Waspada
Waspada » Kerajinan Bambu Bernilai Ekonomis Perlu Inovasi
Ekonomi

Kerajinan Bambu Bernilai Ekonomis Perlu Inovasi

PESERTA pelatihan memperlihatkan hasil kerajinan berbahan bambu. Kerajinan bambu bernilai ekonomis perlu inovasi. Waspada/Ist
PESERTA pelatihan memperlihatkan hasil kerajinan berbahan bambu. Kerajinan bambu bernilai ekonomis perlu inovasi. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Kerajinan bambu sangat bernilai ekonomis sebagai sumber penghasilan baru, sehingga perlu berbagai inovasi.

Kerajinan bambu bernilai ekonomis yang perlu inovasi inilah yang mendorong Dosen Fakultas Kehutanan Program Mono Tahun Reguler LPPM USU,

Mereka memberikan pelatihan kerajinan bambu Rumah Nauli Apik (Workshop dan ruang pamer Depatemen Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan USU)

Demikian Ketua tim pelaksana, Irawati Azhar, S Hut, MSi, bersama anggota, Dr Muhdi, S Hut, MSi.

Kata Irawati Azhar, pemberian pelatihan bagi warga desa itu bermula adanya potensi bambu yang tinggi di Desa Suka Makmur.

Hal ini sudah masyarakat gunakan untuk pembuatan keranjang.

Secara ekonomi satu batang bambu bisa menghasilkan 1-2 keranjang yang laku dijual seharga Rp 9.000.

Di sisi lain Perguruan Tinggi dalama hal ini Universitas Sumatera Utara melakukan inovasi dalam hal diversifikasi pemanfaatan bambu menjadi produk kerajinan, seperti gelas bambu, mangkok bambu, dan lain-lain.

“Secara ekonomi satu batang bambu bisa dibuat produk kerajinan bambu sebanyak 3-4 buah tergantung jenis bambu dan jumlah buku bambu.

Hasil penelitian satu buah gelas atau mangkok bambu laku terjual Rp 10.000-Rp 20.000.

“Dengan kata lain pembuatan gelas dan mangkok bambu akan memberikan nilai tambah bambu menjadi 4 kali lipatnya,” kata Irawati Azhar.

Pelatihan, katanya, sekaligus mengedukasi masyarakat melalui pelatihan pembuatan produk kerajinan bambu.

Berupa gelas bambu dan mangkok bambu, sehingga nantinya masyarakat mampu melakukan alih usaha  produk bambu.

Ini nantinya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Hasil Hutan

Yang menarik, hal ini memberikan nilai tambah pada bambu sebagai salah satu Hasil Hutan Non Kayu.

“Adapun tempat kegiatan Rumah Nauli Apik (workshop dan ruang pamer produk teknologi hasil hutan) selama sehari,” katanya.

Adapun jumlah peserta 20 orang yang langsung melatih masyarakat untuk membuat produk bambu berupa gelas dan mangkok.

Peserta terdiri atas masyarakat yang hunian mereka banyak bambu.

Kegiatan juga mengundang mitra pengabdian dari Desa Suka Makmur.

Desa Suka Makmur Kecamatan Sibolangit harusnya jadi tempat kegiatan pelatihan.

Namun sebagai antisipasi penyebaran Covid 19, pelaksanaannya ke Rumah Nauli Apik, tentu saja dengan tetap menjalankan protokol covid.

“Pada kegiatan ini masyarakat mendapat pelatihan dari mulai memilih bambu untuk kerajinan pembuatan gelas, pengeringan bambu, pengupasan dan penghalusan, sehingga menjadi produk gelas dan mangkok bambu,” ucapnya. (m22)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2