Waspada
Waspada » Kejahatan Korupsi Seret Masyarakat Lhokseumawe Ke Jurang Kemiskinan
Features Headlines

Kejahatan Korupsi Seret Masyarakat Lhokseumawe Ke Jurang Kemiskinan

Laila, 41, bersama anaknya sedang menerima bantuan dari Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Aceh beberapa waktu lalu. Keluarga Laila, telah menjadi potret kemiskinan di Lhokseumawe. Kejahatan Korupsi Seret Masyarakat Lhokseumawe Ke Jurang Kemiskinan. Waspada/Ist
Laila, 41, bersama anaknya sedang menerima bantuan dari Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Aceh beberapa waktu lalu. Keluarga Laila, telah menjadi potret kemiskinan di Lhokseumawe. Kejahatan Korupsi Seret Masyarakat Lhokseumawe Ke Jurang Kemiskinan. Waspada/Ist

POTRET warga miskin Lhokseumawe tiba-tiba viral di media sosial. Zahara, gadis 15 tahun terpaksa menjadi kuli bangunan karena desakan ekonomi. Siswi SMP ini bersama ibu, Laila, 41, dan dua adiknya terpaksa tinggal di gubuk Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Kondisi mereka, telah menyita banyak perhatian. Diantaranya, Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Aceh. “Kali ini kita membantu keluarga Zahra yang kurang mampu, Zahra merupakan siswa SMP Kota Lhokseumawe yang berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga untuk kehidupan sehari-hari sepulang sekolah terpaksa menjadi pekerja bangunan bersama sang ibu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelas Komandan Batalyon B Pelopor AKBP Ahmad Yani melalui Komandan Kompi-1 Batalyon B Pelopor Iptu Muhammad Nafis Luthfy, SH saat menyerahkan bantuan pada Jumat (5/1). Selain Zahara, masih banyak warga hidup miskin di bekas Kota Petro Dollar tersebut.

Menurut mahasiswa, kemiskinan di Lhokseumawe erat hubungnnya dengan korupsi. “Korupsi salah satu faktor terbesar yang membuat rakyat terus di ambang kemiskinan dan membuat Negara Indonesia sulit menjadi negara maju, pelaku tindak pidana korupsi harus mendapatkan Punishment (Hukuman),” tegas Demisioner Ketua BEM Unimal, Muhammad Fadli menanggapi kasus dugaan korupsi fiktif pada proyek pengamanan pantai Cunda-Meuraksa, Lhokseumawe, akhir Januari 2021. Proyek senilai Rp4,9 miliar sekarang ditangani pihak Kejaksaan Tinggi Aceh.

Pernyataan mahasiswa, tidak terlepas dengan sejumlah fakta. Dari hasil telusuran, beberapa kasus korupsi uang rakyat di Lhokseumawe telah terungkap. Kasus tersebut berhubungan langsung dengan bantuan untuk masyarakat bawah. Salah satu contohnya, korupsi dana desa senilai Rp360 juta dari Anggaran Pendapatan Belanja Gampong (APBG) 2019 di Ujong Pacu.

Selanjutnya, korupsi anggaran pengembangan usaha kecil senilai Rp745 juta, bersumber dalam APBK Kota Lhokseumawe tahun 2015. Korupsi bantuan ternak Rp14.505.500.000 pada Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kota Lhokseumawe dengan anggaran bersumber dari APBK tahun 2014. Disusul kasus dana hibah APBA tahun 2010 Rp1 miliar. Seluruh kasus tersebut, telah menyeret pelakunya ke penjara.

“Sampai saat ini, Kota Lhokseumawe masih menjadi salah satu daerah dengan posisi teratas kasus kemiskinan dan sulitnya lapangan kerja,” tambah Muhammad Fadli. Sehingga dia sangat berharap, para penegak hukum terus berusaha membongkar kasus korupsi di sana. Yaitu, kasus proyek pengamanan pantai Cunda-Meuraksa.

“Saat ini kita percayakan saja untuk mengusut tuntas dugaan Tindak Pidana Korupsi Proyek pembangunan Pengaman Pantai Cunda – Meuraksa sejumlah Rp4,9 miliar TA 2020,” harap M. Fadli terhadap kasus terbaru pembangunan pengamanan pantai Cunda-Meuraksa.

Memberantas korupsi, disinyalir merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sehingga warga Lhokseumawe tidak perlu lagi menetap di gubuk. Tanpa korupsi juga akan membuka kesempatan usaha warga, sehingga si gadis miskin tidak perlu menjadi kuli bangunan lagi. Waspada/Zainal Abidin

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2