Nilai Ekspir RI Capai US$22,03 Miliar, Meningkat 6,89 Persen - Waspada

Nilai Ekspir RI Capai US$22,03 Miliar, Meningkat 6,89 Persen

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Pada Oktober 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,03 miliar, meningkat 6,89 persen secara bulanan atau 53,35 persen secara tahunan. 

Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono mengatakan peningkatan ekspor pada periode tersebut terutama didorong oleh permintaan komoditas batu bara, yang diikuti oleh komoditas minyak kelapa sawit dan besi baja.

Posisi nilai ekspor pada Oktober 2021 pun mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sebelumnya, rekor ekspor tertinggi terjadi pada Agustus 2021, yang tercatat mencapai US$21,42 miliar. 

“Jadi meningkatnya kebutuhan di negara tujuan juga mendorong meningkatnya ekspor di Oktober yang terbesar setelah Agustus 2021,” ungkap Kepala BPS Margo Yuwono secara virtual, Senin (15/11). 

Dengan ekspor yang meningkat tinggi, lanjutnya, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2021 juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu mencapai US$5,73 miliar.

Adapun, secara bulanan (month-to-month/mtm), pertumbuhannya mencapai 6,89 persen. Ekspor nonmigas Oktober 2021 mencapai US$21,00 miliar, naik 6,75 persen dibanding September 2021.

“Secara tahunan kenaikan ini dipicu oleh kenaikan ekspor migas dan nonmigas sebesar masing-masing 66,84 persen dan 52,75 persen,”  jelas Margo. 

Secara sektor, pertumbuhan ekspor migas meningkat sebesar 66,84 persen (yoy) menjadi US$1,03 miliar. Ekspor migas ini menjadi motor kinerja ekspor Oktober 2021. 

BPS mencatat pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP).  ICP sepanjang Oktober mencapai US$81,8 per barel, naik dari US$72,2 per barel pada September 2021.  

“Kenaikannya month-to-month-nya sebesar 13,30 persen pada Oktober 2020 dan sebesar 114,87 persen secara year-on-year,” urai Margo. 

Sementara itu, impor pada Oktober 2021 tercatat sebesar US$16,29, atau tumbuh persen 51,6 persen (yoy) dan naik 0,36 persen (mtm). Kenaikan secara tahunan didorong oleh kenaikan impor migas 75,94 persen (yoy) dan 1,68 persen (mtm). (J03) 


JAKARTA (Waspada): Bank Indonesia melaporkan, posisi ULN Indonesia pada akhir triwulan III-2021 tercatat sebesar US$423,1 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,0% (yoy). Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan ULN sektor publik  dan sektor swasta.

“Untuk posisi ULN Pemerintah pada triwulan III-2021 sebesar US$205,5 miliar atau tumbuh 4,1% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan triwulan II 2021 sebesar 4,3% (yoy),” keterangan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Senin (15/11). 

Menurut BI, lanjurnya, perkembangan tersebut disebabkan oleh pembayaran neto pinjaman seiring lebih tingginya pinjaman yang jatuh tempo dibanding penarikan pinjaman. 

Hal ini terjadi di tengah penerbitan Global Bonds, termasuk Sustainable Development Goals (SDG) Bond sebesar 500 juta Euro, yang merupakan salah satu penerbitan SDG Bond konvensional pertama di Asia. 

“Penerbitan SDG Bond ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan langkah yang signifikan dalam pencapaian SDG,” ujar Erwin. 

 ULN Pemerintah yang senantiasa dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel diutamakan untuk mendukung belanja prioritas Pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), 

Dimana PEN antara lain mencakup dukungan pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,9% dari total ULN Pemerintah), sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,3%), sektor jasa pendidikan (16,5%), sektor konstruksi (15,5%), dan sektor jasa keuangan dan asuransi (12,1%). 

“Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN Pemerintah,” jelas Erwin. 

ULN Bank Sentral

ULN Bank Sentral mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya meski tidak menimbulkan tambahan beban bunga utang. Dibandingkan triwulan II-2021, posisi ULN Bank Sentral pada triwulan III-2021 mengalami peningkatan sebesar US$6,3 miliar dolar AS menjadi US$9,1 miliar, terutama dalam bentuk alokasi Special Drawing Rights (SDR). 

Pada Agustus 2021 IMF mendistribusikan tambahan alokasi Special Drawing Rights (SDR) secara proporsional kepada seluruh negara anggota, termasuk Indonesia, yang ditujukan untuk mendukung ketahanan dan stabilitas ekonomi global dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. 

ULN Swasta Naik 

ULN swasta pada triwulan III 2021 naik sebesar 0,2% (yoy), setelah pada periode sebelumnya mengalami kontraksi 0,3% (yoy). Pertumbuhan ULN swasta tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,0% (yoy), melambat dari 1,6% (yoy) pada triwulan II 2021. 

Sementara itu, pertumbuhan ULN lembaga keuangan mengalami kontraksi sebesar 2,7% (yoy), lebih rendah dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 6,9% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, posisi ULN swasta pada triwulan III 2021 tercatat sebesar US$208,5 miliar. 

Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, dengan pangsa mencapai 76,4% dari total ULN swasta. ULN tersebut masih didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,1% terhadap total ULN swasta. (J03) 

  • Bagikan