk.
 
Yusuf bersama Amin dan Arifin bercerita konsep agrowisata di desa mereka. Lokasi objek wisata itu dipusatkan di sekeliling kantor desa dengan luas lahan sekitar 1 hektar. Akan dilengkapi berbagai fasilitas seperti stand kuliner dan oleh-oleh khas daerah.
 
Di seberang jalan bangunan utama resto dan kantor pengelola, akan dibangun beberapa saung atau pondok antik yang dihubungkan jembatan di atas sawah. Ada juga fasilitas kolam bermain anak, kolam ikan, taman bunga dan hamparan kebun holtikultura.
 

GAMBAR rencana fasilitas yang akan dibangun di Desa Agrowisata Huta Ginjang. Waspada/Sukri Falah

“Lahannya memakai tanah warga. Dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bekerjasama dengan pemilik tanah. Kemarin, pak Bupati Tapsel Dolly Pasaribu telah meletakkan batu pertama pembangunan saung,” kata Sekdes.
 
Dijelaskan juga, luas desa mereka sekitar 7.000 hektare. Penduduknya 382 Kepala Keluarga (KK) atau 1.499 jiwa yang tersebar di Dusun Huta Ginjang, Pargumbangan dan Sihailkail. Mayoritas penduduknya petani sawah dan kebun.
 
Ke objek wisata agro ini ada tiga jalur yang bisa dilalui. Dari Pokenjior di Padangsidimpuan belok kanan ke arah Aek Sabaon Marancar. Selepas Desa Huraba ada tanjakan berkelok dan masuk ke simpang di kanan, ada tanda pamplet dan prasasti bertuliskan Desa Huta Ginjang.
 
Dari Sipirok. Masuk simpang belakang Masjid Agung Syahrun Nur kantor Bupati Tapsel. Telusuri jalur sampai menemukan SD Negeri Kantin dan masuk ke simpang di sampingnya. Jalan terus melewati Desa Sijungkang, Sihailkail dan Pargumbangan.
 
Dari Pargarutan. Masuk simpang ke Pargarutan Julu (dari Sidimpuan sebelah kiri dan dari Palsabolas sebelah kanan). Di Pargarutan Julu belok kiri ke Pondok Pesantren Sijungkang, terus telusuri hingga melewati Sihailkail dan Pargumbangan.
 
Duta Desa Wisata
 
Kepala Dinas Pariwisata Abdul Saftar Harahap dan Camat Angkola Timur Ricky H. Siregar menceritakan, tahun lalu ada 18 desa wisata yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati (Perbup) No.64 tahun 2020 tentang Penetapan Kawasan Desa Wisata di Tapanuli Selatan.
 
Namun baru Huta Ginjang yang tahun ini siap memulai pembangunan desa wisata dengan konsep agro (pertanian). Sehingga desa ini menjadi pelaksana awal (pilot project) dan sekaligus Duta Desa Wisata di Tapanuli Selatan.
 
Kata Camat Angkol Timur, pembangunan desa agrowisata bersumber anggaran dari Dana Desa yang tahun 2021 dialokasikan sebesar Rp400 juta. Program ini berkesinambungan dan telah disetujui segenap elemen warga lewat musyarawah desa.
 

BUPATI Tapsel Dolly Pasaribu dan Camat Angkola Timur Ricky Siregar terima penjelasan tentang konsep Bank Sampah di Desa Huta Ginjang. Waspada/Sukri Falah

Agrowisata adalah objek wisata yang bertemakan pertanian. Laha persawahan, kebun dan kolam di sekeliling kantor Desa Huta Ginjang dikonsep menjadi objek wisata agro. Lokasi ini didukung oleh panorama alam yang begitu indah.
 
Akan banyak kegiatan yang didapat wisatawan di lokasi ini. Menikmati keindahan alam sembari mencicipi kuliner khas, panen holtikultura, petik buah dari batangnya, berfoto di taman bunga, memancing ikan dan wahana hiburan lainnya.
 
