Waspada
Waspada » Pasar Keuangan Dilanda Profit Taking
Ekonomi

Pasar Keuangan Dilanda Profit Taking

Pasar Keuangan saat ini dilanda profit taking, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level 5.000, pada perdagangan Kamis (4/6) berbalik arah melemah.
Pasar Keuangan saat ini dilanda profit taking, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level 5.000, pada perdagangan Kamis (4/6) berbalik arah melemah.

MEDAN (Waspada): Pasar Keuangan saat ini dilanda profit taking, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level 5.000, pada perdagangan Kamis (4/6) berbalik arah melemah. Begitu juga dengan Rupiah setelah sempat menguat, kini berada di zona merah.

Analis Pasar Modal Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, setelah sempat menyentuh level 5.000, IHSG justru berbalik arah. Kenaikan IHSG yang terjadi selama sepekan terakhir membuat pasar keuangan rawan terjadi aksi profit taking.

Pada perdagangan Kamis (4/6), IHSG yang selama sesi 1 mengalami penguatan, gagal mempertahankan level 5.000 nya. Di sesi 2 justru IHSG berbalik tertekan dan ditutup melemah di level 4.9176,70.

“Dalam satu hari perdagangan ini (Kamis-red), IHSG berayun 100 poin lebih. Dari semula sempat menyentuh 5.013, berbalik tertekan dan sempat menyentuh level 4.903,” kata Analis Pasar Modal Sumut, Gunawan Benjamin, Kamis (4/6).

Selain itu, lanjut Gunawan, kinerja mata uang Rupiah dalam seharian justru berada di zona merah, setelah kemarin sempat menguat di level 14.095. Rupiah justru sempat terpuruk di level 14.160, namun berbalik arah menjelang sesi perdagangan sore. Tepat saat IHSG ditutup, Rupiah justru bertengger di kisaran 14.095 per Dolar AS.

“Baik IHSG dan Rupiah sama-sama bergerak volatile pada perdagangan Kamis. Tidak bisa dipungkiri, tren kenaikan IHSG yang terjadi selama sepekan terakhir membuat pasar keuangan rawan terjadi aksi profit taking,” ujarnya.

Menurutnya, selain level psikologis yang sulit untuk dilewati, sejumlah masalah lain yang muncul adalah  kemungkinan aksi profit taking. Dikarenakan pasar sudah mengkompensasi skema new normal tersebut.

“Artinya, jika New Normal diterapkan, bukan tidak mungkin pelaku pasar akan melakukan aksi jual. Hal ini bisa berdampak pada penurunan kinerja pasar keuangan,” sebutnya.

Gunawan mengatakan, hal ini yang seharusnya diwaspadai, karena pelaku pasar itu kerap memiliki jargon “buy on rumor, sell on news”.

“Artinya saat sebuah kebijakan tengah direncanakan, pelaku pasar terlebih dahulu mengambil posisi beli. Namun begitu siap dilaksanakan, pelaku pasar langsung menjualnya. Jadi waspadai aksi profit taking,” katanya.

Karena pada dasarnya, lanjut Gunawan, fundamental ekonomi belum sepenuhnya pulih. Yang ada saat ini adalah sebuah kemungkinan ataupun harapan akan adanya pemulihan ekonomi saat new normal nanti.

“Ini masih ekspektasi, bukan realisasi. Jadi jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi new normal. Harus berhati-hati, karena kalau tidak kita bisa rugi,” pungkasnya. (m31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2