Waspada
Waspada » IHSG Terpuruk, Rupiah Melemah
Ekonomi

IHSG Terpuruk, Rupiah Melemah

Kinerja Rupiah pada perdagangan Kamis (11/6) pagi bergerak menguat di kisaran level 13.920 per Dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut melemah, dibuka turun 0.5% di level 4.895,72.
Kinerja Rupiah pada perdagangan Kamis (11/6) pagi bergerak menguat di kisaran level 13.920 per Dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut melemah, dibuka turun 0.5% di level 4.895,72.

MEDAN (Waspada): Pasar keuangan global pada perdagangan Senin (9/3) mengalami sentimen negatif. Hal itu menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk dalam dan Rupiah melemah di level 14.365 per US Dolar.

Sejumlah saham perbankan menjadi motor IHSG terpuruk. BBRI, BBNI, BBCA hingga ASII kompak mengalami pelemahan yang cukup dalam.

“Pasar keuangan global terpuruk dalam hari ini (Senin-red). IHSG pada perdagangan hari ini ditutup turun di level 5.136,80 atau sekaligus menjadi level terendah IHSG selama sesi perdagangan berlangsung. IHSG terjungkal 6.57% dalam sesi perdagangan hari ini,” kata pengamat pasar keuangan Sumut, Gunawan Benjamin.

Sementara itu, mata uang Rupiah diperdagangkan melemah di level 14.390 per US Dolar. Rupiah sendiri juga mengalami keterpurukan seiring dengan memburuknya sejumlah sentimen global pada hari ini.

“Kondisi pasar keuangan hari ini benar-benar membukukan kinerja yang sangat buruk. Panik selling mewarnai pasar keuangan pada hari ini,” ujarnya.

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia jenis WTI yang anjlok 22% juga mempengaruhi sejumlah saham berbasis komoditas turun pada hari ini. Harga minyak jenis WTI anjlok dikisaran $32 per barel. Sementara itu harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan dikisaran $36 per barel. Kepanikan arab Saudi akibat serangan virus corona menjadi pemicu murahnya harga minyak dunia saat ini.

Menurutnya, kondisi pasar keuangan global benar-benar terpuruk. Investor dilanda kepanikan seiring dengan pecahnya perang Turki– Rusia. Ditambah penyebaran Corona yang semakin meluas, serta bertambahnya jumlah pasien corona di Indonesia.

“Semua sentimen tersebut menggiring pada kekhawatiran akan adanya tekanan lanjutan pada pasar keuangan global pekan ini. Semua sentimen mengarah kepada hal buruk yang bisa membuat pasar keuangan kolaps. Kondisi pasar keuangan kita pada hari ini benar-benar berada dalam tekanan serius. Investor dibuat bingung berinvestasi,” ujarnya.

Dia menyebutkan, tidak ada satupun negara di dunia ini yang dinilai terbebas dari tekanan pasar keuangan. Dan tidak ada satu negara yang menjanjikan keuntungan serta terhindar dari penyebaran virus corona.

“Semua tekanan mengarah kepada kemungkinan resesi yang lebih besar di masa yang akan datang. Pasar keuangan tidak lagi menarik, seiring dengan terpuruknya pasar keuangan global yang dimotori oleh terkoreksinya bursa saham di Amerika dan China,” katanya.

Emas Mengkilau

Namun demikian, Gunawan mengatakan, produk investasi emas saat ini jadi mengkilau. Harga emas melompat tinggi di saat sejumlah instrument keuangan lainnya mengalami pelemahan.

“Emas saat ini bertengger dikisaran $1.687 per ons troynya. Jika dikonversi ke dalam Rupiah harga emas saat ini sudah meroket menjadi Rp780 ribu per gram, dengan kurs 14.346 per US Dolar,” jelasnya.

Menurutnya, ekspektasi harga emas akan naik menjadi Rp1 juta per gram bukanlah isapan jempol. Terlebih jika penyebaran corona berlanjut, perang AS Turki meluas, hingga masalah tekanan ekonomi makro dunia.

“Semuanya berpeluang mengarah kesana sejauh ini. Dan saya menilai apa yang terjadi saat ini bisa jadi merupakan pertanda awal dari potensi kenaikan harga emas lebih signifikan,” pungkas dosen UISU ini. (m41)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2