Waspada
Waspada » Masyarakat Terbebani Resesi Dan Harga Pangan
Ekonomi

Masyarakat Terbebani Resesi Dan Harga Pangan

PAKAR Ekonomi Benjamin Gunawan. Masyarakat terbebani resesi dan harga pangan yang mahal karena pemerintah tidak menjaga stabilitas kebutuhan pokok sehari-hari. Waspada/Ist
PAKAR Ekonomi Benjamin Gunawan. Masyarakat terbebani resesi dan harga pangan yang mahal karena pemerintah tidak menjaga stabilitas kebutuhan pokok sehari-hari. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pakar Ekonomi Benjamin Gunawan (foto) mengatakan, pada dasarnya harga komoditas pangan ke depan ini semestinya bisa diperkirakan. Namun karena Pemprovsu/kabupaten/kota tidak menjaga stabilitas ketahanan kebutuhan pokok, membuat masyarakat terbebani resesi dengan harga pangan yang mahal.

Masyarakat juga  terbebani resesi dan harga pangan yang mahal akibat dampak Covid-19 dan kabar buruk di Medan maupun Sumut.

Demikian Benjamin Gunawan kepada Waspada, Minggu,(11/10) menyikapi kenaikan harga kebutuhan pangan di masyarakat saat ini.

Terutama di tengah kesulitan masyarakat yang akibat dampak pandemi ini.

Kemudian kesulitan masyarakat sebagai konsumen didukung dengan kabar buruk di kota Medan, maupun Sumut di akhir pekan ini, sehingga harga cabai merah meroket secara tiba-tiba.

Di tingkat pedagang besar saja, kata Benjamin, harga cabai sudah Rp45.000 ribuan per kg. Sementara di level konsumen, mencapai Rp60 ribuaan per/kgnya.

Begitupun yang terjadi dengan harga bawang merah mencapai Rp32.000/kg di tingkat pedagang besar. Padahal, sebelumnya hanya kisaran Rp18.000an/kg saja,jelasnya.

“Kalau sudah begini masyarakat jelas lagi-lagi dirugikan. Ini kenapa? Ini akibat Pemprovsu/kabupaten/kota tidak memiliki sistem ketahan pangan yang baik dalam menjaga kebutuhan pangan masyarakat,” ungkapnya.

“Jadi, kalau di tingkat di konsumen mencapai Rp40.000 per/kg nya saat ini. Capaian harga tersebut tentunya terbilang mahal. Baik cabai merah dan bawang merah sudah beranjak melebihi harga idealnya yang paling mahal yakni kisaran Rp33.000-an/kg nya.

“Jauh hari saya sudah mengutarakan hal ini. Bahwa ada potensi kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok khususnya bawang dan cabai dan berharap pemerintah bisa melakukan antisipasinya. Tapi, ternyata tidak.

“Menjelang bulan Muharam yang mau berakhir di bulan kemarin, saya sudah mewanti-wanti kalau nantinya akan ada lompatan konsumsi masyarakat sekitar 15% hingga 20%.

Menggeliat

Karena aktifitas hajatan masyarakat akan kembali menggeliat. Sementara itu, faktor cuaca sangat mempengaruhi sisi produktifitas dan distribusi,ujar Benjamin.

Hujan, membuat cost atau biaya mengalami kenaikan. Sehingga harga bergerak naik, ini menjadi sebuah kewajaran.

Sementara itu, PSBB yang diberlakukan di DKI dan Jawa Barat saat ini juga berpengaruh terhadap kenaikan harga komoditas pangan tersebut. Karena baik bawang merah dan cabai di Sumut ini juga ditopang stok dari wilayah lain di luar Sumut,jelas Benjamin

“Dan saya juga mengemukakan bahwa, daya beli saat ini bukan yang menjadi pendorong kenaikan harga tersebut. Karena masyarakat Sumut juga tengah mengalami resesi.

Selain itu, aktifitas ekonomi di Sumut juga melambat khususnya melihat kinerjanya selama 4 bulan terakhir.

Dikatakannya, ditengah resesi dan harga kebutuhan pangan yang mahal, ini sama aja, masyarakat sudah tidak memiliki uang ditambah pagu dengan beban dengan kenaikan garga pangan tersebut.

“Resesi sudah membuat kita miskin, dan semakin miskin saat harga pangan mahal,” pungkas Benjamin. (clin)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2