Jumlah Penduduk Miskin Sumut 1.343,86 Jiwa

  • Bagikan
Foto Ilustrasi: Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pada Maret 2021 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 1.343,86 ribu jiwa atau sebesar 9,01 persen terhadap total penduduk Provinsi Sumatera Utara.
Foto Ilustrasi: Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pada Maret 2021 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 1.343,86 ribu jiwa atau sebesar 9,01 persen terhadap total penduduk Provinsi Sumatera Utara.

MEDAN (Waspada): Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pada Maret 2021 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 1.343,86 ribu jiwa atau sebesar 9,01 persen terhadap total penduduk Provinsi Sumatera Utara.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi, dalam siaran persnya yang disampaikan secara virtual lewat kanal Youtube, Senin (2/8) menyebutkan, jumlah penduduk miskin tersebut meningkat jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2020.

“Tercatat jumlah penduduk miskin sebanyak 1 283,29 ribu jiwa atau sebesar 8,75 persen pada Maret 2020, dimana terjadi pertambahan jumlah penduduk miskin sebanyak 60,57 ribu jiwa pada periode Maret 2020 – Maret 2021, dengan peningkatan persentase penduduk miskin sebesar 0,26 poin,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, jika dibandingkan dengan keadaan semester lalu pada September 2020, dimana jumlah penduduk miskin sebanyak 1.356,72 ribu jiwa dengan persentase 9,14 persen, terjadi penurunan jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 sebanyak 12,86 ribu jiwa dan penurunan persentase penduduk miskin sebesar 0,13 poin.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2020 – Maret 2021, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,43 ribu jiwa sedangkan di perdesaan turun sebanyak 12,43 ribu jiwa.

“Persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 9,25 persen menjadi 9,15 persen, demikian pula di perdesaaan, turun dari 9,02 persen menjadi 8,84 persen,” sebutnya.

Sementara itu, berdasarkan Garis Kemiskinan yang merupakan besaran jumlah rupiah yang ditetapkan sebagai suatu batas pengeluaran minimal untuk menentukan miskin atau tidaknya seseorang, sangat dipengaruhi oleh faktor harga pasar komoditas yang dibeli dan dikonsumsi, yang cenderung naik dari waktu ke waktu, sehingga garis kemiskinan cenderung selalu meningkat dari waktu ke waktu.

“Penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Pada Maret 2021 Garis Kemiskinan di Sumatera Utara sebesar Rp525.756,- per kapita per bulan. Untuk daerah perkotaan, garis kemiskinannya sebesar Rp543.085- per kapita per bulan, dan untuk daerah perdesaan sebesar Rp504.685,- per kapita per bulan,” ujarnya.

Dibandingkan dengan September 2020, lanjutnya, garis kemiskinan Sumatera Utara pada Maret 2021 naik 4,06 persen yaitu dari Rp505.236,- perkapita per bulan menjadi Rp525.756,- perkapita per bulan.

Garis kemiskinan di perkotaan naik 4,33 persen, yaitu dari Rp520.529,- perkapita per bulan menjadi Rp543.085,- per kapita per bulan. Sedangkan garis kemiskinan di perdesaan naik 3,71 persen dari Rp486.642,- perkapita per bulan menjadi Rp504.685,- per kapita per bulan.

Dengan memerhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), bahwa peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2021 sebesar 75,15 persen.

Disebutkan, pada Maret 2021, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap Garis Kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (19,56%) maupun di perdesaan (27,65).

“Empat komoditas makanan lainnya penyumbang terbesar Garis Kemiskinan di perkotaan adalah rokok kretek filter (12,60%), tongkol/tuna/cakalang (4,11%), telur ayam ras (3,74%), dan cabe merah (3,35%). Demikian juga di perdesaan, empat komoditas makanan lainnya penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter (11,35%), telur ayam ras (3,15%), tongkol/tuna/cakalang (3,15%), dan Cabe Merah (3,10%),” sebutnya.

Untuk komoditas bukan makanan, biaya perumahan masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (6,95%) maupun di perdesaan (5,41%). Empat komoditas bukan makanan lainnya penyumbang terbesar Garis Kemiskinan di perkotaan adalah listrik (3,61%), bensin (3,32%), biaya pendidikan (2,39%), dan perlengkapan mandi (1,29%).

Sedangkan di perdesaan, empat komoditas bukan makanan lainnya penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan adalah bensin (2,58%), biaya pendidikan (2,11%), listrik (1,81%), dan perlengkapan mandi (1,30%). (m31)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.