Kapolres Dan Kapolsek Silih Berganti, Tawuran Di Belawan Tak Bisa Berhenti

Kapolres Dan Kapolsek Silih Berganti, Tawuran Di Belawan Tak Bisa Berhenti

  • Bagikan
MEDAN (Waspada): TAWURAN adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran.
MEDAN (Waspada): TAWURAN adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran.

MEDAN (Waspada): TAWURAN adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran.

Istilah tawuran atau bentrok antarkelompok warga tersebut sudah tak asing lagi bagi warga yang bermukim di pesisir Medan Utara Kota Medan atau tepatnya di Kecamatan Medan Belawan dan Medan Labuhan.

Betapa tidak, tawuran di Kota Belawan konon sudah terjadi sejak tahun 1970-an hingga sekarang ini masih saja terjadi. Jika dulu tawuran hanya terjadi di Kecamatan Medan Belawan, kini acap juga terjadi di Kecamatan Medan Labuhan, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Belawan.

Meski sudah banyak korban jiwa berjatuhan dan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat terkena lemparan batu-batu koral dan pecahan kaca botol, para pelaku tawuran yang ditangkap pihak Kepolisian namun tawuran tetap saja terjadi.

Penangkapan terhadap para pelaku tawuran ternyata tidak memberikan efek jera. Imbauan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan dari pihak Kepolisian ternyata tidak membuat warga bergeming. Buktinya, Muspika Medan Belawan dan Kapolres Pelabuhan Belawan sudah berkali-kali mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda untuk membahas bagaimana upaya mencegah dan mengantisipasi agar tawuran tidak terjadi lagi. Tapi, apa yang terjadi? Hasilnya nihil. Tawuran tetap saja terjadi dan terkadang nyaris bringas dan anarkis.

Para pelaku tawuran pun didominasi anak-anak di bawah umur dan para pemuda, sementara, kalangan orangtua sepertinya hanya jadi ‘penonton’ tanpa ada upaya untuk melerai atau menghentikan perseteruan yang notabene tidak diketahui apa penyebabnya secara pasti itu.

Kalangan orangtua sepertinya tak bisa menghentikan aksi tawuran tersebut. Bahkan, konon, di kalangan masyarakat Medan Belawan dan Medan Labuhan sendiri sempat tercetus omongan dari masyarakat jika Kapolres Pelabuhan Belawan dan Kapolsek Belawan silih berganti dari pejabat lama kepada pejabat baru namun yang namanya tawuran tak kan bisa berhenti.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Medan Labuhan Ustadz Achmad Fachruni menilai, terjadinya tawuran di Kecamatan Medan Labuhan dan Medan Belawan dilatarbelakangi beberapa faktor.

“Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya tawuran antarkelompok warga tersebut. Diantaranya faktor balas dendam, ketidakpedulian orangtua, minimnya sarana aktivitas remaja, ketegasan aparat keamanan yang kurang memadai dan tidak adanya lagi rasa kebersamaan dalam lingkungan masyarakat,” ujar Ustadz Achmad Fachruni kepada Waspada, Sabtu (25/9) saat ditemui Waspada di Masjid Raya Al Osmani Medan Labuhan baqda Shalat Zuhur.

Dikisahkan Ustadz Achmad Fachruni, awal terjadi tawuran yang terjadi sebelumnya tidak selesai meskipun telah dihentikan oleh pihak Kepolisian sehingga masing-masing kelompok yang bertikai masih menyimpan dendam.

“Dendam tersebut makin lama makin tersimpan dan sewaktu-waktu bisa pecah kembali sehingga terjadi tawuran yang berkelanjutan. Ironisnya, hanya karena masalah sepele sekaligus menjadi pemicunya,” sebut Ustadz Achmad Fachruni.

Ustadz Achmad Fachruni yang juga pengurus BKM Masjid Raya Al Osmani ini juga menambahkan, tidak adanya sarana aktivitas positif bagi remaja dan anak-anak usia sekolah juga menjadikan kalangan anak-anak dan remaja kehilangan kendali dan rentan terkontaminasi dengan penyalahgunaan Narkoba dan perjudian.

“Konon lagi, maraknya aktivitas peredaran Narkoba dan perjudian sehingga banyak generasi muda yang terjerumus ke dalamnya sehingga gampang tersulut emosi dan melakukan keributan atau tawuran,” tutur Ustadz Achmad Fachruni.

Ustadz Achmad Fachruni berharap agar tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda serta para kepala lingkungan berperan aktif, termasuk peran personil Bhabinkamtibmas dan Babinsa tidak bosan-bosannya melakukan pendekatan dan memberikan imbauan kepada masyarakat terutama anak-anak remaja dan kalangan orangtua agar mendidik dan menjaga anak-anaknya agar lebih banyak berdiam di rumah daripada berkeliaran di luar rumah terutama pada malam hari.

“Saya juga berharap agar Kapolres Pelabuhan Belawan yang baru bertugas selama beberapa hari agar mengintensifkan kinerja para Bhabinkamtibmas dan para Babinsa dari Koramil juga sangat diharapkan peran sertanya sehingga bisa mengantisipasi tidak terjadinya tawuran,” ujar Ustadz Achmad Fachruni.

Dijelaskan Fachruni, Polri sebagai pengayom dan pelindung rakyat juga harus bertindak tegas terhadap para pelaku tawuran sehingga ada efek jera dan para pelaku tawuran tidak mengulangi lagi tawuran tersebut sekaligus untuk menghapus pameo di masyarakat yang menyebutkan; Kapolres Pelabuhan Belawan dan Kapolsek Belawan silih berganti namun tawuran tak bisa berhenti.

“Saya yakin, Kapolres Pelabuhan Belawan yang baru AKBP Faisal Rahmat Husin Simatupang punya cara tersendiri untuk menghentikan ‘tradisi’, tawuran yang terjadi di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan sehingga kamtibmas di pesisir Medan Utara ini senantiasa aman dan kondusif serta aktivitas masyarakat dan geliat perekonomian di kota pelabuhan ini tetap berjalan aman,” harap Ustadz Achmad Fachruni. 

Masih Terjadi

Hingga Sabtu (25/9) sekira pukul 29:00 tawuran masih terjadi. Kali ini tawuran terjadi di Kelurahan Belawan Sicanang. Tiga hari sebelumnya, tawuran antar kelompok remaja dan pemuda terjadi di dua lokasi terpisah yakni di Jl. Taman Makam Pahlawan dan Jl. Stasiun. Kelompok warga Lorong Papan dan Gudang Arang terlibat saling lempar batu.

Aksi tawuran yang berlangsung di dua lokasi itu terjadi secara tiba – tiba. Belum diketahui penyebab masalahnya, namun kedua kubu yang terlibat tawuran dilengkapi senjata tajam, saling lempar batu di badan jalan tersebut. Akibatnya arus lalulintas jadi terkendala.

 Sejumlah personil Polres Pelabuhan Belawan dan Polsek Belawan terpaksa menembakan senjata gas air mata untuk membubarkan sekaligus menghentikan aksi tawuran yang telah meresahkan warga masyarakat dan para pengguna jalan raya yang hendak menuju Pelabuhan Belawan atau pun sebaliknya menuju Kota Medan. (andi aria tirtayasa)

  • Bagikan