Waspada
Waspada » Demi Belajar Di bangku Sekolah, Anak Sabahotang Bertaruh Nyawa Di Sungai Barumun
Features Headlines Sumut

Demi Belajar Di bangku Sekolah, Anak Sabahotang Bertaruh Nyawa Di Sungai Barumun

ANAK pelajar warga Desa Sabahotang, Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Palas saat menyebarangi Sungai Barumun untuk memperoleh pelajaran di bangku sekolah. Wasapada/Ist
ANAK pelajar warga Desa Sabahotang, Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Palas saat menyebarangi Sungai Barumun untuk memperoleh pelajaran di bangku sekolah. Wasapada/Ist

RASA cemas dan takut terhadap derasnya aliran Sungai Barumun di Desa Sabahotang, Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Padanglawas (Palas) tidak menyurutkan tekad pelajar yang mengalami dampak ambruknya Jembatan Gantung Sabahotang yang hingga kini belum diperbaiki untuk mengikuti pelajaran di bangku sekolah.

Sejak pertengahan bulan ini atau sejak Pemkab Palas mengizinkan sekolah untuk dibuka, seiring dengan terbitnya keputusan bersama Menteri Pendidikan & Kebudayaan dan menteri kesehatan tentang panduan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 No 01/KB/2020, No 516, No HK 03 01/Menkes/363/2020, No 440-882 Tanggal 7 Agustus 2020.

Saat fajar tiba, puluhan pelajar dari tingkat SD hingga SLTA sudah mulai bergegas dan berkumpul untuk menyeberang bersama melintasi derasnya arus Sungai Barumun yang masih berada dikawasan Desa Sabahotang.

Hanya Berbekal niat dan harapan memproleh ilmu di bangku sekolah, para pelajar itu memberanikan diri untuk menyeberangi salah satu Sungai terpanjang di wilayah Tabagsel tersebut meski bila naas, nyawa jadi taruhan.

Sebelum menyeberang, mereka terlihat mempersiapkan diri, kemudian membuka sepatu dan kaus kaki, selanjutnya memasukkannya ke tas sekolah yang mereka bawa agar tidak basah saat menyeberangi sungai.

Kemudian dengan kaki tanpa alas, mereka melangkah dan memilih bagian terdangkal dari sungai dengan saling berpegangan tangan melewati arus sungai.

Rasa khawatir terpleset dan hanyut saat menginjakkan kaki pada pijakan yang ada di dasar sungai terus menakuti mereka hingga tiba di seberang sungai.

Sedangakan rasa sakit dan perih di telapak kaki saat menguatkan pijakan agar tidak tergeser arus sungai di setiap langkah demi langkah tidak mereka hiraukan lagi, meskipun terkadang yang terpijak merukan batu yang pecah bersisi tajam dan licin.

“Takutlah pak hanyut, dalam kalinya itu dibelakang,” ujar Maidah Nasution, siswi Pondok Pesantren Al Hakimiyah Paringgonan, setelah tiba di seberang sungai sambil menunjuk kearah Jembatan titi gantung yang ambruk akhir tahun lalu.

Maidah bersama temanya merasa pesimis bila jembatan yang sangat mereka butuhkan itu akan dibangun kembali karena kerusakan itu sudah cukup lama.

“Masih dibangun lagi itu rupaya pak, sudah lama kali soalnya,” ujar Maida menjawab wartawan.

Ahmad Zarnawi Harahap 47, yang baru tiba dari seberang sungai untuk mengantarkan anaknya yang masih SD mengatakan terpaksa harus menyeberangkan anaknya agar selamat dan bisa mengikuti pelajaran di bangku sekolah.

Katanya, kalau hanya terpeleset dan basah kuyup, sudah biasa dialami pelajar di wilayah itu palingan mereka kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian dan berangkat kembali ke sekolah bila masih sempat, namun yang paling di khawatirkan adalah hanyut terbawa arus sungai.

Selain itu, kata Zarnawi hal yang sangat sulit adalah bila ada warga yang sakit dan harus berobat ke Rumah Sakit, maka dengan terpaksa warga menggotong dan menyeberangkanya meskipun resikonya cukup berat.

Katanya, warga Sabahotang yang mayoritas menafkahi keluarganya dari sawah dan perkebunan, tidak lagi memperoleh ketenangan, karena mereka selalu menghawatirkan anak-anak mereka yang pergi dan pulang dari sekolah harus menyeberangi sungai.

Sedangkan untuk mendampingi anak anak menyeberang mereka harus meninggalkan pekerjaan mereka sehari hari.

Dia berharap agar pemerintah segera memperbaiki ataupun membangun kembali jembatan yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk ke desa mereka tersebut, utamanya untuk keselamatan anak yang berangkat maupun pulang dari sekolah.

“Pak pemerintah tolong perhatikan kami 200 Kepala Keluarga di desa Sabahotang ini, kami 1000 an jiwa lebih adalah wargamu bapak,” ujar Zarnawi. (a31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2