Waspada
Waspada » Krisis Akibat Pandemi Covid-19 Lebih Parah Dari Moneter 1998
Ekonomi

Krisis Akibat Pandemi Covid-19 Lebih Parah Dari Moneter 1998

KEPALA Pimpinan Pemasaran dan Konsumen Kantor Pusat PT Bank Sumut, Ramadhan Muda Siregar, Ketua PWI Sumut Hermansyah, dan pengurus PWI lainnya pada pembukaan ujian Anggota Muda dan Biasa PWI Sumut di Balai Wartawan Parada Harahap, Gedung PWI Sumut, Jalan Adi Negoro No 4 Sabtu (3/4). Waspada/M.Ferdinan Sembiring
KEPALA Pimpinan Pemasaran dan Konsumen Kantor Pusat PT Bank Sumut, Ramadhan Muda Siregar, Ketua PWI Sumut Hermansyah, dan pengurus PWI lainnya pada pembukaan ujian Anggota Muda dan Biasa PWI Sumut di Balai Wartawan Parada Harahap, Gedung PWI Sumut, Jalan Adi Negoro No 4 Sabtu (3/4). Waspada/M.Ferdinan Sembiring

MEDAN (Waspada): Krisis ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 lebih parah dibandingkan krisis moneter pada 1998.

“Ekonomi dunia tidak terkecuali Indonesia, benat-benar dibuat babak belur,” kata Kepala Pimpinan Pemasaran dan Konsumen Kantor Pusat PT Bank Sumut, Ramadhan Muda Siregar, ST.

Berbicara sebagai narasumber Ujian Anggota Muda dan Anggota Biasa PWI Sumatera Utara, Sabtu (3/4) di Gedung PWI Parada Harahap, dengan judul materi “Peran Bank Sumut dalam Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi“, Ramadhan mengatakan, kondisi tersebut dapat tertolong oleh sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Dia mengakui, masa pandemi terutama di tahun 2020 ini sangat menyulitkan, bukan hanya Bank Sumut, tetapi seluruh perbankan di Indonesia.

“Terpaan pandemi cukup berat bagi perbankan bahkan melebihi dari kasus atau pun ujian yang terjadi krisis ekonomi 1998,” kata Ramadhan.

Sebab, sambungnya, krisis ekonomi 98 kemarin mungkin hanya menerjang keruntuhan ekonomi, namun pandemi Covid-19 selain memperhatikan ekonomi, juga harus menyelamatkan nyawa manusia.

Inovasi Dan Kreativitas

Dalam menyikapi krisis ini, katanya, Bank Sumut terus melakukan inovasi dan kreativitas, meski tidak bisa dipungkiri ada penurunan aset dan laba.

“Sebagai perbandingan, kinerja Bank Sumut tahun 2020 tahun 2019 5,65 persen. Dari sisi kredit, kita mengalami penurunan 0,38%,” katanya.

Kondisi ini, katanya membuat perbankan pada tahun 2020 selektif dalam hal pemberian kredit. Sebab, kondisi ekonomi global maupun di Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

“Ada reses meski banyak negara banyak minus. Bank Sumut ada sedikit penurunan dari sisi ini, yakni di tahun 2009 dapat Rp 545 miliar, sedangkan kondisi di 2020, kita hanya peroleh Rp 515 miliar. Artinya, ada penurunan sekitar 5,5%,” lanjutnya.

Lebih jauh, katanya, tahun 2020 tidak adanya pemberian kredit, apalagi debitur kredit belum bisa melakukan pembayaran, karena aktivitas usaha mereka ada yang terhenti.

“Ada kondisi usahanya betul-betul berhenti, terutama sektor pariwisata dan sektor transportasi, ” katanya.

Untuk membantu ini, lanjutnya, bank Sumut memberi relaksasi kepada debitur dalam hal penundaan pembayaran sampai Desember 2020.

“Ini membuat Bank Sumut tidak memperoleh pendapatan bunga akibat penghentian atau relaksasi yang kita berikan kepada nasabah,” katanya.

Meski demikian, Bank Sumut lebih baik lima persen sebagai penyimbang dibandingkan dengan para perbankan secara nasional.

“Bank Sumut bisa survive dari perbankan nasional yang mengalami penurunan di atas 30% dari laba atau atau income mereka di tahun 2019,” ujar Ramadhan.

Lebih lanjut, sebutnya, dalam menyikapi ini, Bank Sumut terus memberikan solusi kepada para nasabah maupun secara perorangan maupun corporate terkait pengembangan Cash Management System (CMS).

“Termasuk untuk pembayaran pajak mobil, dan pajak kendaraan, kita lakukan semua dan Insya Allah, sebelum pertengahan tahun ini 2021, kartu ATM kita sudah berfungsi juga sebagai debit card. Artinya, kita dalam pembayaran produk sudah kita bisa kita lakukan,” ungkapnya.

Dorong Usaha UMKM

Dalam pemulihan ekonomi nasional, Bank Sumut mendapat dana dari pemerintah pusat sebesar Rp 1 triliun guna mendorong UMKM.

“Artinya alokasi Rp 1,4 triliun kita berikan untuk skim menengah, dan kecil sebesar Rp 80 miliar, dan untuk koperasi sebesar Rp 520 miliar dan realisasinya sampai bulan Maret 2021 kita sudah salurkan itu sebesar Rp 1,85 triliun, dengan pencapaian 93%,” paparnya.

Selain itu, Bank Sumut juga melakukan sapa pasar di Pusat pasar Medan dan Pasar Petisah guna mendorong aktivitas ekonomi mikro.

“Segala upaya dilakukan Bank Sumut untuk membantu pemilihan ekonomi masyarakat. Artinya, Bank Sumut selalu hadir di tengah masyarakat,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua PWI Hermansyah membuka kegiatan ujian Anggota PWI. Turut memberikan sambutan Ketua Panitia Khairul Muslim dan dipandu Rizal Surya. (m19/cdk/cbud/a36/c03/cah)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2