Waspada
Waspada » Menkeu Ubah Prediksi Pertumbuhan Jadi -07 Hingga -06 Persen
Ekonomi

Menkeu Ubah Prediksi Pertumbuhan Jadi -07 Hingga -06 Persen

Menkeu Sri Mulyani Indrawati (Waspada/Ist)

JAKARTA (Waspada): Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merubah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini diprediksi menjadi -1,7 persen  hingga -0,6 persen. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya -1,1 persen  hingga 0,2 persen. 

“Ini artinya negative territory kemungkinan akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal IV yang kami upayakan untuk bisa mendekati 0 persen atau positif,”  ungkapnya pada ‘APBN Kita’ secara virtual di Jakarta, Selasa (22/9). 

Menkeu mengatakan, berbagai lembaga telah memproyeksi perekonomian Indonesia pada tahun ini memang berada pada zona negatif. Beberapa di antaranya adalah ADB sebesar -1,0 persen, Bloomberg sebesar -1,0 persen, dan IMF sebesar – 0,3 persen. 

“Hanya World Bank yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa 0 persen,” ujar Sri Mulyani. 

Dengan proyeksi terbaru pemerintah itu, ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 diperkirakan berada di kisaran -2,9 persen hingga -1 persen. Pada kuartal II/2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 5,32 persen.

“Jika pada kuartal III/2020 minus lagi, Indonesia otomatis masuk dalam zona resesi secara teknikal,” jelas Menkeu. 

Karena itu, lanjutnya, pemerintah melakukan all out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskal. Namun, dari konsumsi rumah tangga masih negatif. 

“Investasi juga masih dalam posisi yang cukup berat sehingga masih ada dalam zona negatif. Begitu juga dari sisi Ekspor masih akan negatif,” paparnya. 

Sementara pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi akan kembali positif, sebagaimana prediksi ADB sebesar 5,3 persen, kemudian Bloomberg tumbuh 5,4 persen , IMF sebesar 6,1 , dan World Bank sebesar 4,8%. 

“Pemerintah memproyeksi perekonomian pada 2021 bisa tumbuh 4,5 – 5,5 persen dengan titk tengah 5 persen. Tapi semua forecast ini sangat tergantung pada bagaimana perkembangan kasus Covid dan bagaimana ini berdampak pada aktivitas ekonomi,” imbuhnya.

Menyinggung tentang defisit anggaran, Sri Mulyani mengatakan, hingga Agustus 20220 defisit anggaran mengalami defisit sebesar 3,05 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp500,5 triliun. 

Defisit ini terjadi karena  pendapatan negara mencapai Rp1.034,1 triliun atau mengalami minus 13,1  persen dibandingkan realisasi tahun lalu  yang mencapai Rp1.190,2 triliun.  

“Sedangkan untuk belanja negara tercatat lebih besar hingga Rp1.534,7 triliun atau 56,0 persen dari pagu Rp2.739,2 triliun,” terang Menkeu.  

Menurutnya, realisasi belanja negara itu tumbuh 10,6 persen dibandingkan penyerapan per akhir Agustus tahun lalu yang senilai Rp1.388,1 triliun.

Menkeu katakan, bahwa defisit anggaran Indonesia tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan negara lain, seperti  India 7,2 persen defisitnya, 

Kemudian Meksiko defisit 5 persen dan kontraksi ekonomi 18 persen, Thailand defisit 6 persen dan kontraksi ekonomi 12 persen,  Filipina juga defisit 7,6 persen. 

Sementara Indonesia mengalami pelebaran defisit 6,3 persen dari yang tadinya di 1,76 persen dan defisit di kuartal dua kontraksi 5,3 persen. 

“Jadi, saya ingin sampaikan APBN semua negara alami tekanan berat, karena melakukan countercyclical karena kondisi ekonomi sedang tekanan,” tururnya. 

Adapun realisasi penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2020 tercatat senilai Rp676,9 triliun, atau 56,5 persen terhadap target APBN 2020 yang sudah diubah sesuai Perpres No. 72/2020 senilai Rp 1.198,8 triliun. 

Sebagai perbandingan, realisasi penerimaan pajak selama 8 bulan pertama pada 2019 tercatat senilai Rp802,5 triliun atau 50,9 persen terhadap target. Performa tersebut sekaligus tercatat mengalami pertumbuhan 0,4 persen. 

Dari realisasi penerimaan bea dan cukai hingga 31 Agustus 2020 tercatat senilai Rp121,2 triliun atau 58,9 persen dari target Rp205,7 triliun. 

“Realisasi ini pertumbuhan 1,8 persen dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rpb119,0 triliun,” ujar Menkeu. 

Dengan demikian, sambungnya, realisasi penerimaan perpajakan hingga Agustus 2020 tercatat senilai Rp798,1 triliun atau 56,8 persen dari target Rp1.404,5 triliun. 

“Performa ini mencatatkan kontraksi 13,4 persen, dibandingkan realisasi akhir Agustus 2019 senilai Rp921,5 triliun,” jelas Menkeu. (J03) 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2