Mulai Membaik, Ekonomi Sumut Masih Hadapi Tantangan

  • Bagikan
Kepala KPw BI Sumut, Soekowardojo dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provsu, Arief Sudarto Trinugroho foto besama usai menyerahkan penghargaan kepada mitra strategis KPw BI Sumut 2021.
Kepala KPw BI Sumut, Soekowardojo dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provsu, Arief Sudarto Trinugroho foto besama usai menyerahkan penghargaan kepada mitra strategis KPw BI Sumut 2021.

MEDAN (Waspada): Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) mulai keluar dari resesi dan mengalami rebound mulai dari triwulan II dan III tumbuh positif. Namun demikian masih ada beberapa tantangan yang akan dihadapi Sumatera Utara kedepan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut (KPw BI Sumut), Soekowardojo pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2021 dengan tema “Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi Untuk Pemulihan Ekonomi” yang digelar secara hibryd (daring dan luring) yang digelar KPw BI Sumut, di Ballroom Hotel Adi Mulia Medan, Rabu (24/11).

“Kita (Sumatera Utara-red) sudah mulai keluar dari resesi. Triwulan II positif 4,95%. triwulan III 3,67%, mudah-mudahan triwulan IV juga lebih besar dari 3,67% sehingga tahun 2021 ini pertumbuhan ekonomi kita bisa positif sekitar 2,3% sampai 3,3%. Namun demikian ke depan masih banyak tantangan yang kita hadapi bersama di Sumut,” ujarnya.

Tantangan-tantangan tersebut antara lain, dinamika terkini mengindikasikan risiko terkait perkembangan Covid-19 yang perlu terus diwaspadai karena dapat menahan perbaikan kinerja perekonomian Sumatera Utara.

Di satu sisi, munculnya varian baru dari Covid-19 di tengah progres vaksinasi yang belum mencapai target herd immunity, berpotensi menahan perbahkan perekonomian. Di sisi lain, apabila kasus Covid-19 bukan lagi menjadi penghambat bagi kinerja perekonomian, dibutuhkan adanya respons yang tanggap dari pemerintah untuk merumuskan exit policy yang lebih tepat bagi Sumut.

“Dari aspek konsumsi, permintaan yang kian pulih kedepan di tengah suplai yang belum stabil dapat berpengaruh pada lonjakan harga sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Keterbatasan itu juga berisiko meningkatkan impor barang konsumsi,” ujarnya.

Dari aspek lapangan pekerjaan, perekonomian yang pulih mendorong kembali geliat lapangan usaha. Kualitas tenaga kerja lokal menjadi tantangan utama di tengah persaingan dengan tenaga kerja yang datang dari negara lain.

Selain itu, lanjut Soekowardojo, perubahan iklim merupakan isu yang akan mempengaruhi rakyat, ekonomi, hingga masa depan. Perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi pertanian yang merupakan salah satu sektor utama perekonomian Sumut.

Kemudian, dinamika perekonomian global juga harus terus menjadi perhatian bersama, karena salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Sumut selama masa pandemi berlangsung berasal dari permintaan luar negeri yang meningkat.

“Dengan berbagai tantangan yang ada, Sumatera Utara perlu memperkuat sinergi membangun optimisme pemulihan ekonomi.

Kepala KPw BI Sumut ini optimis, bahwa berdasarkan indikator dan perkembangan terkini, perekonomian Sumut pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh positif di kisaran 2,5-3,3% dan akan meningkat pada tahun 2022 mendatang.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provsu, Arief Sudarto Trinugroho yang mewakili Gubsu pada pertemuan tersebut mengatakan, PTBI merupakan kegiatan yang sangat positif dan dinanti-nantikan.

“PTBI ini selalu yang kita tunggu, karena di sini kita mendapatkan informasi bagaimana perkembangan ekonomi 2021 yang kita tahu dengan pandemi Covid ini terganggu. Ternyata negara kita di Indonesia dan Sumut bisa survive ditandai dengan triwulan II mulai tumbuh positif perekonomian kita,” ujarnya menjawab pertanyaan wartawan usai acara.

Selain itu, pihaknya juga mengucapkan terimakasih atas kolaborasi dan kerjasama yang baik antara Pemprovsu dengan Bank Indonesia. Karena begitu banyak kolaborasi kerjasama yang dilakukan sehingga Sumut banyak memperoleh penghargaan.

“Tahun ini kita meraih TPID Award sebagai provinsi terbaik dalam pengendalian Inflasi di Sumatera dan hari ini (Rabu-red) juga mendapatkan penghargaan sebagai daerah dengan implementasi QRIS terbaik di wilayah Sumatera. Ini tentunya tidak terlepas dari kerjasama dengan BI, termasuk juga North Sumatera Invest yang menarik para investor menanamkan investasinya di Sumut,” pungkasnya. (m31)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *