Waspada
Waspada » Awalnya Dadakan Kini Jadi Bilal Jenazah Sungguhan
Features

Awalnya Dadakan Kini Jadi Bilal Jenazah Sungguhan

USTADZ Izahar Syafawi SPdI saat mempraktekkan cara melaksanakan fardu kifayah mengkafani jenazah di Masjid Al Hasanah Jl. Penguin XVI Perumnas Mandala Kecamatan Percut Seituan, Minggu (31/1). Awalnya dadakan, kini Izahar jadi bilal jenazah sungguhan.Waspada/Andi Aria Tirtayasa
USTADZ Izahar Syafawi SPdI saat mempraktekkan cara melaksanakan fardu kifayah mengkafani jenazah di Masjid Al Hasanah Jl. Penguin XVI Perumnas Mandala Kecamatan Percut Seituan, Minggu (31/1). Awalnya dadakan, kini Izahar jadi bilal jenazah sungguhan.Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): TAK Terlintas di benak Izhar Syafawi SPdI ,40, warga Pasar V Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan, untuk menjadi bilal jenazah. Pekerjaan yang mengurus jasad muslim mulai dari melaksanakan fardu kifayahnya: memandikan, mengkafani hingga mengantarkannya ke liang kubur.

Awalnya, ada keponakanya yang meninggal dunia. Saat ikut bertakziah di rumah duka kerabat keluarganya itu, timbul permasalahan saat pelaksanaan fardu kifayah dilakukan. Bilal mayat atau bilal jenazah di sekitar rumah duka ternyata tidak ada karena sang bilal sudah pindah lokasi rumahnya ke daerah lain.

Sebaliknya, bila di satu lokasi tidak ada yang mau memandikan jenazah maka berdosalah orang di sekitarnya.

Akhirnya, setelah rembuk keluarga ahli musibah, Izahar pun secara mendadak diminta untuk menjadi bilal mayat.

Berbekal ilmu yang diperolehnya saat ikut membantu bilal mayat di beberapa lokasi, Izahar pun mengawali profesinya sebagai bilal mayat dan melaksanakan fardu kifayahnya. Mulai dari memandikan, menshalatkan hingga mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.

“Saat itu tahun 1999. Kali pertama saya mendapat tanggungjawab dan amanah yang cukup berat untuk menjadi seorang bilal jenazah,” tutur Izahar Syafawi kepada Waspada, Minggu (31/1) usai memberikan ceramah melaksanakan fardu kifayah jenazah pada pengajian rutin di Masjid Al Hasanah Jl. Penguin XVI Lingkungan Penguin Perumnas Mandala Kecamatan Percut Seituan.

Menurut Izahar, saat mengawali pekerjaannya sebagai bilal jenazah, dirinya saat itu masih duduk di bangku Madrasah Qismuali Jl. Ismailiyah.

Selama menjadi bilal mayat, teman-teman sekolahnya di Madrasah Qismuali tidak ada yang mengetahui profesi mulia dan amanah tersebut, walau pun saat itu dirinya ikhlas menerima dana Rp30.000 dari ahli musibah.

Bahkan, dirinya tidak pernah mematok biaya karena mengerjakan fardu kifayah tersebut secara ikhlas dan menerima biaya seikhlas dari ahli musibah.

“Begitu duduk di bangku kuliah di STAIS Al Hikmah Jl. Pancing, barulah teman-teman kuliah mengetahui profesi saya sebagai bilal jenazah. Mereka salut namun merasa senang karena di usia yang masih muda sudah menggeluti profesi bilal jenazah,” aku Izahar, yang kini telah dikaruniai 3 anak; si sulung Kelas I SMP dan Kelas III SD dan Kelas 1 SD.

Pelatihan Bilal Jenazah

Sejak awal menjadi bilal dadakan itu, Iambat laun Izahar menekuni profesi tersebut hingga akhirnya mengikuti berbagai pelatihan jadi bilal jenazah yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Medan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Keseriusan Izahar mengabdikan dirinya sebagai bilal mayat yang sesungguhnya membuat dirinya acap mengikuti berbagai seminar dan pelatihan bilal mayat yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Medan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan.

Namun, siapa sangka jika akhirnya Izahar Syafawi itu kelak menjadi pelatih (trainer of training) sehingga dirinya acap menjadi narasumber dan pelatih pada berbagai pelatihan menjadi bilal mayat.

Bahkan, tambah Izahar, sejak tahun 2006 dirinya kini telah mendapat bantuan dari Pemko Medan Rp 1.200.000 per smester.

“Alhamdulillah, kini saya bersama para bilal jenazah lainnya mendapat bantuan dari Pemko Medan dan menerima Rp.1.200.000 per smester,” tutur Izahar.

Izahar mengakui bahwa menjadi seorang bilal mayat sejatinya sangat berat dan amanah.

Diakui Izahar, untuk menjadi bilal mayat, selain memiliki iman yang kuat dan amanah, juga harus dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keberanian.

“Sekarang ini banyak orang yang mau belajar untuk menjadi bilal dengan mengikuti berbagai pelatihan.

Mulai usia muda hingga dewasa. Ironisnya saat diminta untuk terjun langsung mengurus mayat, peserta pelatihan tidak ada yang mau mengurus mayat. Mentalnya turun alias down,” terang Izahar.

Oleh sebab itu, Izahar mengajak para generasi muda muslim untuk serius mengikuti pelatihan bilal jenazah, apalagi secara umum profesi sebagai bilal mayat dilakoni oleh para usia lanjut dan jumlahnya terbatas, hanya sedikit kalangan usia muda yang menjadi bilal jenazah.

Apa yang dilontarkan Ustadz Izahar cukup beralasan. Pasalnya, dirinya sering mendapat panggilan untuk mengurus jenazah di berbagai daerah di luar Kecamatan Medan Marelan.

“Biasanya, di lokasi jenazah tidak ada bilalnya. Bila tidak kita laksanakan fardu kipayahnya maka berdosalah kita semuanya. Karena panggilan tugas yang dilandaskan kekuatan iman dan amanah itulah saya tetap menjalankan profesi sebagai bilal mayat,” pungkas Ustadz Izahar. (m27)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2