Jumlah BPR Dan BPRS Menurun Dampak Program Konsolidasi

  • Bagikan
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Heru Kristiyana dalam Launching Roadmap Pengembangan Industri BPR dan BPRS 2021-2025, Selasa (30/11/2021).  (Ist)

JAKARTA (Waspada): Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, per September 2021 jumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) menurun dampak dari program konsolidasi atau merger sejak 2015. 

Saat ini jumlahnya menjadi 1.646, kantor, dengan rincian 1.481 BPR dan 165 BPRS tersebar di seluruh Indonesia. 

“Adapun, BPR maupun BPRS terbanyak berada di Pulau Jawa dan Bali,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Heru Kristiyana dalam Launching Roadmap Pengembangan Industri BPR dan BPRS 2021-2025, Selasa (30/11/2021). 

Dia mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, roadmap BPR dan BPRS masih melakukan program konsolidasi.

“Jumlah BPR dan BPRS ini terus menunjukkan konsolidasi atau terus menurun, ini menandakan bahwa penguatan permodalan yang sudah kita dorong untuk terus meningkat, karena memang tantangannya semakin besar,” ujar Heru 

Menurutnya, penurunan tersebut direspon oleh industri BPR untuk melakukan berbagai aksi korporasi, termasuk konsolidasi.

Penurunan jumlah BPR dan BPRS di Indonesia terlihat dalam rentang 2015 hingga September 2021. Jumlah BPR mengalami penurunan sebesar 156 BPR sejak 2015, akibat merger atau konsolidasi. 

Pada 2016, terdapat 1.799 BPR dan BPRS. Lalu, berkurang 13 menjadi 1.786 pada 2017.  Penurunan terus berlanjut pada 2018 menjadi 1.764 BPR dan BPRS. 

Pada 2019 berkurang lagi sebanyak 55 menjadi 1.709. Kemudian pada 2020 menurun sebanyak 40 BPR dan BPRS, yakni menjadi 1.669.

Seiring dengan aksi konsolidasi yang dilakukan, sejumlah BPR dan BPRS digolongkan menjadi 3 kategori. Hingga September 2019, BPRKU 3 dengan modal inti di atas Rp50 miliar tercatat memiliki sebanyak 71 BPR.

Lalu, BPRKU 2 dengan modal inti Rp15 miliar hingga Rp50 miliar sebanyak 272 BPR. Terakhir, BPRKU 3 dengan modal inti kurang dari Rp15 miliar sebanyak 1.138 BPR.

Heru menyampaikan BPR dan BPRS menunjukkan kinerja positif meskipun berada dalam tekanan pandemi Covid-19. Tercermin dari sisi pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), hingga kredit atau pembiayaan. 

Per September 2021, total aset BPR dan BPRS tumbuh 8,90 persen yoy atau Rp178,393 miliar. Lalu, penyaluran kredit tumbuh 4,33 persen yoy atau Rp126,141. Kemudian, DPK tumbuh sebesar 11,27 persen atau 123,764 miliar.

Pada risiko kredit, BPR mencatat rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) secara gross dan net masing-masing sebesar 7,53 persen dan 5,02 persen per September 2021. 

Sedangkan pada BPRS, rasio pembiayaan macet (non-performing financing/NPF) secara gross dan net masing-masing tercatat sebesar 7,94 persen dan 6,56 persen per September 2021. (J03) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *