Waspada
Waspada » Derita Nelayan Tradisional: Mulai Dari Pukat Trawl, Cuaca Ekstrim Dan Solar Langka
Features

Derita Nelayan Tradisional: Mulai Dari Pukat Trawl, Cuaca Ekstrim Dan Solar Langka

MEDAN ( Waspada): RAHMAN,50,  terlihat lesuh duduk di pinggiran tangkahan nelayan Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan.  Pandangan kosongnya ke arah lautan luas seolah-olah memperlihatkan kondisinya yang sedang memikirkan kondisi nasib dan keluarganya.

Rokok yang dihisapnya  tak terasa nyaris membakar bibirnya.
Tatkala panas mulai terasa, Rahman pun spontan membuang puntung rokok dari bibirnya.
Hari itu, Sabtu (2/1), Rahman tak melaut. Padahal, setiap harinya nelayan tradisional ini mencari nafkah di laut bersama sejumlah nelayan tradisional lainnya yang bermukim di pesisir perairan Laut Belawan.
Hari itu pula, Rahman dan seluruh nelayan tradisional tak berani melaut. Hanya kapal-kapal pukat trawl milik pengusaha bermata sipit yang leluasa menangkap ikan di tengah ombak dan gelombang tinggi yang berani melaut karena dilengkapi dengan kapal besar dan teknologi tinggi.
Ya. Cuaca ekstrim yang masih melanda perairan Laut Belawan dan Selat Malaka membuat para nelayan lebih memilih berdiam di rumah atau memperbaiki jaring-jaring yang rusak.
Menurut Rahman, selama Desember 2020 hingga di penghujung Januari 2021, cuaca senantiasa ekstrim sehingga bisa dihitung dengan jari berapa kali nelayan mencari nafkah.
“Kalaupun melaut, kami hanya menangkap ikan di pinggiran saja karena tak berani melawan terjangan ombak tinggi di tengah lautan,” jelas Rahman.
Rahman menyebutkan, sudah bertahun-tahun tangkapan ikan nelayan tradisional dan nelayan berskala kecil sangat minim karena puluhan kapal-kapal pukat trawl juga menangkap ikan di zona tangkap nelayan tradisional.
Ironisnya, tambah Rahman, tak satu pun kapal-kapal pukat trawl yang ditangkap oleh aparat penegak hukum yang tergabung dalam Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) apalagi oleh pihak Kementerian Perikanan dan Kelautan meskipun kapal-kapal pukat trawl tersebut banyak sandar di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Gabion Belawan.
“Saat cuaca cerah hasil tangkapan minim karena dampak keberadaan kapal-kapal pukat trawl yang setiap harinya merajalela menangkap ikan hingga ke zona tangkap nelayan tradisional,” tutur Rahman.
Sementara, tambah Rahman, di saat cuaca ekstrim nelayan tak berani melaut sehingga membuat ekonomi keluarganya semakin memprihatinkan.
Minimnya hasil tangkapan membuat penghasilan nelayan semakin berkurang sementara kebutuhan  untuk mencari nafkah seperti membeli minyak solar wajib dipenuhi, apalagi keberadaan minyak solar bersubsidi terbilang langka untuk diperoleh oleh para nelayan tradisional.

Non Subsidi

Selama ini, nelayan terpaksa membeli minyak solar dari para pengepul minyak dengan harga non subsidi.
“Kalau sedang tak melaut, terpaksalah kerja serabutan. Jadi buruh bangunan dan jadi tukang ojek,” tutur Rahman.
Kondisi yang sama juga dirasakan oleh para nelayan yang bermukim di Perkampungan Nelayan Seberang Kelurahan Belawan I dan di tangkahan nelayan Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.
Din ,52, merasa  khawatir dengan alat tangkap ikan yang dipasang di perahu bakal rusak akibat diterjang ombak besar dan angin kencang.
“Banyak teman-teman nelayan tak turun melaut akibat cuaca buruk dari beberapa hari kemarin,” kata Din, nelayan tradisional yang menjual hasil tangkapannya di TPI Bagan Deli.
Din mengaku, beberapa hari tidak melaut membuat stok solat bersubsidi masih bisa digunakan tatkala cuaca sudah menguntungkan.
Sementara Ahmad , 46,  nelayan Medan Marelan, sebelum  dan sesudah Tahun Baru 2021 dirinya tak melaut akibat cuaca buruk di tengah laut.
“Kita takut melaut Bang! Cuaca sangat buruk di laut,” kata Ahmad.
Disebutkan  Ahmad, karena para nelayan banyak yang tidak melaut membuat kegiatan pelelangan ikan ikut terhenti, karena minimnya pasokan ikan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bagan Deli.
Sementara para nelayan terpaksa beralih profesi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Ada yang memperbaiki pukatnya dan yang lain lebih memilih menjadi buruh bangunan,” ujar Ahmad.
Ahmad juga berharap di Tahun  Baru 2021 pemerintah lebih memprioritaskan kesejahteraan nelayan seperti memberikan bantuan modal maupun alat tangkap dan perlengkapan nelayan lainnya.
“Selama ini keberadaan nelayan tradisional semakin tersisihkan akibat merajalelanya kapal-kapal pukat trawl. Akibatnya, penghasilan nelayan tradisional sangat minim dan makin sengsara,” sebut Ahmad.
Diakui Ahmad, cuaca ekstrim memang tak bisa diatasi karena itu merupakan peristiwa alam namun, praktek merajalelanya kapal-kapal pukat trawl dan solar subsidi yang semakin langka sampai sekarang tak mampu diatasi oleh pemerintah sehingga timbul kesan seolah-olah pemerintah tak memperdulikan kesejahteraan nelayan tradisional.
Merajalelanya kapal-kapal pukat trawl, solar bersubsidi, ombak dan gelombang tinggi membuat derita nelayan tradisional semakin berkepanjangan. Entah kapan kami bisa keluar dari derita yang berkepanjangan ini,” keluh Ahmad.
Sementara itu, Camat Medan Belawan Ahmad SP mengimbau para nelayan mewaspadai cuaca buruk dan lebih memperhatikan keselamatan dirinya.
“Bila cuaca buruk, ombak dan gelombang tinggi sebaiknya tidak usah melaut demi keselamatan diri,” imbau Camat Medan Belawan.(andi arya tirtayasa)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2