Waspada
Waspada » Ibu Terjerat UU ITE, Bayinya Ikut Merasakan Hidup Di Penjara
Aceh Features Headlines

Ibu Terjerat UU ITE, Bayinya Ikut Merasakan Hidup Di Penjara

ISMA Khaira, 32, warga Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara berada di penjara Lapas Kelas II B Lhoksukon karena harus menjalani masa hukuman tiga bulan bersama anaknya yang baru berusia enam bulan terkait UU-ITE. Waspada/Maimun Asnawi
ISMA Khaira, 32, warga Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara berada di penjara Lapas Kelas II B Lhoksukon karena harus menjalani masa hukuman tiga bulan bersama anaknya yang baru berusia enam bulan terkait UU-ITE. Waspada/Maimun Asnawi

BERMAKSUD agar menjadi alat bukti, malah unggahan seorang ibu rumah tangga di media sosial menjerat dirinya ke jeruji besi.

Mirisnya, bayinya baru berusia enam bulan terpaksa juga merasakan pengapnya penjara selama tiga bulan.

Isma Khaira, 32, namanya.

Warga Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, tak menyangka video pertengkaran unggahannya dengan orang penting di desanya berbuah pahit.

“Awalnya video itu bukan untuk diunggah di media sosial. Video itu saya unggah di dinding Facebook Karena saya merasa geram dengan Pak Geuyik (kepala desa) T Bakhtiar. Dia melaporkan keluarga kami ke Polsek Seunuddon tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Niat saya, agar masyarakat bisa melihat sendiri kejadian yang sebenarnya,” sebut Isma Khaira.

Karena unggahan video tersebut, Isma Khaira tersangkut kasus tindak pidana Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE).

Dalam amar putusan Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Isma Khaira divonis tiga bulan penjara dipotong masa tahanan kota.

“Niat saya, agar masyarakat bisa melihat sendiri kajdian yang sebenarnya,” sebut Isma.

Awalnya kata Isma Khaira, Bakhtiar melaporkan keluarganya melakukan pengeroyokan, namun karena tidak ada bukti kuat akhirnya dia melaporkan ibunya dengan sangkaan telah memukul kepalanya.

Itu setelah yang bersangkutan melihat video yang diunggah Isma Khaira.

“Ibu saya dikenakan tindak pidana ringan (Tipiring) dan masalah ibu saya sudah selesai. Selanjutnya saya dijerat dengan UU-ITE karena telah mengupload video tersebut,” kata Isma Khaira saat dikonfirmasi Waspada di Lapas Kelas II B Lhoksukon.

Ditanya bagaimana cerita hingga pertengkaran keluarganya dengan Geusyiek Bakhtiar terjadi di rumahnya, Isma Khaira menceritakan, ketika Bakhtiar baru beberapa hari menjabat sebagai Geusyiek (kepala desa) Lhok Puuk.

Kejadian itu terjadi dalam bulan Maret tahun 2020.

Sebelum Bakhtiar menjabat sebagai geusyiek, Lhok Puuk dipimpin oleh Cut Ali.

Pada masa itu, Cut Ali telah menyelesaikan sengketa tanah keluarga Isma Khaira dengan baik hingga menghasilkan keputusan dengan batas tanah yang sudah disekapati dua belah pihak.

Karena itu, ayah kandung Isma Khaira memancangkan 150 tiang pagar di batas tanah yang sudah disepakati.

Namun beberapa hari kemudian, pemilik tanah yang pernah bersengketa itu memotong 150 tiang pagar yang sudah dipancangkan oleh Hasyim Ali ayah kandung Isma Khaira.

Karena itu, Hasyim Ali melaporkan kejadian tersebut kepada Bakhtiar dan meminta untuk diselesaikan persoalan itu.

“Ayah khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan nanti, karena kami semua perempuan,” katanya.

Saat ayah melaporkan hal itu, Geusyiek Bakhtiar mengatakan akan menyelesaikan masalah tersebut.

Namun setelah cukup lama belum juga diselesaikan hingga Hasyim Ali meminta bantuan Tuha 4.

