Berkat Halua, Biaya Sekolah Untuk 8 Anak Terpenuhi

  • Bagikan
HAIRANI pembut halua berlabel usaha Manisan Melayu & Aneka Kue Khas Melayu. Waspada/Anum Saskia
HAIRANI pembut halua berlabel usaha Manisan Melayu & Aneka Kue Khas Melayu. Waspada/Anum Saskia

MEDAN (Waspada) : MANISAN khas Melayu yang disebut Halua, menjadi usaha keluarga yang menopang kehidupan Hairani akrab disapa Idil dan suaminya.

Helmijar, penduduk Jl KL.Yos Sudarso Km 15,5 Gg.Yusuf Batre Lingkungan 2 Kampung Besar Kelurahan Martubung Medan Labuhan yang membuat label usaha Manisan Melayu & Aneka Kue Khas Melayu.

Usaha membuat halua diwarisi dari ibunya almarhumah Halimatusa’diyah, semakin populer ditangan Hairani dan suaminya.

Bahkan usaha ini pula yang membuat 8 anak-anaknya bisa mengecap pendidikan, dimana seorang telah jadi sarjana dan yang lain masih menjadi mahasiswa dan di jenjang pendidikan menengah dan sekolah dasar.

Bertemu denganya, Selasa(16/11) di kediamanya, ia mengaku sangat beruntung bisa menjadi bagian keluarga Melayu untuk melestarikan Halua dan kini sebagai sumber penghasilan keluarga.

Sambil mengupas pepaya untuk dijadikan halua, perempuan yang aktif di UMKM Tuan Melayu Sumut ini, terlihat sangat mahir mengukir pepaya yang akan dijadikan halua. Terlihat rumit, tapi dia bisa cepat menyelesaikanya.

Lalu,memilah-milah daun pepaya, daun ubi, mengiris asam gelugur, membuang biji halusnya skapung(buah yang pohonya sering ada di pingguran sungai), memilih buah renda dan membelah-belah salak.

Semua bahan ini akan dijadikan halua sesui pesanan konsumen.

Setelahnya ia akan melakukan proses pembuatan halua dengan bahan tambahan lain seperti gula pasir,tanpa pemanis buatan dan pengawet, sebab hal ini bisa merusak cita ras halua khas Melayu.

“Proses pembuatan sampai tiga minggu.Makanya jika untuk keperluan acara, pemesan sudah order sebulan sebelum acara berlangsung, agar halua terasa lebih enak. Jika ingin disimpan bisa 6 bulan,” sebutnya.

Dari pembuatan halua ini,sambung Hairani yang kini sering jadi pembicara kulineran khas Melayu di berbagai tempat, dan bisa menyekolahkan 8 anak-anaknya. Sebab, ia dan suaminya sepakat untuk mengutamakan pendidikan anak-anak hingga tidak terpikir membangun rumah yang kian terlihat lusuh apalagi terkena imbas banjir.

“Anak-anak harus sekolah. Berapapun biayanya akan kami usahakan. Bisa dibayangkan kalau pagi saya siapkan uang untuk anak-anak yang 8 orang? Transpot dan uang jajan. Belum uang sekolah setiap bulan,”ucapnya.

Namun ia dan suminya yakin, rezeki sudah disiapkan Allah SWT jika mau berusaha.

“Niat kami, asal jangan putus sekolah. Maka, penat dan kebasnya jari jemari saat mengerjakan pembuatan halua ini tidak kami hiraukan. Bayangkan jika harus membuat halua pepaya 150 kilo. Bagaimana cekatannya kami memilih buah, mengupas dan proses pembuatan yang rumit. Semua kami kerjakan yang penting anak-anak bisa sekolah.

Alhamdulillah sekolah anak-anak berlanjut tingkat menengah dan ada yang sudah lulus S1,si bungsu masih Sekolah Dasar,”sebutnya haru.

Dia, mengakui jika selama pandemi covid-19, order halua menurun drastis. Otomatis tidak ada penghasilan. Beruntung,kata dia sudah ada anaknya yang bekerja, sehingga bisa membantu biaya hidup.

“Memang bukan usaha saya saja yang henti order, banyak juga mengeluh. Tapi saya harus bersyukur dan semangat agar tidak terpuruk. Allah akan beri jalan termudah mendapatkan rezeki,” ucapnya.

Tak henti berdoa, di suasana pandemi, sambung dia, ada sahabat lama yang datang dan minta dibuatkan halua. Permintaan yang mengagetkan,karena halua akan dibawa ke Amerika.

“Saya terkejut dan segera menyiapkan permintaan itu. Hingga mereka ingin dibuatkan beragam jenis dengan nominal pembeliaan jutaan rupiah.

Saat ditanya harga, dia mengaku tergantung orderan. “Kalau harga tergantung pesanan dengan wadah yang diinginkan. Ada 75 ribu, 500 ribu dan tergantung jenis halua yang dipesan juga,”ungkapnya.

Apa kiatnya agar usaha ini bisa bertahan? Dia mengaku pertama tetap yakin bahwa rezeki Allah yang mengatur dan manusia harus berusaha. Mempertahankan cita rasa dan kualitas. Memperbanyak jaringan dan menerima masukan dari konsumen. Tidak mudah menyerah dan tetap berlapang dada, meskipun ada yang membatalkan orderan padahal sudah dibuatkan.

Apakah ada anak-anaknya yang akan mewarisi usaha ini?

“Ya, sebagai ibu, saya tetap ingin ada yang mewarisi keahlian saya membuat manisan khas Melayu dan aneka makanan Melayu. Seperti saya mewarisi dari ibu saya, yang mengajarkan saya sejak usia 3 tahun dan kini saya sudah 53 tahun. Semoga dari 8 anak saya ada yang berminat,” pungkasnya. Anum Saskia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *