HARI Jumat hari yang sakral bagi umat Islam. Di hari ini, tepatnya 28 Juni 2024, sosok yang dikenal kerabatnya sangat humble itu telah ‘selesai’ dengan kehidupan dunia ini, tepat berumur 69 tahun.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Almarhum sangat baik dengan yuniornya, tidak pernah merasa senior dan sangat mengemong. Saya salah satu yuniornya yang sering berhubungan langsung,” demikian Edward Thahir salah satu Redaktur senior di Harian Waspada, Senin (1/7) saat mengenang sosok ‘humble’ tadi.
Edu–demikian sapaan akrabnya–tampak sangat mengagumi pribadi seniornya tersebut. “Almarhum terakhir diamanahkan oleh pimpinan menjabat Redaktur Pelaksana di Harian Waspada, dan Alhamdulillah saya mengikuti jejak beliau, sempat memegang jabatan yang sama,” ujar Edu sedikit menghela nafas mencoba me-rewind kembali ingatannya.
Menurut Edu, kepribadian sosok ‘humble’ tadi sangat mumpuni dalam menjalankan berbagai amanah di keredaksian di salah satu media tertua di republik ini.
“Selain humble, ada satu yang selalu saya patri dari almarhum, yakni loyalisnya, itu terbukti almarhum yang mulai karirnya dari bawah di Harian Waspada sekitar tahun 1975 ini, menuntaskannya hingga pensiun sekitar beberapa tahun lalu,” ungkap Edu.
Ucapan salah satu yuniornya tadi persis sama yang diucapkan oleh kerabat lainnya sesama di Harian Waspada. Mulai dari Hendra DS, hingga generasi milineal, salah satunya Dedi Riono.
Sementara Adnan NS, mantan wartawan Harian Waspada untuk liputan Aceh lebih mendalam lagi berkisah soal sosok humble tadi. Dalam obituariumnya yang dilansir KBA.ONE salah media online berbasis di Aceh, Adnan mengupas habis biography sosok yang dikenal dengan nama Akmal AZ ini.
Di Waspada, Adnan menasbihkan Akmal sempat meletakkan dasar-dasar “keredaksian kecil” di Aceh. Untuk menjadi daya dan rasa memiliki surat kabar bernuansa keacehan, Akmal menyetujui pembukaan kolom satire “Cutiet Bacut” alias cubit sedikit, “Boh Rom-Rom Buleuen Puasa” atau Onde-Onde Bulan Puasa, dan “Aceh Singkat”.
“Kebaikan dan jasa baikmu tetap kami kenang sepanjang masa. Ilmu yang kau bagikan kepada para wartawan menjadi sedekah jariyah yang akan terus mengalir sepanjang masih berguna untuk orang lain, walau kita sudah tak bisa bertatap muka lagi,” ujarnya.
Inilah kisah biography Akmal Az yang disadur oleh Adnan;
Akmal AZ, pria kelahiran Medan, 20 Oktober 1955, ini meniti karier di Harian Waspada sejak 1975, kala bendera Orde Baru masih berkibar kencang.
Setamat Sekolah Tinggi Mesin Medan, Akmal masuk Waspada menjadi korektor, selepas itu menjadi layouter atau tukang desain perwajahan koran. Lambat laun, kariernya menaik menjadi redaktur rubrik Daerah Istimewa Aceh, hingga redaktur siang dan malam secara silih berganti.
Akmal pernah menjadi Kepala Perwakilan Harian Waspada Banda Aceh sejak 1983 hingga 1986, menggantikan Zainal Arifin alias Papa Pinpin. Jabatan ditinggalkan almarhum diisi Zulfan Idris.
Semasa Akmal memimpin perwakilan Waspada di Aceh, kantor surat kabar tertua di Sumatra ini mulai bersinar dan sering ramai dikunjungi wartawan lainnya. Halaman kantor di Jalan Cut Nyak Dhien (Muhammad Daudsyah) belakang SMEP kala itu, bak bursa seluruh surat kabar dan majalah terbitan Jakarta dan Medan.
Selain itu, Akmal juga melakukan beberapa terobosan. Saat itu, cetakan koran dalam jumlah besar yang dikirim dari Medan diangkut dengan minibus kecil merek Honda. Namun, kendaraan yang menggunakan penggerak rantai besar ini kewalahan.
Atas usulan Akmal, manajemen Kantor Pusat Waspada di Jalan Soeprapto 1 Medan, terpaksa memfasilitasi kendaraan khusus roda empat jenis Colt 2-T untuk keperluan antar jemput koran dari Bandara Blang Bintang, Aceh Besar. Setelah itu, dari pojok “kota kecil Cina” di Peunayong, koran Waspada didistribusikan ke berbagai sudut Banda Aceh hingga pelosok Aceh Besar.
