banner 325x300

Pasar Perumahan Anjlok Hingga 40 Persen Sejak Pandemi Covid-19 

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Ketua Umum DPP Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan, kondisi pasar perumahan mengalami anjlok hingga 40 persen sejak pandemi Covid-19.

“Di saat kondisi seperti ini seharusnya pemerintah dan perbankan turut membantu industri properti, dengan menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR),” ujarnya saat webinar kondisi perkembangan perumahan saat ini di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, asosiasi butuh dukungan dari pihak terkait berupa peningkatan daya angsuran rumah. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menambah bantuan pembiayaan perumahaan bersubsidi.

Junaidi menambahkan, sejatinya minat konsumen membeli rumah masih ada. Hanya saja, faktor pelemahan ekonomi akibat pandemi memaksa calon pembeli menunda rencana mereka.

“Harapan kami pemerintah memberikan dukungan, khususnya perumahaan bersubsidi. Ini agar daya beli masyarakat bisa terangkat,” ucapnya.

Junaidi mengakui, pemerintah memang telah memberikan penurunan suku bunga kredit rumah tipe 70 ke bawah. Namun pemerintah tidak melakukan hal yang sama pada rumah subsidi.

“Kami minta pemerintah untuk memperhatikan (nasabah rumah subsidi) seperti apa bunganya pada saat pandemi ini, sehingga daya angsur masyarakat membaik yang nantinya ikut mengangkat daya beli konsumen,”  tutur Junaidi.

Data Bank Indonesia (BI) melansir, penjualan properti residensial pada kuartal III/2020 masih menurun. Hal ini tercermin dari penjualan properti residensial yang terkontraksi 30,93 persen (yoy), dibandingkan kontraksi pada kuartal sebelumnya sebesar 25,60 persen (yoy).

“Penurunan penjualan properti residensial ini terjadi pada seluruh tipe rumah,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan pers, Kamis (12/11).

Secara kuartalan, penjualan properti residensial kuartal III 2020 tumbuh sebesar 7,78 persen, melambat dari 10,14 persen pada kuartal II 2020 dan 16,18 persen dari kuartal I 2020.

Penurunan penjualan terjadi pada tipe kecil dan besar, sementara tipe menengah masih mengalami kenaikan dibanding kuartal sebelumnya.

Perlambatan pertumbuhan Indek Harga Properti Residensial (IHPR) secara tahunan sejalan dengan melambatnya inflasi biaya tempat tinggal yang dikeluarkan konsumen rumah tangga pada kuartal III 2020.

“Kenaikan harga rumah yang melambat sejalan dengan perlambatan inflasi biaya pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal,” ujar Onny.

Dituntut Inovasi

Dalam kondisi pandemi, dimana masyarakat banyak melakukan pekerjaan dari rumah, maka dituntut inovasi dalam pelayanan penjualan kepada publik diantaranya melalui digitalisasi.

“Kita lakukan secara digital dan mereview terus menerus untuk fleksibilitas masyarakat dan pengembang. Seperti transaksi bisa menggunakan e-Banking dan bisa juga melalui www.BTNProperti.co.id,” ungkap Hirwandi Gafar, Direktur Consumer & Commercial Landing PT Bank Tabungan Negara ((Persero) Tbk.

Dia mengungkapkan, dari Maret hingga Mei penjualan hunian memang mengalami penurunan, dikarenakan adanya penerapan Pembatasa Bersekala Besar (PSBB) yang di keluarkan pemerintah daerah.

“Tetapi pada bulan Juni – September pasar properti mulai kembali naik walaupun belum maksimal. Ini karena masa pandemi justru membuat masyarakat membutuhkan hunian karena  harus berada di rumah,” ungkap Hirwandi.

Diharapkan di akhir tahun ini bisa merangkak naik lagi, walaupun di bulan Desember nanti hanya ada 23 hari yang efektif. “Selama masih ada cinta orang pasti butuh rumah dimana ada orang butuh rumah maka disitu ada BTN,” imbuh Hirwandi. (J03)

  • Bagikan