Waspada
Waspada » Siap-siap! Awal 2021, Investor Dibebani Bea Materai Rp10.000
Ekonomi

Siap-siap! Awal 2021, Investor Dibebani Bea Materai Rp10.000

Pengamat ekonom Sumut Gunawan Benjamin menilai, kebijakan bea materai Rp10 ribu setiap transaksi akan membuat investor pemula merasa resah dan akan terbebani.
Pengamat ekonom Sumut Gunawan Benjamin menilai, kebijakan bea materai Rp10 ribu setiap transaksi akan membuat investor pemula merasa resah dan akan terbebani.

MEDAN (Waspada): Pemerintah berencana mulai 1 Januari 2021 mendatang, transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dikenakan bea materai sebesar Rp10 ribu per dokumen. Pengamat ekonom Sumut Gunawan Benjamin menilai, kebijakan tersebut akan membuat investor pemula merasa resah dan akan terbebani.

Gunawan menyebutkan, sangat wajar kebijakan yang diwacanakan pengenaan bea materai Rp10 ribu untuk trade confirmation (TC) menuai kritikan, terlebih dari investor pemula dengan modal ‘cekak’ (kecil). Trade confirmation adalah sebuah informasi yang diterima nasabah yang melakukan transaksi efek dalam suatu hari tertentu.

Menurutna, Trade confirmation akan diterima investor setiap melakukan transaksi efek, baik itu transaksinya kecil maupun besar. Pengenaan bea materai memang dikhawatirkan bisa membuat transaksi nasabah kecil menyusut. Dengan catatan investor merasa dirugikan dengan pengenaan materai Rp10 ribu untuk setiap trade confirmation.

“Ilustrasinya begini, bayangkan kalau seandainya satu trade confirmation justru berisi transaksi 1 lot saham yang harganya Rp50 per lembar. Untuk membeli saham sebanyak itu hanya dibutuhkan Rp5.000 saja, namun bea materainya justru Rp10 ribu. Jadi terdengar lucu bukan,” sebut Gunawan, Minggu (20/12).

Gunawan menyebutkan, semangat untuk menambah jumlah investor memang bertolak belakang jika ada pengenaan bea materai Rp10 ribu tersebut. Sejauh ini, pada dasarnya investor di pasar modal sudah mendapatkan beban pajak yang masuk dalam perhitungan komisi transaksi yang diterima oleh perusahaan sekuritas. Nah pengenaan tambahan bea materai Rp10 ribu ini jelas akan memberatkan.

Menurutnya, bea materai ini nantinya juga akan menjadi beban investor yang secara otomatis akan langsung dibayarkan dengan memotong saldo yang dimiliki oleh investor. Sistem transaksi juga akan menyesuaikan dengan memberikan penambahan beban bea materai di masing-masing perusahaan sekuritas.

“Kalau seandainya satu investor aktif melakukan transaksi setiap hari. Maka investor tersebut akan dikenakan beban tambahan pengeluaran satu bulan sekitar Rp220 ribu, atau mengikuti jumlah hari transaksi aktif dalam satu bulan dikalikan Rp10 ribu. Angka sebesar itu lebih mahal dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan investor dalam menggunakan sistem transaksi online milik perusahaan sekuritas masing-masing,” ungkapnya.

Gunawan menyebutkan, pengenaan materai Rp10 ribu ini tidak akan memicu terjadinya aksi penolakan masyarakat banyak. Karena jumlah investor di pasar modal itu hanya sedikit. Resistensi sosialnya tidak akan massif.

“Tetapi sebaiknya aspirasi masyarakat yang menolak perlu menjadi pertimbangan dalam membuat kebijakan. Ada plus minusnya penerapan bea materai tersebut. Tetapi yang pasti akan membebani investor,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kebijakan ini sesuai dengan telah disahkannya UU Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai pada Oktober 2020 lalu. Transaksi ini akan dikenakan untuk setiap Trade Confirmation (TC) tanpa batasan nilai nominal yang diterima investor sebagai dokumen transaksi surat berharga. (m31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2