Waspada
Waspada » Harga Naik Hingga 1.000%, KPPU Sidak Distributor Masker
Ekonomi

Harga Naik Hingga 1.000%, KPPU Sidak Distributor Masker

Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, saat melakukan sidak ke salah satu toko alat kesehatan di Medan, Kamis (5/2). Sidak tersebut menyusul tingginya harga masker yang naik hingga 1.000%.
Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, saat melakukan sidak ke salah satu toko alat kesehatan di Medan, Kamis (5/2). Sidak tersebut menyusul tingginya harga masker yang naik hingga 1.000%.

MEDAN (Waspada): Tingginya harga masker yang naik hingga 1.000%, KPPU Kantor Wilayah I melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke distributor masker. Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, langsung turun ke salah satu distributor masker di Medan, Kamis (5/2).

Tim KPPU sidak harga masker ke salah satu Toko Alat Kesehatan (Alkes) di Jalan Raden Saleh Medan. Namun, di toko tersebut tim KPPU menemukan kekosongan stok masker. Banyak pelanggan kecewa karena stok masker kosong.

Namun, salah seorang penjaga toko, mengaku pihaknya hanya menjual masker eceran berisi lima lembar. “Kita sekarang ada jual yang eceran isi 5 lembar, harganya Rp25 ribu,” kata penjaga toko tersebut.

Selanjutnya, tim KPPU mendatangi PT Dimas Andalas Makmur yang menjual alat kesehatan, di Jalan Mojopahit, Petisah Tengah, Kecamatan Medan Baru. Tim langsung menuju gudang dan hanya melihat dua karton masker yang tersisa, atau sebanyak 50 kotak masker (2.000 lembar masker).

Berdasarkan informasi, distributor tersebut menjual masker dengan harga yang cukup tinggi. Saat dijual kepada masyarakat harga masker ditetapkan Rp150 ribu per kotak. Namun usai kedatangan KPPU diturunkan menjadi Rp125 ribu per kotak.

Direktur PT DAM, Meliyana Manurung menjelaskan, Desember lalu, perusahaannya mendapatkan masker dengan harga Rp35 ribu per kotak dari pabrikan di Surabaya. Namun sejak Minggu lalu, harga naik menjadi Rp100 ribu.

“Kita baru ambil lagi minggu lalu dengan harga Rp100 ribu per kotak. Jumlah stok kita pun turun drastis, tidak bisa stok banyak. Minggu depan hanya akan datang 5 karton lagi,” jelasnya.

Meliyana mengatakan, selama ini distributor memang membatasi permintaan masker dari warga, lantaran fokus menyediakan masker untuk rumah sakit.

“Selama ini, yang rutin pakai masker hanya rumah sakit. Sekarang tiba-tiba seluruh masyarakat menggunakan. Kami prioritaskan siapa yang membeli kita tetap layani. Hanya kita berikan dengan pembatasan,” ujarnya.

Cari Alat Bukti

Sementara itu, Ramli Simanjuntak mengatakan, pihaknya sudah melakukan penelitian dan mencari alat bukti tentang tingginya harga masker di pasaran.

“Kita tahu persoalan masker harganya meningkat sampai 1.000%. KPPU selama dua bulan ini sudah melakukan penelitian dan mencari alat buktinya. Apakah ada pelanggaran atau tidak. Ini berjalan terus untuk memastikan apakah harganya ada permainan atau tidak,” ujarnya.

Ternyata dalam pengecekan, sambungnya, memang pasokannya sangat berkurang. Dari pabrikan yang ada di Surabaya atau di Bandung, pasokannya memang sangat berkurang.

“Seperti di PT DAM, dengan stok 1.000 kotak per bulan, telah berkurang, kini menjadi 5 kotak. Dan yang lebih jelas lagi, masker N95 tidak ada,” jelasnya.

Dari penelitian sementara KPPU, lanjut Ramli, memang untuk masker ada beberapa bahan baku yang harus impor dari negara tertentu, salah satunya dari China. Pembatasan impor dari China juga menjadi penyebab, bahan baku berkurang, masker tidak bisa diproduksi. Padahal permintaan sangat tinggi.

Untuk itu, jangan sampai pabrikan atau distributor mempermainkan harga dengan menahan pasokan untuk mendapatkan keuntungan lebih.

“Itu pasti kena di KPPU. Itu yang sekarang sedang kita cari sekarang. Bermainlah di pabrik, bermain-main di pengecer. Jika terbukti menyalahi undang-undang, akan dikenakan sanksi denda maksimal Rp25 miliar. Dan hanya paling berat pencabutan izin usaha.

Dia mengimbau para pelaku usaha, kalau masyarakat lagi butuh, berikanlah sesuai harga yang wajar. “Jangan seperti tadi, permintaan tinggi, harganya dibuat melambung tinggi,” pungkasnya. (m41)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2