Ini semua juga berkat peran besar para sub agen dan ankor alias anak koran. Saat itu, Waspada bertiras terbesar di Aceh, sebelum terbitnya surat kabar lokal Serambi Indonesia pada 9 Februari 1989. Pangsa pasar Waspada merajai hingga pelosok desa se-antero Aceh.
Pada 1986, Adnan, Akmal, M. Yusuf USA, dan Ismail M. Syah sepakat mengusulkan pembelian toko untuk kantor redaksi dan pemasaran Waspada Aceh.
Kebetulan asrama panggung Gajah Putih Kodam Iskandar Muda kontruksi kayu sedang berproses tukar guling asset dengan pihak swasta. Harga toko masa realisasi 1987 itu sekira Rp165 jutaan atau sekira seribu mayam emas. Harga ini dinego dan di-handle langsung oleh agen tunggalnya M. Yusuf USA, alias Mayu.
Melihat besarnya pasar koran ini, Sinar Pagi terbitan Jakarta mencoba berekspansi menjadi Sinar Pagi versi Aceh. Artinya, suratkabar dengan layout dan isi materi yang sama, dicetak ulang di Medan pada sore harinya dengan cara mengubah hari dan tanggalnya untuk keesokan harinya.
Koran manipulir ini diangkut dengan Bus PMTOH, persis pagi harinya telah beredar di Banda Aceh. Sementara Waspada diangkut siangnya dengan maskapai Garuda Indonesia.
Tentu Akmal berang dan menugaskan Adnan agar menyelidiknya bagaimana proses masuknya surat kabar jalur tikus ini. Muhammad Said, Tokoh Pers dan Pendiri Waspada ikut mencela praktik jahat ini dan melayangkan protes keras kepada SPS Pusat, hingga peredaran “lorong gelap” itu harus dhentikan seketika itu juga.
Senior yang Tak Pilih Kasih
Di mata Adnan–juga di mata para sejawat lainnya–Akmal terkenal sebagai wartawan low profile yang murah senyum dan tak pandai berneko-neko. Sifat membimbing, mengedukasi dan memotivasi para juniornya tanpa pilih kasih dilakukan dengan kesabaran. Makanya rekan-rekan wartawan Waspada di Aceh dan Sumut sangat merasa kehilangan mendapat berita kepergiannya sosok sang redaktur ini.
Apalagi meninggalnya terkesan tiba-tiba tanpa didahului masa kesakitan panjang. “Ayah tidak sakit, Om, cuma mengalami tekanan asam lambung sekitar Kamis malam, dan pada Jumat paginya mengalami kedinginan luar biasa, hingga akhirnya meninggal tanpa pesan,” ungkap Mursal Alfa Iswara, anak ketiga Akmal yang lahir di Banda Aceh.
Walaupun bukan orang Aceh, keterpautan emosionalnya dengan Aceh sangatlah kuat. Ia menabalkan Sultan Aceh pada nama salah seorang anaknya, Iskandar Muda. Selain Mursal dan Iskandar, Akmal punya dua putra lagi yaitu Imran Faisal dan Afriandy.
Akmal kerap memboyong anak dan cucunya berkeliling sembari menikmati keindahan alam Aceh, sekaligus bernostalgia sambil makan dan mencemplungkan diri dalam kebiruan air laut Ulee Lheue, Ujong Batee, Lhoknga dan Lampuuk.
Suami Fatmawati ini adalah putra dari tujuh bersaudara pasangan Ali Zaini Asmah. Tak banyak yang tahu kalau mereka berasal Koto Piliang, Singkarak, Sumatera Barat. Di antara tujuh bersaudara ini, termasuk Akmal, tak satu pun yang membubuhkan ‘Piliang’ di ujung nama. “Entahlah, pokoknya tidak ada yang menggunakan kata itu,” sebut Akmal saat tahu kalau Adnan baru kembali dari perbukitan Desa Suliak Ayi 2019 silam.
“Tapi, sekarang saya harus menyebutnya di sini. Akmal Ali Zaini Piliang, terima kasih atas persahabatan yang terjalin sekian puluh tahun, hingga kita menua, hingga rambut memutih. Semoga Allah SWT membalas ke lapangan hatimu selama ini dengan kelapangan di hamparan kuburanmu. Selamat jalan jurnalis senior Harian Waspada,” demikian Adnan Nyak Sarong mengakhiri obituariumnya.
R Anwar
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.