Didakwa Cemarkan Nama Baik, Marianty Menyesal Dan Minta Maaf Di Persidangan
banner 325x300

Didakwa Cemarkan Nama Baik, Marianty Menyesal Dan Minta Maaf Di Persidangan

  • Bagikan
MARIANTY saat menjalani sidang di PN Medan. Terdakawa yang terjerat kasus pencemaran nama baik melalui media sosial, menyesal dan minta maaf di persidangan. Waspada/ Rama Andriawan
MARIANTY saat menjalani sidang di PN Medan. Terdakawa yang terjerat kasus pencemaran nama baik melalui media sosial, menyesal dan minta maaf di persidangan. Waspada/ Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): SADAR akan perbuatannya, terdakwa Marianty, yang terjerat kasus pencemaran nama baik melalui media sosial, tampak melunak di persidangan. Ia tak lagi bersikukuh menyangkal perbuatannya yang telah mencemarkan nama baik korban Josielynn Pinktjoe.

Dalam persidangan yang diketuai Majelis Hakim Denny Lumbantobing itu, terdakwa Marianty mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada korban atas perbuatannya tersebut.

“Saya menyesali perbuatan saya majelis, saya meminta maaf kepada korban atas postingan saya, yang mana telah mencemarkan nama baik baik dan menjatuhkan harkat martabat korban melalui postingan saya,” ujar terdakwa Marianty.

Di hadapan Majelis Denny Lumbantobing, terdakwa juga mengakui bahwa akibat perbuatan itu, psikologis anak-anaknya jadi terganggu.

Menurut Marianty, postingan yang diunggahnya sebenarnya bukanlah ditujukan kepada korban melainkan kepada Jeendry yang merupakan suaminya.

“Benar majelis, postingan saya bukan ditujukan kepada korban namun saya tujukan kepada suami saya. Karena saya kesal melihat sikap suami saya yang berubah,” kata Marianty.

Mendengar pengakuan terdakwa, majelis hakim kembali mempertegas ucapan terdakwa tersebut. “Saya pertegas kembali, tulisan yang terdakwa posting itu ditujukan kepada siapa,” tanya hakim Denny Lumbantobing.

Menjawab hal itu, terdakwa kembali mengatakan postingan tersebut ditujukan kepada suaminya, yakni Jeendry.

“Kamu mungkin lagi tak konsen ya, postingan kamu jelas-jelas ditujukan kepada korban dengan mem-posting foto korban dengan tulisan mencemarkan nama baik korban. Tapi sudahlah biar kami yang menilainya,” ujar majelis hakim Lumbantobing.

Saksi Ahli Bahasa

Di sidang itu, jaksa Dwi Meily Nova juga menghadirkan saksi Ahli Bahasa Imran SS MHum dari Balai Bahasa Sumatera Utara yang menjelaskan, narasi bahasa dalam postingan yang diunggah terdakwa di media sosial Facebook memenuhi unsur penghinaan dalam perkara tersebut.

“Memang ada beberapa kata dan ungkapan dalam postingan yang diunggah terdakwa itu yang memenuhi unsur penghinaan. Beberapa contohnya narasi menyangkut kata janda dan perebut suami orang yang di posting terdakwa di facebook,” sebutnya.

Selain itu Imran juga mengemukakan bahwa pada postingan yang di unggah terdakwa di media sosial Facebook itu, ada unsur-unsur dari ungkapan yang disampaikan terdakwa bahwa seolah korban menjual dirinya.

“Narasi bahasa dalam postingan terdakwa itu juga bisa diartikan bahwa korban dianggap terdakwa sebagai orang yang suka mengambil suami orang,” sebut Imran.

Mengutip dakwaan jaksa Dwi Meily Nova mengatakan kasus bermula pada Selasa 10 Maret 2020 lalu, terdakwa mengirimkan foto dengan kalimat yang bermuatan penghinaan terhadap korban melalui akun medsos miliknya di Insta Story Instagram dan Cerita Facebook.

Akibat perbuatan terdakwa melanggar Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) UU RI No.19 tahun 2016 perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE Subs Pasal 45 ayat (3) UU RI No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (Rama Andriawan/F)

  • Bagikan