Kontribusi Produk Sawit Sebesar 15,6 Persen Dari Total Ekspor Non-Migas - Waspada

Kontribusi Produk Sawit Sebesar 15,6 Persen Dari Total Ekspor Non-Migas

  • Bagikan
kelapa sawit/ist

JAKARTA (Waspada): Kontribusi produk sawit pada perekonomian adalah sebesar 15,6 persen terhadap total ekspor non-migas, dan 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. 

“Industri sawit juga menyerap sekitar 16,2 juta tenaga pekerja,” kata Menteri Bidang  Perekonomian Airlangga Hartarto pada Pekan Riset Sawit Indonesia, diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara virtual, Rabu (17/11/2021). 

Dia tambahkan, industri sawit juga mendorong kemandirian energi, mengurangi emisi gas, dan mengurangi impor solar atau diesel sebesar Rp38 triliun di tahun 2020. Bahkan dengan adanya program B30 diperkirakan terjadi penghematan devisa sebesar Rp56 triliun. 

Menurutnya,kata  program mandatori Biodiesel B30 juga mendorong stabilitas harga sawit dan membuat sawit masuk dalam supercycle dengan harga sebesar US$1,283 per ton. 

“Selain itu, sawit memberikan nilai tukar kepada petani dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang juga relatif paling tinggi selama periode ini, yaitu antara Rp2.800 sampai Rp3.000 rupiah per TBS,” jelas Airlangga. 

Dikatakan, peran riset dan pengembangan serta pemanfaatan teknologi menjadi sangat penting dalam meningkatkan bargaining position negara. 

“Riset ini harus terus dilakukan agar produk sawit bisa terus memberikan nilai tambah, dan hilirnya juga perlu ditingkatkan,” tegasnya. 

Terkait dengan situasi kebun sawit, saat ini kepemilikan masyarakat masih sebesar 41 persen. Oleh karena itu, petani kecil atau smallholders dinilai perlu diberikan dukungan. 

“Terutama menghadapi isu perubahan iklim dan, hasil kebun rakyat yang selama ini lebih rendah daripada kebun yang dimiliki oleh swasta maupun BUMN,” tegas Airlangga.  

Namun diakuinya, hingga kini pemerintah belum dapat meningkatkan program Biodiesel dari campuran nabati 30 persen menjadi 40 persen pada tahun depan. Masalah pendanaan menjadi salah satu faktor yang mengganjal.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan dana dari penyertaan dari ekspor sawit yang digunakan saat ini hanya cukup untuk mendanai program B30. 

Menurut Dadan, untuk mengembangkan B40 dibutuhkan pungutan dana yang lebih besar sehingga hal tersebut menjadi pertimbangan untuk meningkatkan kualitas B30.

“Kami melihat seberapa besar kemampuan industri untuk men-support dari pungutan ekspor dan besarannya itu yang sekarang sedang disusun dan dikaji,” ungkap Dadan. (J03) 

  • Bagikan