Jokowi Minta K/L Dan Pemda Tidak Bedakan Investor Besar Atau Kecil - Waspada

Jokowi Minta K/L Dan Pemda Tidak Bedakan Investor Besar Atau Kecil

  • Bagikan
Presiden Joko Widodo (ist)

JAKARTA (Waspada): Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (Pemda) agar pelayanan terhadap investor dilakukan dengan sebaik-baiknya, tidak membedakan investor besar atau kecil. 

“Dilayani dengan baik saja belum tentu investor datang, apalagi tidak dilayani dengan baik, Oleh sebab itu pola-pola lama, hal-hal jadul semua harus kita tinggalkan,. Jangan membefa-bedakan investor besar atau kecil, ” tegas Jokowi secara virtual (24/11/2021). 

Menurutnya, pelayanan terbaik harus diberikan kepada investor mulai dari yang kecil hingga investor besar. “Yang namanya usaha-usaha kecil itu juga investor, jangan keliru,” ujarnya. 

Salah satu contoh pelayanan kepada investor kecil, kata Jokowi, adalah melalui pemberian izin usaha secara gratis. Pasalnya, perizinan menjadi syarat para pengusaha tersebut bisa mengakses modal usaha melalui perbankan atau lembaga keuangan lainnya. 

Jokowi mengingatkan, ada banyak manfaat ekonomi jika ada banyak investasi yang masuk baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh  Indonesia. Setidaknya roda perekonomian mulai bergerak sehingga sektor konsumsi turut tumbuh. 

Pertumbuhan 

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berkisar 3,2 – 4,0 persen dan di tahun 2022 berkisar 4,7-5,5 persen. 

Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi. 

Hal ini didukung vaksinasi, pembukaan sektor ekonomi, dan stimulus kebijakan. Sinergi kebijakan yang erat dan kinerja perekonomian tahun 2021 menjadi modal untuk semakin bangkit dan optimis akan pemulihan ekonomi Indonesia yang lebih baik pada tahun 2022,” tuturnya dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2021 yang digelar secara hibrida (daring dan luring). 

Penguatan sinergi dan inovasi ditujukan untuk menciptakan imunitas masal dari pandemi Covid-19 dan pembukaan kembali sektor ekonomi prioritas, mendorong pemulihan ekonomi dalam jangka pendek melalui kebijakan peningkatan permintaan, serta memperkuat pertumbuhan yang lebih tinggi dalam jangka menengah melalui kebijakan reformasi struktural. 

Jokowi pun dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas sinergi dan komunikasi yang terjalin intens dan baik diantara jajaran otoritas, baik antara BI, OJK, LPS, dan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan. 

“Jokowu menambahkan, sinergi yang kuat menjadi kunci dalam mengelola dampak varian delta Covid 19 terhadap perekonomian nasional di 2021, sehingga setiap permasalahan kecil dapat terselesaikan. Ke depan, Presiden RI juga mendorong untuk dikembangkannya ekonomi hijau dan memperkuat digitalisasi ekonomi, khususnya UMKM.

Respons bauran kebijakan BI yang bersinergi dengan kebijakan ekonomi nasional akan terus  mengawal perekonomian pada tahun 2022. Inflasi rendah dan terkendali pada sasaran 3±1% pada tahun 2022, didukung oleh kenaikan kapasitas produksi nasional melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam memenuhi kenaikan permintaan agregat di dalam perekonomian. 

Defisit transaksi berjalan rendah, pada kisaran 1,1-1,9% pada 2022. Stabilitas sistem keuangan terjaga, kecukupan modal tinggi, dan likuiditas melimpah. Dana Pihak Ketiga dan kredit akan tumbuh 7,0-9,0 persen dan di 2022 diprakiraan 6,0-8,0% persen.. 

Ekonomi-keuangan digital akan meningkat pesat. Pada tahun 2022, nilai transaksi e-commerce diprakirakan akan mencapai Rp530 triliun, uang elektronik Rp337 triliun, dan digital banking lebih Rp48 ribu triliun. (J03)

  • Bagikan