Waspada
Waspada » Bika Maga Makanan Primadona Terancam Masa
Features Headlines Sumut

Bika Maga Makanan Primadona Terancam Masa

IBU Etti Hartini, pengusaha tradisional Kue Bika di Maga Pasar-Mandailing Natal. Waspada/Sarmin Harahap
IBU Etti Hartini, pengusaha tradisional Kue Bika di Maga Pasar-Mandailing Natal. Waspada/Sarmin Harahap

JIKA jalan-jalan ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina), selain terbayang dengan pondok pesantren biasanya tidak lupa menikmati makanan khas di wilayah ini yang sudah cukup terkenal untuk skala nasional yakni Toge, makanan bersantan yang dipadu dengan pulut, tape, dan gula aren jadi satu.

Selain Toge, ternyata ada jenis makanan lain yang juga cukup enak dan pavorite di daerah ini yakni kue Bika atau sering di sebut Bika Maga.Disebut Bika Maga karena makanan ini bisanya mudah dapat di Maga tepatnya di Jl.Medan Padang, Kelurahan Maga Pasar, Kecamatan Lembah Sorik Marapi.Pembuatan kue Bika ini merupakan usaha keluarga turun temurun yang sempat primadona di era tahun 80 – 90 an.

Demikian penuturan Ibu Etti Hartini (42) kepada penulis, Jum’at (21/8), yang merangkumnya dalam sebuah tulisan tentang kue Bika lain dulu lain sekarang.Bika Maga asal Tanah Mandailing ini memamg tidak setenar Bika Ambon yang tersedia dalam toko mewah dan etalase bagus di kota-kota besar.Bika Maga sebenarnya hanya kalah di tampilan dan kemasan saja dari Bika Ambon, sedangkan soal rasa tentunya tetap punya cita rasa tersendiri.

Meski tidak di pajang, peminat kue Bika ini masih bisa bertahan dengan pembeli yang sedang melintas atau penumpang bus jurusan Medan – Padang sebaliknya.Ada juga yang sengaja datang menjemput langsung ke Maga biasanya ini untuk silua (oleh-oleh).Bika Maga yang sudah matang ini warnanya coklat bercampur hitam karena bekas di panggang dengan balutan daun pisang sehingga menimbulkan aroma wangi tersendiri.

Ringkasnya, Bika Maga ini terbuat dari bahan tepung beras, santan dan gula aren yang di aduk bersamaan. Kemudian, bika ini dicetak dengan ukuran piring biasa. Setelah itu, bagian atas dan bawah bika ditutupi dengan daun pandan dan bisa juga dengan daun pisang, lalu dipanggang menggunakan arang dan juga sabut kelapa selama 15 menit biasanya sudah masak, dan secara umum Bika ini lebih enak dimakan saat masih panas.

Ibu Etti Hartini yang meneruskan usaha orang tuanya sejak tahun 2010 lalu, merupakan gambaran sosok wanita yang menekuni profesi dengan keterampilan yang dimilikinya.Pasang surut omset penjualan tentunya menjadi ujian keras hingga api untuk memasak Bika ini harus tetap menyala demi dan untuk menjawab permintaan pelanggan, disamping untuk melangsungkan kehidupan keluarga serta pendidikan anak-anak.

Seiring masa dan situasi ekonomi, peminat kue Bika ini makin sepi pelanggan meski hanya dibandrol Rp.5.000,-/piring.Masa Pandemi Covid-19 semakin menjadikan Bika Maga anjlok bahkan hampir tenggelam dalam pangsa pasar yang tidak menentu dengan pelanggan yang nyaris tidak ada.Sebelum masa pandemi, Bika ini bisa laku dari 100-120 piring/hari atau dengan pendapata berkisar Rp.200 ribu – Rp.300 ribu/hari.Sedangkan saat pandemi untuk laku 20 piring/hari pun berat.

Syukurlah pemerintah telah menetapkan New Normal, Etti Hartini yang memiliki 4 orang anak yang masih duduk dibangku sekolah memiliki harapan baru untuk bertahan hidup dan melestarikan kue Bika.Usaha ini satu-satunya peluang yang bisa dilakoninya untuk membantu suami yang bekerja sebagai petani.Karenanya disamping menjual Bika, Ibu Etti Hartini juga menyediakan minuman botol di tambah jenis-jenis makanan ringan agar bisa menambah omset penjualan.

Bika Maga sejatinya makanan khas Madina yang harus di lestarikan lewat uluran tangan pemerintah mulai dari permodalan, bentuk kemasan, dan juga sistim pemasaran agar lebih terjangkau masyarakat luas, dan yang terpenting makanan jenis Bika ini tidak tergilas masa dengan makanan yang serba modrenisasi.Disadari pemerintah atau tidak, Ibu Etti Hartini ini sebenarnya merupakan simbol perjuangan seorang warga yang mempertahankan ciri khas dan kelestarian makanan daerah.

Ia tidak ingin Madina ini terjajah oleh produk-produk makanan dari luar Madina.Meskipun kenyataannya saat ini banyak produk-produk luar Madina yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari sehingga mengancam usaha-usaha kecil masyarakat banyak yang terancam bangkrut karena kalah bersaing.Masih ada waktu, pemerintah harus membuka mata lebar-lebar dalam membangkitkan usaha mikro, yang juga epektif dalam mengurangi angka pengangguran. (a32)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2