“Konsep ini diinisiasi Kepala Desa Iman Siregar, setelah mengikuti kunjungan lapangan ke Desa Agrowisata Paloh Naga di Deli serdang. Karena desanya punya potensi yang jauh lebih baik, maka beliau terdorong menerapkan konsep wisata agro di desan ini,” jelas Ricky.
 
Sementara Kadis Pariwisata Saftar Harahap menambahkan, konsep Desa Wisata dapat mendorong peningkatan perekonomian warga lewat sektor pariwisata. Karena nantinya warga yang secara langsung menjadi pelaku wisatanya (community based tourism).

Berbagai potensi usaha rakyat akan tumbuh dengan sendirinya dan pada muaranya akan meningkatan kesejahteraan masyarakat. Kemudian untuk suksesnya konsep wisata agro ini, Pemkab Tapsel telah mencanangkan Huta Ginjang sebagai Desa Binaan Agrowisata.
 
Dinas Pariwisata telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwa) yang anggotanya pemuda pemudi setempat. Mereka dilatih menjadi pemandu wisata handal dan pelaku ekonomi kreatif yang inovatif.
 
Sesuai Perbup Tapsel No.64 tahun 2020, wisata agro adalah kegiatan wisata yang menyuguhkan aktifitas pertanian sebagai atraksi wisata. Di objek wisata ini, wisatawan bisa menambah ilmu dan pengalaman dengan belajar budidaya pertanian.
 
Optimis
 
Bupati Tapanuli Selatan Dolly Putra Parlindungan Pasaribu menyebut prospek Desa Huta Ginjang menjadi destinasi wisata ke depan cukup baik. Panorama alamnya sangat indah dan didukung hawa sejuk berudara segar setiap saat.

Desa Huta Ginjang merupakan daerah perlintasan ke kawasan wisata di Kecamatan Marancar. Lokasi desa ini berdekatan dengan komplek perkantoran Bupati Tapsel yang sekarang menjadi salah satu destinasi wisata utama di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel)
 
“Saya optimis Huta Ginjang menjadi destinasi wisata terkenal. Namun, menciptakan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh kerja keras dan dukungan semua pihak  agar konsep desa agrowisata ini segera terwujud dengan baik,” katanya.

Menurut Dolly Pasaribu, ada dua poin sederhana yang harus segera dilakukan jika ingin mewujudkan Huta Ginjang destinasi wisata. Yakni kebersihan lingkungan dan keramahan penduduknya dalam menyambut wisatawan.
 

KAUM ibu punya sumber pendapatan baru dari mengumpul sampah setelah hadirnya program Bank Sampah di Desa Huta Ginjang. Waspada/Sukri Falah

Untuk kebersihan, di Desa Huta Ginjang telah hadir Bank Sampah. Sampah dikumpul dan diserahkan untuk ditabung di Bank Sampah. Setiap pekan, tabungan dihitung dan ditukar dengan uang. Kini, sampah menjadi sumber penghasilan baru di desa itu.
 
Bupati Tapsel mengapresiasi Kepala Desa Iman Siregar, yang di tengah Pandemi Covid-19 berinovasi memandirikan desanya. Yakni dengan memberdayakan lembaga desa sebagai pengelola wisata agro, yang secara otomatis mendorong peningkatan ekonomi warga.
 
Apresiasi rasa salud juga disampaikan Ketua HKTI Sumatera Utara Gus Irawan Pasaribu. Menurut anggota Komisi XI DPR RI ini, inovasi dan kreatifitas kepala desa yang didukung masyarakatnya tersebut merupakan sebuah langkah persiapan investasi jangka panjang.
 
“Tolong tetap jaga kekompakan. Saya optimis objek wisata ini punya daya tarik tinggi bagi wisatawan. Tentu itu akan membawa kebaikan jangka panjang bagi warga Desa Huta Ginjang, utamanya kebaikan di sektor perekonomian,” kata Gus Irawan. (WASPADA/Sukri Falah)
 

  • Bagikan