Waspada
Waspada » Komoditas Pertanian Sumbang PDRB Produktif
Ekonomi

Komoditas Pertanian Sumbang PDRB Produktif

PENGAMAT Ekonomi Gunawan Benjamin kepada. Komoditas pertanian sumbang PDRB produktif di tengah pandemi Covid-19. Waspada/Ist
PENGAMAT Ekonomi Gunawan Benjamin kepada. Komoditas pertanian sumbang PDRB produktif di tengah pandemi Covid-19. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Komoditas pertanian sumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) produktif di tengah Covid-19.

Komoditas pertanian tetap sumbang PDRB produktif di tengah pandemi ini, sehingga mampu menumbuhkan perekonomian di Sumut.

Oleh karena itu,  Pemprovsu harus memberikan berupa kemudahan atau restrukturisasi pinjaman di sejumlah perusahaan di sektor pertanian

Demikian Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin (foto) kepada Waspada, Senin (29/6) di Medan.

Benjamin menyikapi situasi pandemi ini, mengatakan, memang sektor pertanian lah paling produktif memberikan sumbangsih PDRB.

Di sektor pertanian masib memberikan sumbangsih sekira 40 persen terhadap tenaga kerja.

Meski Benjamin mengakui, apapun upaya yang dilakukan untuk mendongkrak perekonomian dalam jangka pendek di masa pandemi ini masih minim instrumen.

Sebab, sektor pertanian juga terpukul akibat Covid ini, di mana harga produk pertanianpun terpukul.

Begitu juga dengan industri pengolahan mengalami tekanan, meskipun tidak sebesar sektor lainnya, seperti sektor keuangan atau jasa.

Namun di tengah pandemi ini, dari sisi penawaran PDRB Sumut yang bisa diharapkan hanya sektor pertanian.

Dari sini situasi ini, pemerintah akan berupaya untuk menjadi swasembada pangan.

Produk Unggulan

Sumatera Utara sendiri menjadi penyumbang terbesar perekonomiannya melalui produk unggulan yakni sawit 60 persen.

Ditambah dengan sektor pertanian lainnya. Tapi ini juga belum bisa dioptimalkan.

Apalagi, produk sawit sebagai unggulan daerah, di sektor ini memiliki produk turunan 140 jenis, namun yang baru diolah sebagai produk turunannya masih 30 jenis.

“Jadi, sangat penting pengoptimalan di produk unggulan ini, dibanding sektor lain seperti sektor keuangan maupun jasa,” ujarnya.

“Diversifikasi produk turunan sawit unggulan harus menjadi perhatian pemerintah sebagai mekanisme pertumbuhan ekonomi di Sumut,” ujarnya.

“Meski itu tidak bisa dilakukan secara instan. Tetapi kita masih bertumpu di situ,” katanya.

Untuk melakukannya secara optimal dibutuhkan paling tidak ada program yang dilakukan seperti pemberian insentif pajak.

Dengan demikian lanjut Benjamin, akan membantu sumbangsih konsumsi rumah tangga dengan daya beli masyarakat.

Pemerintah akan menduduki porsi paling besar untuk sumbangsih PDRB dan angkanya bisa mencapai 80 persen lebih.

Sementara sisanya akan banyak disumbangkan oleh investasi.

Produksi Hilir

Menyikapi produk hilir yang harus dikembangkan, dikatakan Benjamin, memang tidak mudah untuk mendongkrak pertumbuhan industri hilir di masa pandemi ini.

Apalagi, faktor pendukung untuk memenuhinya seperti infrastruktur jalan,pelabuhan, listrik dan gas masih menjadi penghambat.

Tetapi setidaknya, ada program jangka panjang yang benar-benar bisa direalisasikan.

Seperti, melakukan promosi yang berkelanjutan serta membuat produksi Hilir yang berdaya saing.

Yang selama ini terjadi, kita mengeksport bahan mentah ke negara lain. Oleh negara ekspor mengolahnya menjadi barang jadi.

Memang, kata Benjamin, ini program jangka panjang, ini tidak mudah dan butuh konsistensi.

Namun bukan hal yang tidak mungkin sehingga regulasinya mendukung terbentuknya industri hilir.

“Dengan demikian, bila produk hilir kita tumbuh kembangkan kita memiliki produk saingan yang bisa menandingi produk luar yang berdaya saing, ” ujar Benjamin

Sementara juga di sektor dan lainnya, seperti kontruksi, transportasi, jasa pergudangan dan industri lainnya terpukul dalam tiga bulan terakhir ini.

Sebagai contoh, transportasi dan jasa pergudangan selama bulan Mei 2020 ini aktifitasnya melambat hingga 40 persen.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawati mengungkapkan di masa pandemi ini di sektor hasil sawit secara umum tidak menurun secara drastis.

Artinya, tidak begitu berpengaruh. Dan pihaknya tetap melakukan peremajaan.

Diakui Herawati, pihaknya hanya mengurusi sampai menghasilkan crude palm oil (CPO).

“Sementara produk turunan lebih dikembangkan di perindustrian, namun  belum ada data riilnya,” sebut Herawati. (clin)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2