Waspada
Waspada » IJECK “BERINGIN Dan ULAMA”
Features Headlines Nusantara

IJECK “BERINGIN Dan ULAMA”

IJECK Calon Tunggal” Headline Harian Waspada, Jumat (10/7), sebagian orang sangat mengejutkan tapi bagi para politisi hal itu biasa biasa saja langkah politik yang diambil #MusaRajekshah alias Ijeck.

Aku salah seorang yang sedikit terkejut dengan langkah politik Ijeck.

Sejak awal Ijeck yang sudah cukup tersohor di Medan dengan berbagai aktifitasnya sejak remaja baik di bidang otomotif, kepedulian terhadap masyarakat bawah dengan berbagai organisasi sosial yang dia ikuti dan pimpin, ditambah lagi kini sebagai Wagub Sumut tentu sangat dikenal seluruh lapisan masyarakat (Sumut).

Sebagai orang muda yang “nyentrik” namun memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat yang kurang mampu menambalkan dirinya sebagai “dermawan muda”. Ijeck seakan anak muda yang sempurna dan bersahaja dalam tutur kata kepada tiap lawan bicaranya.

Seperti pernah Aku tuangkan dalam tulisan saat Pilgub Sumut 2018 berlangsung, berjudul “Ijeck Dilingkaran Ulama dan 212” sejak awal tak begitu tertarik dengan dunia politik.

Pasangan ERAMAS dalam Pilgub Sumut, Ijeck lah yang menjadi sasaran tembak besar lawan politik. Berbagai serangan dan hantaman bertubi-tubi datang dari segala penjuru angin. Melihat situasi itu, Aku meluncurkan tulisan berjudul “Pakar Hukum Pidana: Ijeck Jangan Dijadikan Politisasi Pilkada Sumut”.

Tak cukup sampai situ, serangan hilir berganti. Ijeck sasaran tembakan empuk, namun bukan #AnakMudaMedan namanya kalo Ijeck tak melawan. Tapi perlawanannya santun, tak menyakiti lawan yang menggempurnya. Suatu perlawanan beretika, tanpa mengedepankan politik untuk menyerang sang lawan.

Padahal, saat itu Ijeck tidak saja berada ditengah gelanggang, tetapi juga “main dan dimainkan” dalam arena politik.

Dari berbagai sudut sudut itulah meluncur pula tulisan ku berjudul “Ijeck dan Serangan Politik”.

Tiga judul tulisan di Harian Waspada, terdorong dari komunikasi kami berdua melalui jejaring WhatsApp. Tulisan itu juga sebagai bentuk mewakili “perasaan” #AnakMedan di perantauan khususnya Jabodetabek yang tak ingin Sumut di pimpin orang dalam waktu sekejap punya KTP warga Kota Medan.

Itulah Ijeck yang dulu.

Bagaimana dengan sepak terjang Ijeck setelah 2 tahun menjadi Wagub Sumut?

Sejak resmi dilantik jadi Wagub baru sekali kami bertemu, saat itu Ijeck menandatangani MoU dengan Pemerintah Jepang melalui Kedutaan Jepang untuk Indonesia di salah satu hotel kawasan Bundaran Hotel Indonesia terkait pengelolaan sampah di Kota Medan.

Komunikasi jejaring WhatsApp kami juga tak lagi sesering dulu. Hingga Aku tak begitu mengetahui sepak terjang Ijeck yang sehari harinya berpakaian Dinas ASN dan disibukan dengan berbagai agenda dan pekerjaan mengurus masyarakat Sumut. Bagi Ijeck, kawan tetaplah kawan dengan prinsip yang pernah diungkapkan menjaga perkawanan “yang jauh mendekat, yang dekat merapat”.

Langkah politik, tentu sudah sangat dipertimbangkan Ijeck. Sebelum nanti menerima keputusan Musda X Golkar akhir Juli 2020 ini, maka sebagai orang yang pernah ngobrol berdua, hanya sedikit saran yakni dari tiga judul yang pernah ku tulis.

Pertama, Ijeck siap siap di “Politisasi dan Menerima Serangan Politik”.

Kedua, siap siap kemungkinan tak lagi berada di “Lingkaran Ulama”.

Di sini, Ijeck tentu saja sudah mempertimbangkan dua hal itu dengan segala konsekuensinya baik sebagai pejabat sekaligus sebagai politisi pohon beringin.

Dari amatan ku, juga ada dua hal yang mendorong keputusan langkah politik Ijeck.

Pertama, Ijeck menjadi Ketua Golkar Sumut dikarenakan carut marutnya Musda X Golkar. Kedua, dorongan politik yang memanfaatkan kedudukan Ijeck sebagai Wagub.

Tanpa dipungkiri, sepak terjang dan ilmu Ijeck sangat lah dewasa dan mempuni dalam memimpin masyarakat Sumut termasuk pola pola berpolitik praktisnya.

Tetapi dua hal harus pula diingat Ijeck, pertama ERAMAS menang bukan karena Edy-Ijeck sebagai politisi tetapi karena kehendak Rakyat Sumut. Kedua, bisa terjadi “gap” dengan Edy yang sampai hari ini tidak berada di partai politik.

Kita lihat nanti, apakah dorongan beringin menjadikan Ijeck semakin teduh dan tetap harmonis dengan Edy dalam memimpin Rakyat Sumut. Apakah langkah politik Ijeck tidak berbenturan dengan langkah Edy termasuk bisa mempertahankan dirinya di Lingkaran Ulama?

Hanya Ijeck yang bisa menjawab dengan untaian langkah politiknya ke depan membawa manfaat dan kemaslahatan bagi Masyarakat Sumut khususnya.

Pepatah mengatakan, “Dorongan tak selalu membuat kita ke atas, ada kalanya dorongan itu membuat kita jatuh ke jurang”. Hasriwal As Hasibuan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2