banner 325x300

Bisnis Barang Bekas, Tak Layu Karena Pandemi

  • Bagikan
Davi Pahlevi dan ratusan barbeku di rumahnya, di Sawangan, Depok. (foto: Dian)

Rumah Davi di bilangan Sawangan, Depok, Jawa Barat, penuh dengan barang bekas. Mulai dari kaset, CD, DVD, buku-buku bacaan novel dan komik, pemutar Kaset dan CD, pemutar laser jadul, majalah-majalah tua sampai sepeda bekas.

Sebagian besar disimpan di ruang tamu yang berukuran 3×4 meter persegi. Rapi, bersih dan nampak tertata apik. Sementara sepeda bekas, diparkir di garasi.

“Koleksi barang bekas saya sudah sampai ke berbagai daerah, mbak! Mulai dari Sumatera sampai Kalimantan. Ke Medan saya pernah kirim buku dan kaset. Ini saya masih simpan struk pengirimannya untuk catatan saya,” ujar Davi Pahlevi (45), penjual barang bekas bertajuk ‘Art & Loak’ saat dijumpai Waspada.id di rumahnya, Sabtu (19/12).

Barang yang paling banyak dibeli adalah kaset dan buku. Perputarannya cepat sekali. Harga satu kaset dan buku bekas masing-masing Rp10 ribu. Seperti siang itu, Davi tengah mengepak sebelas buku untuk dikirim ke pembeli di Malang, Jawa Timur.

Tapi kalau bicara keuntungan, dia mengaku paling banyak diraih dari menjual elektronik bekas. Pemutar CD atau kaset pita, untungnya lumayan.

Meminjam istilah orang, barang berkas berkualitas, adalah yang ditawarkan Davi. Sejak 10 tahun lalu, bisnis loakannya telah berkembang. Jaringan pemasok dan pembelinya pun semakin banyak.

“Selain berburu ke tempat-tempat penjualan barang bekas, saya juga punya kawan dan kenalan yang suka memberikan barang-barang bekasnya dengan harga penuh persahabatan. Tentu saja yang masih layak pakai,” ujar Davi.

Ayah tiga anak ini, sempat menjalani pekerjaan sebagai anak buah kapal pesiar. Tapi profesi itu sudah ditinggalkan sejak dia asyik menekuni dunia jual beli barbeku (barang bekas berkualitas). Dia merasa di sinilah rejeki dan keberkahan keluarga kecilnya terpaut.

Lantas bagaimana di era pandemi Covid-19 ini? Adakah bisnisnya ini sepi pembeli?

‘Nggak, tuh! Malah cenderung ramai, sih! Mungkin karena selama pandemi ini orang butuh hiburan. Apalagi harganya kan murah karena bekas, ya. Paling sering dibeli itu buku dan kaset pita. Banyak sekali penggemarnya,” kata Davi, semangat.

Yang penting dalam bisnis ini adalah kejujuran dan kesabaran. Davi bertahan selama satu dekade karena rasa puas pelanggannya.

“Saya justeru berpikir kalau era pandemi Covid-19 ini adalah momen yang baik untuk berjualan barang bekas berkualitas. Kenapa? Karena pemasoknya juga banyak,” seloroh Davi, sambil menutup obrolan hangat siang itu. (J02/Dian)

  • Bagikan