Waspada
Waspada » Hasil Panen Petani Terkuras Untuk Biaya Pompanisasi
Ekonomi

Hasil Panen Petani Terkuras Untuk Biaya Pompanisasi

Seorang petani sedang berada di lahan sawah Cot u Sibak, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara yang tidak mendapat suplai air irigas. Petani mengeluh terpaksa mengeluarkan biaya untuk bisa mengairi sawah, foto diambil beberapa waktu lalu. Waspada/dok
Seorang petani sedang berada di lahan sawah Cot u Sibak, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara yang tidak mendapat suplai air irigas. Petani mengeluh terpaksa mengeluarkan biaya untuk bisa mengairi sawah, foto diambil beberapa waktu lalu. Waspada/dok

LHOKSUKON (Waspada) : Meskipun Aceh Utara telah membangun irigasi, masih banyak petani setempat belum mendapat suplai air ke lahan sawah mereka. Ratusan petani Kecamatan Lhoksukon, Meurah Mulia, Nibong, Tanah Luas dan beberapa kecamatan sekitarnya terpaksa mengeluarkan dana tidak sedikit untuk biaya mengairi sawah.

Menurut Ismail, Geusyik  Cot U Sibak, Kecamatan Lhoksukon kepada Waspada, Selasa (4/2) salura irigasi yang dibangun di Cot Gupok pada tahun 2012, sampai sekarang belum bisa difungsikan. Saluran tersebut tidak tersambung dengan sumber air di saluran Irigasi Matang Baro. “Seandainya sudah tersambung ke Matang Baro, air akan lancar mengalir ke sawah kami,” jelas Ismail.

Akibat tidak berfungsi saluran di Cot Gupok, ratusan hektare lahan sawah petani tak mendapat suplai air. Seluas 350 ha sawah di Cot U Sibak terpaksa menggunakan pompa, agar bisa mengairi tanaman padi. “Saluran yang dibangun di Gampong Cot Gupok, tidak mampu mengairi air ke lahan sawah. Petani harus menggunakan pompa menyodot air dari Buket Seuntang,” tambah Ismail. Biaya untuk membeli bensin pompa air, juga tidak sedikit.

Kondisi serupa juga dialami sejumlah petani kecamatan lain di Kabupaten Aceh Utara. Seperti, petani Kecamata Nibong, Tanah Luas dan petani Kecamatan Meurah Mulia. Menurut Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) setempat, para petani terpaksa menggunakan pompa untuk mengairi sawah. Setiap kali panen, petani mengeluarkan biaya pompanisasi yang dikelola secara swadaya.

Ketua HKTI Aceh Utara Zarkasyi mengatakan, jumlah biaya untuk mengairi sawah sesuai dengan luas lahan. Dalam setiap 1.600 meter sawah, mereka mengeluarkan gabah sampai 60 kilogram untuk biaya pompanisasi. “Kondisi seperti ini sangat memberatkan petani,” tegas Zarkasyi. Apalagi masih banyak biaya lain juga harus dikeluarkan, sehingga para petani Aceh Utara masih sulit keluar dari kemiskinan.

Sementara itu Pemkab Aceh Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat mengakui, masih banyak lahan sawah lain yang berlum teraliri irigasi. Diantaranya, Kecamatan Seunuddon, Tanah Jambo Aye, Baktiya, Baktiya Barat, Lapang dan Lhoksukon.

“Hari ini ada rapat di Bappeda provinsi terkait sosialisasi SID (Survey Investigasi dan Desain-red) daerah irigasi kewenangan pusat,” jelas Kadis PUPR Aceh Utara Edi Anwar, ST. Dalam kesempatan itu, pihaknya akan menyampaikan tentang areal sawah Aceh Utara yang belum mendapat layanan irigasi.  (b15)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2