Jumlah Angkatan Kerja Meningkat, Pengangguran Di Sumut Bertambah

  • Bagikan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, Syech Suhaimi saat menyampaikan perkembangan jumlah angkatan kerja di Sumut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, Syech Suhaimi saat menyampaikan perkembangan jumlah angkatan kerja di Sumut.

MEDAN (Waspada): Jumlah penduduk usia kerja mengalami tren cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Sumatera Utara (Sumut). Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) pada Agustus 2021 sebanyak 10,87 juta orang, naik 167 ribu orang dibanding Agustus 2020 dan naik 92 ribu orang dari Februari 2021.

Sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja yaitu 7,51 juta orang (69,10 persen), sisanya termasuk bukan angkatan kerja. Komposisi angkatan kerja pada Agustus 2021 terdiri dari 7,04 juta orang penduduk yang bekerja dan 475 ribu orang pengangguran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, Syech Suhaimi menyebutkan, apabila dibandingkan Agustus 2020, jumlah angkatan kerja Agustus 2021 terjadi peningkatan sebanyak 161 ribu orang. Penduduk bekerja juga mengalami peningkatan sebanyak 194 ribu orang dan pengangguran menurun sebanyak 33 ribu orang.

“Namun, apabila dibandingkan kondisi Februari 2021, jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak 32 ribu orang. Penduduk bekerja naik sebanyak 6 ribu orang dan pengangguran bertambah sebanyak 26 ribu orang,” ungkap Syech Suhaimi dalam siaran persnya, Jumat (5/11).

Dia juga menjelaskan, sejalan dengan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mempunyai pola yang sama. TPAK pada Agustus 2021 sebesar 69,10 persen, naik 0,43 persen poin dibanding Agustus 2020, namun turun sebesar 0,29 persen poin dibanding Februari 2021.

“Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki sebesar 81,90 persen lebih tinggi dibanding TPAK perempuan yang sebesar 56,50 persen. Apabila dibandingkan Agustus 2021, baik TPAK laki-laki maupun TPAK perempuan mengalami kenaikan, tetapi jika dibanding Februari 2021 TPAK laki-laki mengalami penurunan sebanyak 0,70 persen poin,” jelasnya.

Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2021, tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yaitu sebesar 35,62 persen; Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 18,08 persen; dan Industri Pengolahan sebesar 9,70 persen.

Sedangkan tiga kategori lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar jika dibandingkan dengan Agustus 2020 adalah Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,56 persen poin); Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (0,19 persen poin); dan Jasa Perusahaan dan Jasa Pendidikan (masing-masing 0,14 persen poin).

“Sementara tiga lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja paling besar adalah Perdagangan Besar dan Eceran (0,44 persen poin); Transportasi dan Pergudangan (0,43 persen poin); dan Jasa Lainnya (0,30 persen poin),” ujarnya.

Syech Suhaimi juga menyebutkan, apabila dibandingkan dengan Februari 2021, tiga lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja adalah Industri Pengolahan (0,69 persen poin); Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,25 persen poin); dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (0,18 persen poin).

Sementara tiga lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan terbesar adalah Jasa Keuangan dan Asuransi (0,27 persen poin); Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (0,26 persen poin); dan Pertambangan dan Penggalian (0,16 persen poin).

Pengangguran Terbuka

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumut berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2021 sebesar 6,33 persen. Hal ini menunjukkan dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar enam orang penganggur.

“Pada Agustus 2021, TPT mengalami penurunan sebesar 0,58 persen poin dibandingkan Agustus 2020, namun mengalami peningkatan sebesar 0,32 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021,” sebut Syech Suhaimi.

Pada Agustus 2021, TPT perkotaan (8,35 persen) lebih tinggi lebih dari dua kali TPT di daerah
perdesaan (3,96 persen). Sedangkan menurut kategori pendidikan, TPT dari tamatan SMK merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya yaitu sebesar 8,36 persen. Sementara TPT yang paling rendah adalah mereka dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah yaitu sebesar 3,71 persen.

Terdampak Covid-19

Sementara itu, penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 dikelompokkan menjadi empat komponen yaitu, Pengangguran Karena Covid-19, Bukan Angkatan Kerja (BAK)Karena COVID-19; Sementara Tidak Bekerja Karena Covid-19; dan Penduduk Bekerja yang Mengalami Pengurangan Jam Kerja Karena Covid-19.

Penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 pada Agustus 2021 sebanyak 814 ribu orang, mengalami kenaikan sebanyak 120 ribu orang atau sebesar 14,74 persen dibandingkan dengan Februari 2021.

Komposisi penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 terdiri dari 84 ribu orang pengangguran karena Covid-19; 28 ribu orang Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19; 59 ribu orang sementara tidak bekerja karena Covid-19; dan 643 ribu orang penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19.

“Keempat komponen tersebut mengalami kenaikan dibandingkan Februari 2021 kecuali komponen Bukan Angkatan Kerja karena COVID-19. Kenaikan terbesar adalah komponen penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 sebanyak 80 ribu orang,” jelasnya.

Dilihat dari daerah tempat tinggal, penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 terdiri dari penduduk perkotaan sebanyak 598 ribu orang dan penduduk perdesaan sebanyak 216 ribu orang pada Agustus 2021.

“Pada semua komponen dampak Covid-19, persentase penduduk perkotaan jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Pada komponen bukan angkatan kerja karena Covid-19, kontribusi penduduk perkotaan yang terdampak mencapai 82,14 persen atau lebih dari empat kali lipat dibanding penduduk perdesaan,” tandasnya. (m31)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *