Waspada
Waspada » Penduduk Miskin Sumut 1,26 Juta Jiwa
Ekonomi

Penduduk Miskin Sumut 1,26 Juta Jiwa

Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi, Dinar Butar-butar, menyampaikan perkembangan jumlah penduduk miskin di Sumut.
Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi, Dinar Butar-butar, menyampaikan perkembangan jumlah penduduk miskin di Sumut.

MEDAN (Waspada): Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dilaksanakan September 2019, jumlah penduduk miskin di Sumut 1,26 juta jiwa. Angka tersebut turun sebesar 8,63 persen terhadap total penduduk.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi menyebutkan, jumlah dan persentase penduduk miskin tersebut mengalami penurunan dibandingkan setahun lalu. Pada September 2018, penduduk miskin Sumut 1,291 juta jiwa, turun menjadi 1,260 juta jiwa pada September 2019.

“Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 31 ribu jiwa dalam setahun,” ujar Syech Suhaimi, di Kantor BPS Sumut, Senin (3/2).

Jika dibandingkan dengan keadaan semester lalu Maret 2019, terjadi penurunan jumlah penduduk miskin pada September 2019 sebanyak 21,5 ribu jiwa. Pada Maret 2019 jumlah penduduk miskin 1,282 juta jiwa dengan persentase 8,83%.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, lanjutnya, pada periode Maret 2019-September 2019, jumlah penduduk miskin di perkotaan dan pedesaan terjadi penurunan. Di perkotaan turun 10,3 ribu jiwa dan di pedesaan turun 11,3 ribu jiwa.

Syech Suhaimi menyebutkan, pada September 2019, garis kemiskinan (GK) di Sumut sebesar Rp490.120 per kapita per bulan. Untuk daerah perkotaan sebesar Rp506.538 per kapita per bulan. Untuk pedesaan Rp470.545 per kapita per bulan.

Dibandingkan Maret 2019, lanjutnya, GK Sumut September 2019 naik 5,15% dari Rp466.122 perkapita per bulan menjadi Rp490.120 perkapita per bulan.

“Garis kemiskinan di perkotaan naik 4,73%, dari Rp483.667 perkapita per bulan menjadi Rp506.538 perkapita per bulan. Sedangkan garis kemiskinan di pedesaan naik 5,55% dari Rp445.815,- perkapita per bulan menjadi Rp470.545,- perkapita per bulan,” jelasnya.

Komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap GK baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar GK baik di perkotaan (20,65%) maupun di perdesaan (29,67%).

“Empat komoditi makanan lainnya penyumbang terbesar GK di perkotaan, rokok kretek filter (11,67%), tongkol (4,07%), cabe merah (4,01%), dan telur ayam (3,80%),” ungkapnya.

Di perdesaan, empat komoditi makanan lainnya penyumbang terbesar GK, rokok kretek filter (9,52%), cabe merah (4,05%), tongkol/tuna/cakalang (3%), dan telur ayam (2,90%).

Untuk komoditi bukan makanan, biaya perumahan masih berperan sebagai penyumbang terbesar GK baik di perkotaan (6,22%) dan di perdesaan (4,55%).

“Empat komoditi bukan makanan lainnya penyumbang terbesar GK di perkotaan, listrik (3,83%), bensin (3,62%), biaya pendidikan (2,18%), dan biaya angkutan (1,56%). Sedangkan di perdesaan, adalah bensin (2,36%), biaya pendidikan (1,94%), listrik (1,73%), dan biaya pakaian jadi anak-anak (1,37%),” pungkasnya. (m41)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2