Waspada
Waspada » Denda Candrasih, Kartini Tangguh Dari Lombok Utara
Features

Denda Candrasih, Kartini Tangguh Dari Lombok Utara

Denda Cendrasih tengah menenun kain asli Lombok Utara.

“Assalamualaikum para pemirsa radio sekolah perempuan darurat siaga  bencana Covid-19 Nina Bayan frekuensi 107,7 MH. Berjumpa lagi dengan saya Derna Candrasih dalam siaran rubrik Lapak Kita,”

Suara Denda Candrasih terdengar cukup merdu saat diminta menirukan gayanya saat siaran di Radio sekolah perempuan darurat siaga  bencana Covid-19 Nina Bayan. Rubriknya, Lapak Kita, adalah tempatnya ‘cuap-cuap’ tentang berbagai macam produk UMKM yang dihasilan kawan-kawannya, para perempuan anggota Sekolah Perempuan Nina Bayan.

“Saya siaran tentang produk-produk yang dihasilkan sesama anggota. Termasuk produk tenun yang selama ini telah menghidupi saya dan anak saya,” ujar Candrasih.

Perempuan 37 tahun ini mengaku tidak bermimpi menjadi penyiar radio. Sekolah saja cuma sampai kelas 6 SD. Modalnya hanya ilmu yang diraihnya selama bergabung dengan sekolah perempuan Nina Bayan sejak 2014 lalu.

“Ya, seperti sebuah sekolah sebenarnya. Sekolah perempuan sudah memberikan saya banyak ilmu pengetahuan dan wawasan baru. Dengan itu, saya dan banyak kawan-kawan jadi punya rasa percaya diri yang luar biasa,” kata Candrasih, dengan suara mantap.

Sudah sejak awal berdirinya Radio Sekolah Perempuan pada Januari 2021, Candrasih memberanikan diri ikut siaran. Dia merasa dunia siaran sebagai tantangan baru. Eksistensinya sebagai perempuan desa yang melek teknologi pun, sedikit terangkat. Dia lantas mengucap terima kasih tak terhingga kepada pihak-pihak yang sudah memberi kesempatan perempuan-perempuan kampung sepertinya untuk bergelut tak hanya urusan domestik.

Kepercayaan diri yang dibangun Sekolah Perempuan bagi Denda Candrasih adalah pintu menuju jalan yang lebih baik. Pasalnya,
Denda Candrasih juga penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sejak dalam kondisi hamil, Candrasih telah ditinggal pergi suami entah kemana. Tanpa bekal yang cukup, Candrasih bertekad melahirkan dan membesarkan sendiri anaknya. Kini, putra semata wayangnya sudah berusia 12 tahun dan sangat cerdas.

“Semangat saya untuk terus maju, seiring dengan tambah besarnya anak saya. Saya bertekad akan membesarkannya dari jerih payah saya sendiri sampai saya benar-benar tidak sanggup lagi,” ujar Candrasih. Sampai pada pembicaraan soal buah hatinya, Candrasih tampak sentimentil. Suaranya terputus dan matanya basah.

Dia segera menggeleng keras saat ditanya kenapa tidak mau bekerja di luar negeri seperti kebanyakan perempuan di daerahnya. Menurutnya, tidak ada pengasuhan yang lebih baik ketimbang pengasuhan seorang ibu.

Bertahun-tahun sebelum bergabung dengan Sekolah Perempuan, Candrasih membiayai kehidupan bagi anaknya dengan bekeja serabutan. Mulai dari jadi petani upah, sampai jadi buruh angkut pasir.

“Apa saja saya lakoni asal halal dan bisa dekat dengan anak saya. Saya tahu itu berat, tapi lebih baik ketimbang melihat anak saya kurang kasih sayang ibu,” ujarnya, lirih.

Selain Denda, ada puluhan bahkan ratusan perempuan hebat lainnya yang lahir dari perjuangan hebat sekolah perempuan Nina Bayan. Mereka berhasil meraih kepercayaan diri yang lebih baik lagi, berkat wawasan dan bimbingan sejumlah aktivis dan relawan pro perempuan dari KAPAL

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga saat meresmikan Radio Sekolah Perempuan Darurat Covid-19, di Desa Sukadana Kecamatan Bayan, mengaku sangat kagum dengan semangat yang ditularkan para perempuan Bayan. Dia mengaku sangat mendukung keberadaan radio yang telah menjadi bukti nyata kekompakan para perempuan di Kecamatan Bayan.

“Perempuan hebat adalah kunci lahirnya generasi hebat,” ujar Menteri PPPA, Bintang Puspayoga.

Kehebatan perempuan di Lombok Utara, khususnya di Kecamatan Bayan telah terbukti saat terjadinya gempa di Lombok, 2017 lalu.  Bencana meluluhlantahkan kehidupan banyak orang, tapi lambat laun semuanya bangkit. Salah satu yang mempercepat pemulihan adalah kuatnya semangat gotong royong antar warga, yang dimotori para perempuan.

Kepala Dinas Ssial dan PPPA Lombok Utara, Faisol, mengatakan, di tengah Pandemi Covid-19, para perempuan yang tergabung di Sekolah Perempuan Nina Bayan, kembali beraksi menahan kehancuran ekonomi. Para perempuan Bayan berlomba mengasah kemampuan membangkitkan produk lokal dan mempromosikan sendiri lewat radio yang mereka perjuangkan.

Pendamping Lapangan Radio Sekolah Perempuan, Sri Budi Utami di hadapan Menteri PPPA Bintang Puspayoga mengatakan, banyak kemajuan sejak sekolah radio mengudara. Para perempuan Bayan dan sekitarnya jadi lebih melek teknologi. Kepercayaan diri juga bertambah, karena semua saling mendukung.

Radio ini mulai mengudara pada Januari 2021 di gelombang 107,7 MH. Ia menceritakan selain memberikan informasi terkait upaya pencegahan Covid-19 dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, Radio Sekolah Perempuan “Nina Bayan” juga turut serta mempromosikan hasil produksi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan binaan Sekolah Perempuan.

“Salah satu program radio kami adalah “Lapak Kita”. Melalui program ini kami membantu pelaku UMKM perempuan di Kecamatan Bayan untuk mempromosikan produk mereka. Kami juga menyiarkan Program “Kelas SMP Mari Belajar” yang menghadirkan guru tingkat SMP dari berbagai mata pelajaran. Program ini bertujuan untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan belajar siswa SMP di Kecamatan Bayan yang saat ini masih melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring,” jelas Sri Budi Utami.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2