Tuha 4 menyampaikan masalah itu kepada Kepala Dusun Timur, Musli dan diteruskan kepada Kepala Dusun Tengoh, Safran.

“Safran menyampaikan hal itu kepada Geuyiek Bakhtiar. Waktu itu pak geusyiek bilang, masalah sengketa tanah kami tidak sanggup diselesaikan. Kalau ingin diselesaikan maka persoalan ini harus dibawa ke pengadilan, dan informasi ini disampaikan Safran ke ayah kami. Mendapat jawaban seperti itu, ayah kami bilang apa juga orang tua kampung kalau masalah kecil saja tidak sanggup diselesaikan,” katanya.

Setelah Safran pulang, kata Isma Khaira, lima menit kemudian datang Geusyiek Bakhtiar ke rumahnya dengan sepeda motor.

“Di sinilah letak persoalan antara kami dengan Geusyiek Bakhtiar. Dia datang ke rumah sambil marah. Lalu ibu datang meleraikan dan terjadi tolak menolak hingga tangan ibu terkena di kepala Geusyiek Bakhtiar dan itu tidak sengaja,” katanya.

Saat itu kata Isma Khaira, T Bakhtiar ditarik keluar dari pekarangan rumah oleh abang ipar, adik kandung dan suami Isma Khaira serta Safran.

Sampai di jalan, sebut Isma, Bakhtiar menelepon seseorang dan melaporkan kalau dia dikeroyok warganya.

Selanjutnya Bakhtiar pulang ke rumahnya dan tidak lama kemudian keluar dengan mengendarai mobil.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman Isma Khaira telepon memberitahukan kalau Bakhtiar telah melaporkan keluarganya ke Polsek Seunuddon tentang peristiwa tersebut.

“Teman itu bilang ke saya, kalau Bakhtiar telah melaporkan keluarga kami melakukan pengeroyokan terhadap dirinya ke Polsek Seunuddon. Padahal tidak ada yang mengeroyok dia waktu itu,” kata Isma.

Menjawab Waspada, Isma Khaira mengatakan, saat kejadian itu terjadi adiknya sempat merekam video.

Video itu sengaja direkam apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan ada bukti visual, karena situasi saat itu sedang buruk.

“Lalu saya katakana sama adik saya. Bawa HP kamu kemari, biar saya unggah video itu, agar masyarakat bisa melihat bagaimana kejadian yang sebenarnya. Itu spontan saya lakaukan karena merasa geram dengan Baktiar yang melaporkan mereka melakukan pengeroyokan. Saat pergi dari rumah kami tidak ada kancing baju yang putus, tapi di Polsek semua kancing bajunya putus,” sebutnya.

Sebelum kasus ini diselesaikan di pengadilan, persoalan ini pernah diusahakan untuk diselesaikan secara damai.

Namun Bakhtiar meminta keluarganya memasang iklan permohonan maaf selama sebulan di media lokal.

Kemudian mencetak lima spanduk permohonan maaf untuk dipasang di lima titik yang telah ditentukan termasuk di Lhoksukon.

Bukan hanya itu, keluarga Isma Kahira diminta ganti rugi Rp15 juta, potong kambing dan menepung tawari di meunasah.

“Kami tidak sanggup seperti yang diminta Geusyiek Bakhtiar, tetapi kami menawarkan kalau kami sanggup memasang iklan permohonan maaf di koran lokal tidak sebulan dan dalam ukuran kecil. Uang ganti rugi kami sanggupi Rp5 juta. Satu spanduk dan dipasang di meunasah (surau) dengan tepung tawar seadanya. Tapi ini tidak diterima dan akhirnya berlanjut hingga saya divonis tiga bulan penjara. Karena anak saya baru berusia 6 bulan, maka dia juga ikut masuk penjara bersasama saya,” ucap Isma Khaira.

Terakhir saat ditanya Waspada bagaima perasaan dia saat ini.

“Hidup di penjara sangat tidak enak. Di sini banyak nyamuk. Kasihan anak saya, baru berumur 6 bulan sudah merasakan hidup di penjara. Saya dan anak saya sudah beberapa hari di penjara ini,” ucapnya lirih. Maimun Asnawi SHI MKomI

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2